Terima kasih untukmu, yang dulu kuperjuangkan dengan susah payah namun tak pernah kumiliki. Kamu yang pernah mengajakku berjalan bersama, namun pada akhirnya kita memilih jalan berbeda. Kamu yang pada akhirnya memberi kabar di hatiku, bahwa cinta bisa melukai dan bisa membahagiakan.

Sejak hari perjumpaan kita hingga akhirnya engkau memilih berlalu dari sisiku, aku masih mengingatmu. Aku mengenangmu pada sudut-sudut kota ini. Setiap jalan yang pernah kita lewati, memanggilku kembali pada kenangan dan ingatan yang rapuh. Aku memikirkanmu saat langit kosong di kotaku masih menjanjikan gerimis. Aku masih bertanya sendiri pada malam: Apa kabarmu, apa kabar hatimu dan apa kabar perasaanmu. Meski pertanyaan-pertanyaan itu tak menemui jawaban.

Advertisement

Engkau telah berlalu. Pergi. Memberi sepotong luka yang sulit kujelaskan namun mudah untuk kau namai sebagai ikhlas. Aku merasakannya sendiri di sini. Aku pernah merintih, marah dan terpekur di setiap bisuku. Aku pernah mengutuk pertemuan denganmu dan tak memaafkan takdir. Aku bahkan mati-matian menjebloskanmu dalam pikiranku sebagai orang jahat yang tak berperasaan. Aku pernah begitu tersiksa menahan rindu-rinduku padamu yang tak bisa kuceritakan pada orang lain.

Pergimu sudah sudah selesai kutangisi. Benci perlahan-lahan mundur dari hatiku. Dendam pun tak mendapatkan cukup energi lagi untuk berlama-lama di kalbuku. Aku menyerah pada waktu yang membawamu pergi. Aku berguru pada musim yang tak lagi menghadirkanmu. Tak mampu lagi memberi petunjuk untuk menujumu. Membiarkan malam menjelaskanmu sebagai pelajaran. Tak berhenti mengharapkan hujan membawa pergi sedih dan tangisku. Akhirnya aku selesai. Aku berhenti.

Terima kasih untuk cintamu, yang selalu kau berikan tanpa menghitungnya. Untuk kasih sayangmu, yang selalu kau perlihatkan tanpa menuntut. Juga untuk segala baikmu yang tak pernah usai dalam tahun-tahun terbaik kebersamaan kita. Untuk segala waktu yang kau luangkan di saat-saat sibukmu hanya untuk melihat senyumku.

Advertisement

Terima kasih, kita pernah berjuang bersama untuk meraih mimpi. Untuk setiap senyummu yang memompa semangatku, sepasang bola matamu yang meneduhkan kalbu, dan lembut tuturmu yang mengusir gelisah.

Kita pernah merancang mimpi untuk hidup bersama, dan pernah saling mendoakan dalam hening. Melewati ruang-ruang angan dengan optimis.

Terima kasih, pernah menjanjikan rumah kecil yang hangat dengan sepasang anak kecil yang manis. Kita tak sampai ke sana, kita terhenti di separuh perjalanan.

Terima kasih pernah ada di hatiku dengan begitu baik, dengan begitu banyak bahagia yang tak mampu kulupakan. Meskipun pada akhirnya engkau pergi, terima kasih sekali lagi pernah menyambangi hatiku yang dulu belum mengenal luka.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya