Hari sabtu yang ceria di Museum Layang-Layang

Sebagai penghuni kota terpadat di Indonesia (baca: Jakarta), aku sama sekali tidak asing dengan polusi, macat, ruangan ber-ac, dan tentunya, telpon genggam yang selalu setia mendampingi aku setiap saat. Meskipun aku anak kota, masa kecilku tidak luput dari permainan layang-layang.

Walau tahun tepat penemuan permainan layang-layang tidak diketahui, keberadaan permainan tersebut sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Penemuan bukti permainan layang-layang tertua terletak di berbagai tempat, salah satunya Tiongkok dan Indonesia. Gua Muna yang terletak di Maluku menjadi sorotan para sejarawan ketika ditemukannya lukisan atau cave painting yang menunjukkan sebuah sosok manusia yang menarik sebuah jala dengan suatu objek berbentuk belah ketupat terikat pada ujungnya.

Advertisement

Para sejarawan melakukan sebuah observasi dan menemukan bahwa lukisan tersebut berumur 30,000 tahun[i]. Sebelum penemuan ini, layang-layang dispekulasikan menjadi penemuan bangsa Tionghoa. Layang-layang yang ditemukan tebuat dari sutra dan sebuah rangka bambu, akan tetapi, layang-layang tersebut hanya berumur 2,800 tahun[ii]. Maka dari itu, bisa disimpulkan bahwa jejak historis awal mula permainan layang-layang sesungguhnya ada di tanah air sendiri!

Kegunaan layang-layang bukan sekedar untuk dimainkan saja. Tahukah kamu bahwa layang-layang juga digunakan oleh para ilmuwan, seperti Wright Brothers, Alexander Graham Bell, dan Alexander Wilson, untuk menelitikan cuaca sampai dengan menyelidiki teori penerbangan untuk pesawat? Selain alasan ilmiah, layang-layang juga diterbangkan dalam berbagai ritual dan upacara dari seluruh dunia.

Dari Jepang, sebuah layang-layang diterbangkan dalam rangka menyambut kelahiran bayi laki-laki. Di Malaysia dan Korea, layang-layang dipercaya dapat mengusir roh jahat. Dengan begitu banyak kegunaannya, tidak heran jika permainan yang kerap dikenal sebagai permainan anak kecil malah mendapat museum tersendiri.

Advertisement

Di Jalan H. Kamang, terletak di daerah Pondok Labu, terdapat Museum Layang-Layang. Museum Layang-Layang tidak seperti museum pada biasanya, justru museum ini merupakan tempat terbuka yang mempunyai 3 bangunan utama, yakni museum layang-layang, museum lukisan, dan ruangan audiovisual. Sebelum memulai keliling museum, pengunjung harus terlebih dahulu membeli tiket masuk di loket karcis.

Untuk biaya sebesar Rp15.000,00 para pengunjung dapat menikmati fasilitas museum, lengkap dengan tuntunan sang pemandu. Secara kebetulan, ketika aku mengunjungi museum ini, aku ditempatkan dengan grup yang terdiri atas dua orang pelajar dan beberapa turis, maka ini menjadi kesempatan baik bagiku untuk mencari tahu sebanyak mungkin tentang permainan layanng-layang. Setelah membeli tiket, pemandu menuntun kami ke ruangan audiovisual, dimana dimainkan sebuah video mengenai layang-layang.

Dalam video tersebut, kami diperlihatkan festival layang-layang yang pernah diselenggarakan di pihak museum. Orang-orang berbondong-bondong menarik layangan seiring pesisir pantai untuk menerbangkan berbagai jenis layang-layang, yakni layangan kreasi, layangan tradisional, dan layangan olahraga. Layang-layang tersebut pun beraneka ragam, mulai dari layangan berjenis janggan (layangan tradisional untuk ritual hujan), layangan-2 dimensi, layangan 3-dimensi, dan layangan kendali bersusun.

Museum ini sudah menggelar ratusan festival dan di berbagai negara pun, terakhir kali pada bulan Januari lalu di India. Dari festival tersebut pun, museum ini telah melahirkan berbagai kreasi layangan yang spektauler, salah satunya ialah layangan jenis janggan yang mempunyai ekor sepanjang 250 meter dan lebar sebesar 9 meter.

“Layangan [sebesar] itu 20 orang yang memegang sama 20 orang yang menarik.” Ujar Pak Asep, pemandu museum yang sudah bekerja selama 12 tahun. Pak Asep juga merupakan pengrajin layang-layang yang handal juga, lho! Karyanya yang paling ia sukai merupakan layangan 3-dimensi berbentuk ikan koi. Katanya, seni membuat layangan kental di dalam keluarganya, sebagaimana bapaknya sendiri merupakan pengrajin layang-layang yang karyannya dipajang di museum ini sendiri.

Selanjutnya, rombongan kami dibawa kedalam bangunan museum layang-layang. Untuk menjaga kebersihan museum, para pengunjung diminta untuk melepas alas kaki sebelum memasuki gedung. Di dalam museum tersebut, layang-layang dari berbagai daerah; bangunan itu dipenuhi layang-layang tradisional dari Indonesia maupun mancanegara.

Di antara lain, layangan tradisional Indonesia merupakan pecukan, jangggan, lenbulenan, bebean, dan layang daun lontar dari berbagai daerah seperti Madura, Mampang, Cilacap, dan Bali. Di sebuah ruangan kecil di ujung museum dinobatkan khusus untuk layang-layang dari negara asing, termasuk layangan dari Thailand yang dijuluki chula dan layangan Malaysia yang disebut wau. Sangat wow, bukan?

Setelah menikmati peraagaan layang-layang, kami dipandu ke beranda gedung dimana Pak Asep menggelar sebuah papan kayu. Dalam sekejap, aku tahu benar bahwa kami semua akan diminta membuat sebuah layangan. Pak Asep menyiapkan arka atau rangka bambu kecil dan kertas roti yang dipotong untuk memuat kerangkanya.

Kami diberikan crayon untuk menggambar di kertasnya dan lem untuk merekatkan kertas kepada rangkanya. Setelah melihat koleksi layangan yang begitu megah, aku merasa termotivasi untuk mengeluarkan sisi kreatifku demi mencetuskan sebuah layangan yang setidaknya bisa terangkat ke udara.

Perlu diketahui bahwa Museum Layang-Layang didirikan oleh Ibu Endang Ernawati. Beliau mempunyai hobi untuk mengoleksi layang-layang, sampai akhirnya, ia membuka sebuah museum. Ia berhasil mewujudkan mimpinya untuk mengajak berbagai kalangan masyarakat untuk melihat keajaiban permainan layang-layang melalui sudut pandangnya.

Museum Layang-Layang secara resmi dibuka pada 21 Maret 2003, dan semenjak itu telah memegang beberapa rekor Indonesia untuk koleksi layang-layangnya, bahkan mendapat penghargaan dari Menteri Kebudayaan & Pariwisata dalam bidang “Inovasi Kepariwisataan Indonesia”.

Melalui museumnya, Ibu Endang tidak hanya memberikan wawasan para masyarakat awam mengenai kesenian permainan layang-layang, tetapi juga memotivasi para pengunjung museum untuk berkreasi, berkarya, dan tentunya, main layang-layang.

“Ya… ini kan mainan leluhur kita. Jangan sampai hilang aja.” Ujar Pak Asep, selagi merekatkan kertas roti pada rangkai layangan.

Siang itu, kami menerbangkan layang-layang buatan tangan kami di halaman Museum Layang-Layang. Walaupun layanganku tidak terbang tinggi (hehehe), aku merasa bangga sudah membuat layangan dengan dua tanganku sendiri. Museum ini membuktikan bahwa layang-layang mempunyai masa lalu yang penuh makna, dan (semoga), mempunyai masa depan yang cerah.

Bagi yang tertarik, museum ini buka setiap hari, pada jam 9:00 – 16:00, kecuali di hari libur nasional.

__________________________________________________________

[i] http://www.drachen.org/article/just-how-old-kite-cave-painting

[ii] en.gocelebes.com/kaghati-worlds-first-kite/

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya