Sudah lama sekali aku tak membuka laptopku untuk sekedar menuangkan apa yang ada dalam pikiranku dan apa yang ingin aku sampaikan.

Akhir – akhir ini ada yang membuatku tersadar atas apa yang selama ini aku lalui. Ini adalah tentang keyakinan dan pilihan. Keyakinan disini bukan tentang kepercayaan atau agama, tapi lebih kepada keyakinan mengapa kamu mengatakan "Iya" untuk menerima lamaran atau ajakan seorang laki – laki yang ingin meminangmu.

Advertisement

Sebenarnya aku sendiri tak bisa memastikan seberapa yakin pada kekasihku dan mengapa aku yakin terhadapnya, ada banyak pertimbangan dan perbandingan di luar sana jika ingin mencari yang baik dari yang terbaik. Namun ada satu hal yang membuatku mantap bersanding dengan kekasihku untuk melangkah ke pelaminan, aku melihatnya memiliki tekad dan kemauan untuk masa depan kami, meskipun saat itu tidak terlihat sama sekali potensi apa yang ia miliki selain cinta untuk membahagiakanku kelak. Seperti kekasihku yang sebelumnya, dia bukan orang yang mapan, bukan anak dari keluarga terpandang, dan masih belum meliki pengahasilan yang meyakinkan, dan kenapa aku begitu mantap mengatakan "Iya" pada kekasihku ini adalah dia punya tanggung jawab dan kemauan yang kuat untuk selangkah lebih baik.

Seiring berjalannya waktu, keyakinkan perlahan goyah, kemauan yang kuat dan kerasnya dunia membuat kami jatuh bangun, baik dalam hubungan personal ataupun finansial. Banyak hal yang membuat mataku terbuka tentang apa itu dunia dan bagaimana dunia memperlakukan kita saat kita lelah, "Aku lelah" , "Aku ingin beristirahat", itulah ungkapan yang sering terlontarkan, meskipun kita lelah siapa yang peduli? waktu tetap berjalan, arus terus mengalir, kita tidak bisa berhenti hanya karena lelah pada dunia.

Semua ini membuatku tersadar, manisnya cinta saat pacaran tak selamanya membuatmu tersenyum lebar, ada sakit, tangis dan sesal yang mewarnainya. Keyakinanku untuk bersama kekasihku berubah menjadi sebuah pilihan, pilihan untuk bahagia atau tidak. Semua yang kulalui adalah pilihanku, dan semua ini aku tak bisa menyalahkan siapapun, karena aku tahu banyak konsekuensi yang akan aku terima "That's your choice"

Advertisement

Aku memilih bahagia, setidaknya membahagiakan diri sendiri, berharap pada orang lain terlalu menyakitkan. Mempercayai diri sendiri dan yakin bahwa dengang bahagia bisa membuatku lebih tenang, dan saat ini aku bisa mengatakan "Aku bahagia, karena aku yakin akan pilihanku". Lebih banyak bersyukur atas jalan yang kita lalui akan menjadikan hati ini semakin tenang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya