Apa kabar kamu? Masihkah ingat dengan kalimat itu?

Dulu adalah kamu satu-satunya manusia yang selalu mengatakan pertanyaan yang sama. Dulu adalah kamu manusia kedua setelah kedua orang tuaku yang selalu menanyakan sedang apa aku hari itu. Dulu adalah kamu manusia yang akan marah ketika aku hilang tanpa kabar seharian.

Advertisement

Sekarang bolehkah aku menanyakan pertanyaan yang sama seperti kebiasaanmu saat itu? Dimanakah kamu? Sedang apa kamu? Masih ingatkah dengan aku?

Aku tidak akan mengganggumu atau menanyakan tentang bagaimana kisah cinta barumu. Tidak, sebab aku tahu diri. Aku hanya manusia yang ketika sendiri aku menjadi ingat lagi tentang beberapa kenangan yang kita buat selama ini.

Iya, itu adalah kita yang dulu berkenalan dengan cara yang tidak pernah diduga. Aku adalah anak rumahan dan kamu adalah manusia yang bebas lepas. Kita berbeda. Semua orang mengatakan kita tidak bisa bersama. Tapi anggap saja saat itu aku memaksa.

Advertisement

Aku menerima tawaranmu dengan rela untuk menemani kamu dalam suka duka. Hingga saat ini, aku masih ingat yang aku katakan kepadamu adalah aku bersedia. Aku mengira bahwa saat itu semua tawa yang kita buat adalah untuk selamanya.

Bahwa di atas motormu malam-malam adalah kebahagiaan yang akan terus kita lakukan bersama. Tapi, ternyata hipotesisku salah. Aku dan kamu ternyata tidak menjadi kita. Sebab aku telah melihatmu menjadi orang yang berbeda.

Perlahan, jarak kita merenggang. Tawa-tawa kita menghilang dan yang dapat kamu lakukan hanyalah diam. Katamu, "Tunggulah aku sampai aku baik-baik saja." Aku mempercayaimu, sebab itu aku selalu menunggumu kembali. Tanpa sadar, aku sudah melukai diriku sendiri.

Percayalah, jika saat itu kamu tahu, aku merasa sama sekali sudah tidak mengenalmu. Apakah ada yang salah dengan caraku mencintaimu? Untuk itu, kamu harus tahu bahwa aku sebisa mungkin memberikan apapun yang kamu mau. Nyatanya, kamu tetap menjauh. Faktanya, ternyata kamu sudah menemukan yang baru.

Aku dulu marah kepadamu, atas apa yang telah kamu lakukan dengan sengaja kepadaku. Masih jelas kata-katamu bahwa aku tidaklah sebaik wanita itu. Masih sangat tajam hinaanmu, bahwa aku tidak lebih baik dari dirimu.

Hai, kamu. Kalau saja saat itu aku memang tidak sebaik kamu dan dia, mungkin aku sudah di dalam penjara karena membunuh kalian berdua. Dua orang yang sudah sangat sengaja membuat luka di hatiku terus menganga.

Hai, kamu. Kalau saja saat itu aku bisa mengatakan dengan lantang, aku ingin bilang bahwa "Tidak ada wanita baik-baik yang merebut milik orang." Tapi, saat itu semua yang aku lakukan adalah percuma. Bicara denganmu adalah sia-sia. Sebab bagaimanapun, matamu sudah dibutakan oleh dia.

Aku hanya bisa diam. Merelakan semua diambil olehnya. Kamu, hatimu, dan kebahagiaan kita. Aku sendirian, tanpa sisa. Hanya beberapa luka, seperti sayatan, tidak terlihat tapi bisa aku rasakan. Bahkan hingga sekarang.

Sekarang setelah enam bulan, aku perlahan mengikhlaskan. Semua suka duka yang sudah aku lakukan bersamamu, anggap saja itu adalah cara Tuhan menjadikan aku sebagai penolongmu. Anggap saja, aku adalah orang yang pernah dengan sangat keras menemanimu. Ketahuilah, aku baik-baik saja. Aku tidak apa-apa.

Jadi, apa kabar kamu hari ini? Apa kabar pula wanita yang sudah merebutmu dariku, yang sekarang ternyata telah meninggalkanmu? Aku harap, kalian sudah merasakan bagaimana cara Tuhan memberikan balasan. Aku harap semoga kalian sadar bahwa apa yang kalian jalin dulu adalah terlarang.

Hai, kamu. Terima kasih telah kembali datang dan menawariku menjadi teman. Tapi, maaf jika aku memberi jarak yang cukup renggang. Sebab bagiku, kita sekarang sudah berbeda. Aku sudah tahu bagaimana kamu dalam versi aslinya. Aku sudah paham bahwa kita tidak akan pernah lagi sama. Bagiku, kita dulu adalah asing yang saling menemukan. Dan sekarang, kita kembali menjadi asing yang saling melupakan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya