Waktu, hal yang sering kali tak sama dengan yang aku mau begitu pula kamu. Waktu yang mempertemukan kita, berawal dari obrolan kecil tentang sebuah konsep pekerjaan berlanjut hari berikutnya dimana kita sama sama terjebak dalam ruang yang sama dan pekerjaan berbeda dengan tuntutan sama. Waktu yang membuatku akhirnya memilih untuk sedikit mengalihkan pandanganku dari pekerjaan dan sedikit mencuri pandang kearahmu yang sedang pula bekerja dengan hal yang kusebut dengan "skill seni". Waktu yang akhirnya pula membuatku tau kamupun sedikit mencuri pandang kepadaku. Sampai pada waktu yang berikutnya pandangan kita saling bertemu tanpa sengaja dan dihiasi perasaan malu. Untuk detik selanjutnya aku mulai terkagum dengan pria pemain musik yang satu ini, dan waktu pun tau kapan malam penuh pencurian ini berakhir.

Waktu yang telah menempaku menjadi sosok wanita pemberani ini akhirnya menempatkanku pada pertanyaan beranikah aku mencarinya, laki laki yang berhasil membuatku mencuri pandang ? beranikah aku walaupun hanya lewat sosial media ? kedengaran tidak elegan memang ketika seorang wanita berlari kecil ke arah laki laki sementara belum tau pasti apakah laki laki itu siap lelah untuk sama sama berlari kecil mencari dan menemukan, tapi setidaknya dengan aku tau diapun mencuri pandang kepadaku dan melempar sedikit senyuman hangat mungkin kita bisa pula menjadi teman biasa dengan obrolan hangat. Aku beranikan diri mengomentari cover lagu yang dia unggah ke sosial medianya dan akhirnya dimulai dari kita sedikit mengobrol sampai bertukar informasi mengenai hal hal yang kita anggap menyenangkan yang ternyata sama antara aku dan dia.

Advertisement

Lagi lagi sang Waktu bermain peran sebagai penentu bahwa kita ternyata mempunyai ketertarikan yang sama dan akhirnya memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan. Dalam hubungan kita, aku sangat mengaggumi sosokmu, tak pernah aku temukan laki laki yang mampu merubah cara berfikir wanita kaku seperti aku menjadi lebih baik dan semakin baik. Kukagumi semua tentangmu, sosok sederhana pemilik tutur yang selalu halus budi yang selalu baik, pemilik film dan musik favorite yang sama denganku. Begitu pula dengannya berulang kali dia mengatakan beruntungnya dia bersamaku karena berbagai hal. Waktu membuatku merasa teramat bahagia karena Tuhan akhrinya menjawab doaku untuk mempertemukanku dengan laki laki yang tepat pada waktu yang tepat pula. Wanita paling bahagia dan beruntung, itulah aku saat itu….

Sampai pada akhirnya Tuhan berusaha menegur kesombonganku di waktu yang tidak tepat. Saat semua harapanku dan harapannya telah sama sama tergantung tinggi, prinsip hidup berkata lain. Waktu kita telah berakhir…. tidak ada jalan yang lebih baik selain berpisah, begitulah perkataanmu. Duniaku seolah hancur, kebahagianku pergi, aku menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk menangisi kebodohanku. Aku terus menggerutui kebodohanku di waktu yang lalu, kebodohan yg menjadi alasanmu memilih pergi, akupun menggerutu mengapa waktu bahagia kita hanya sebentar ? Siapa yang harus aku salahkan ? Mengapa sang pemilik waktu seolah-olah hanya melemparkan lelucon kepadaku yang membuatku tertawa sebentar lalu kembali menangis, mengapa?

Dan sampai pada waktu selanjutnya namamu tetap ada, bukannya aku tak berusaha melupakanmu seperti saranmu sementara kenyataanya aku mati matian menghapus "kita" dan melupakan waktu bersamamu. Sungguh aku tak pernah menemukan sosok sepertimu dalam hidupku itulah yang membuatku teramat susah melupakanmu tapi aku terlalu lemah, aku terlalu terjebak dalam kebahagiaan lampau kita.

Advertisement

Waktu, akhirnya membantuku menjawab kenyataan pahit ini bahwa semua hal pasti akan berakhir cepat atau lambat. Waktu pula telah menjawab pertanyaanku bagimana contoh laki-laki baik yang selama ini ingin aku temui. Mungkin nanti waktu pula yang akan menjawab mengapa aku dan dia dipertemukan hanya untuk dipisahkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya