"Anak pertama, sulung kasih, pengarang jantung. Tempat tertambatnya kasih dan sayang orang tua untuk yang pertama kalinya".

Tepat 10 hari, hari ini, perdana aku belajar dipisahkan oleh jarak dengan sulung, putra pertamaku.
Tidak jauh, hanya 6 jam perjalanan mobil, itu jika mobil dipacu dengan kecepatan rata-rata 60 kilometer per jam.
Jika dipacu lebih kencang lagi, tentu akan lebih cepat lagi sampainya.

Advertisement

Belum lagi sehari kami dipisahkan oleh jarak, rasanya sudah seminggu, sebulan, atau bahkan mungkin lebih.
Agak berat, apalagi jika harus dijabarkan dengan kata-kata.
Semacam rindu, tapi bukan rindu. Semacam kesal, tapi sepertinya bukan kesal.
Yang pasti, bikin mewek dan inginnya cepat-cepat bertemu.

Perasaan ini juga yang membuatku ingat akan almarhum Bapak.
Ingat dan mencoba menerka, bagaimana perasaannya yang aku tinggal 15 tahun lamanya itu.
Apakah ia sedih, rindu, kesal, ataukah perasaannya juga sama denganku, tak juga dapat diungkapkan dengan kata-kata?

Entahlah, yang terasa, sejak 15 tahun lalu itu, pembicaraan kami tak lagi cair.
Kadang formal. Kadang cuek. Kadang juga excited sekali mengangkat telepon, jika lama tak kutelepon.

Advertisement

Ngomongin komunikasi via telepon!
Jika boleh jujur dalam 15 tahun ini, sangat jarang teleponku khusus dialamatkan kepadanya, kepada Bapak.
Karena selalu terpikir olehku, ia baik-baik saja.
Tak rindu. Padahal aku yakin, sama halnya denganku saat ini, ia sangat merindukanku.

Seingatku, sering ia mengangkat teleponku dan ingin memulai mengobrol lama denganku, tapi terputus oleh pertanyaan, "Emak lagi di mana?"
Sering juga ia ingin bertanya kabar, kemudian terputus oleh pertanyaan, "Mak masak sambal apa? Sudah makan apa?"

Dan terus begitu, hingga pembicaraan kami benar-benar putus sejak setahun lalu.
Sejak ia ke luar dari rumah sakit itu.

Jika dibandingkan dengan Emak yang sering bahkan selalu mengalamatkan cemburunya, nanya kenapa jarang telepon, kenapa tidak nanya kabar, kenapa tidak memberitakan hal baik.

Itu tidak berlaku dengan Bapak.
Tak pernah ia mengaku rindu, berkeluh minta ditelepon, dan mengadu kalau sepi.
Apalagi cemburu dengan Mak yang selalu jadi alamat dan tujuan telepon rinduku.

Jika kubandingkan dengan kondisiku saat ini, yang tak seberapa, tak secuil kukupun.
Bapak sungguh penyandiwara yang ulung, bahkan mungkin level advance.
Sandiwara, kalau ia tak rindu dan tak kesepian.

Ahh! Semoga keluhku ini tak menggelisahkan engkau di alam sana.

Do’aku, semoga Kau tenang di alam sana.
Ditempatkan Allah SWT di Surga, bersama laki-laki lain yang bertanggungjawab atas kewajibannya terhadap anak.

Bagi kalian yang belum mengalamatkan rindunya buat Bapak.
Alamatkanlah, setidaknya sampaikan bahwa kalian merindukannya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya