4 tahun yang lalu aku dan kamu bukanlah siapa-siapa selain hanya sebatas teman. 4 tahun yang lalu rasaku biasa saja padamu, tak ada yang spesial. 4 tahun yang lalu, aku tak pernah menyangka akan terluka sedalam ini. Semua bermula dari 4 tahun yang lalu.

Sejak awal kita bersama kamu sudah menyakinkan aku bahwa aku akan menjadi pelabuhan terkahirmu. Aku tak mempercayaimu, namun sikapmu selalu membuktikan. Selama 4 tahun kita bersama kita sudah banyak melalui banyak hal. Aku yang merupakan wanita yang tidak mudah bersosialisasi, pada akhirnya berjuang untuk bisa masuk ke dalam pergaulanmu dan keluargamu.

Advertisement

Aku yang merupakan wanita biasa yang ingin melihatmu sukses, pada akhirnya berusaha berjuang membantumu menyelesaikan skripsimu. Aku tidak hanya menyemangatimu, namun aku turut berjuang. Aku yang merupakan wanita sederhana yang ingin memiliki calon imam yang mapan, pada akhirnya memaksamu untuk menabung hingga pada akhirnya kau mampu membeli barang-barang mewah sekarang. Tidak, aku tidak bermaksud untuk meminta pengakuanmu. Aku hanya ingin mengingat kembali perjuangan kita selama ini karena bagiku semua itu memliki arti penting dalam perubahan hidup kita.

Sebelum kulanjutkan, aku lupa belum bertanya tentang kabarmu. Hai, apa kabarmu Tan, wahai mantan? Apa kau pernah merindukanku sekali saja seperti aku yang selalu merindukanmu? Kita hidup sebagai orang asing sekarang. Kamu sama sekali tidak pernah menyapaku bahkan sekalipun.

Inti tulisanku ini sebenarnya adalah aku hanya ingin berterima kasih kepada kamu wahai mantan. Terima kasih karena kamu sudah mengajarkanku cara mencintai dan dicintai. Terima kasih karean selama 4 tahun ini kamu mau mensia-siakan waktumu untuk mencintaiku. Namun bagiku, 4 tahun ini bukan waktu yang sia-sia. Aku sangat amat mencintaimu, bahkan hingga detik ini. Tetapi rasa cinta dan berterima atas semua kekurangan dan kelebihanmu ternyata masih tidak cukup bagimu. Aku tak tahu lagi apa yang kau cari karena rasanya aku sudah memberikan semuanya untukmu. Ya semuanya.

Advertisement

Tapi yasudahlah, mungkin aku memang masih belum baik untukmu. Aku berterima kasih saja karena selama ini kau sudah memberikan kebahagiaan yang aku ragu apakah aku akan menemukan kebahagiaan seperti itu lagi. Akankah ada orang yang aku cintai seperti aku mencintaimu. Aku berterima kasih karena dengan kamu meninggalkanku begitu saja, kamu sudah mengajarkan rasa kehilangan yang sangat mendalam. Rasa kehilangan yang membuat hidupku seperti hancur namun pada akhirnya aku harus bangkit. Terima kasih karena sudah mengajarkanku untuk melanjutkan hidup meski harus dengan merangkak dan menyeret luka. Aku berterima kasih dan aku tidak menyesali itu.

Pesanku, aku hanya ingin kamu bahagia. Dengan siapapun kamu besok, tolong perlakukan wanita itu dengan sebaik-baiknya melebihi baiknya kamu terhadap aku. Jangan sakiti wanita itu, cukup aku saja yang merasakan rasanya tersakiti olehmu. Semoga kelak kamu tidak akan pernah merasakan apa yang aku rasakan. Semoga kamu selalu bahagia. Aku akan selalu mendoakan hal-hal baik padamu karena aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin kamu bersedih ataupun terluka. Terima kasih atas waktumu selama 4 tahun ini Tan, wahai mantan. Salam dariku untuk keluargamu yang sangat aku sayangi dan teman-temanku yang sangat menyenangkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya