Yogyakarta, salah satu kota yang harus diberikan lantai dua. Karena ia kini penuh dengan pendatang yang tinggal di lantai satu. Kota yang telah melahirkan jutaan sarjana. Saksi bisu jutaan mahasiswa diwisuda. Sejak dulu –ketika rumah kost belum begitu popular— kota ini sudah dikenal sebagai kota pelajar. Atau jika tidak, kota ini adalah kota budaya. Alangkah indahnya ketika keharmonisan budaya bisa disandingkan dengan ilmu pengetahuan.

Saat jutaan ilmuwan yang dilahirkan universitas, dengan waktu yang sama, kota Jogja juga mengajarkan nilai budaya di dalamnya. Dan itu semua mungkin hanya bisa ditemukan di kota berlabel istimewa ini. Tidak perlu panjang lebar mendeskripsikan kota Jogja. Cukuplah satu kata; istimewa!

Ketika hari minggu adalah hari istirahat bagi mereka para pekerja, hari libur untuk mereka pegawai dan pelajar. Namun tidak dengan segelintir kaum seperti kami. Ketika seorang teman bertanya- “Mas aslinya (memang saya palsu?) mana mas? Maksud saya Jogjanya di mana?” Mendengar pertanyaan itu, sebetulnya sudah tidak asing lagi di telinga saya. Saya pastikan, dia bukan orang pertama yang mengira saya penduduk asli kota ini.

Sambil tersenyum saya katakan, “Saya asalnya dari Belitung, Mbak.” Sontak ia kaget dengan jawaban yang saya berikan. Dengan wajah heran dan mengisyaratkan, bahwa ia sangat tidak percaya dengan jawaban saya. Sekilas ia menggambarkan tentang saya dengan kata-katanya, “Maaf, Mas. Tapi dari wajahnya, Mas seperti orang Jawa. Gaya bicaranya juga. Tidak ada kemiripan dengan orang Sumatera,

Lagi, kata yang demikian keluar darinya bukanlah pertama kali kudengar. Dia adalah orang yang kesekian, yang berkata demikian. Berselang beberapa saat setelah kami sibuk di depan layar dengan pekerjaan masing-masing, tiba-tiba kembali ia bertanya, “Memangnya Mas nggak kangen sama keluarga?” Sebelumnya, saya sempat bercerita kalau saya jarang pulang ke Belitung.

Advertisement

Kembali, saya hanya tersenyum. Bukan karena tidak memiliki jawaban. Hanya saja, pertanyaan tersebut telah ia jawab sendiri. “Hehehe… Maaf mas, nanyanya begitu. Pastilah kangen, ya Mas? Haduuhhh…" Dalam waktu yang sama, saya sempat berpikir. "Mengapa saya begitu betah di kota ini? Apakah saya lupa dengan desa di mana saya dilahirkan? Apa yang telah dijamu kota Jogja untuk saya? Apakah benar saya kini sudah terjebak nyaman di kota ini?"

Begitu banyak pertanyaan lain yang terbersit. Namun satu kalimat yang kini sangat membekas, Memangnya Mas nggak kangen sama keluarga?”

2010 adalah tahun di mana kaki ini mulai dilangkahkan. Mulai berpijak di tanah jawa, melangkah, dan berjalan di kota Jogja serta berdiri dan tertunduk hormat di kota budaya yang Istimewa. Sejak awal, masa penjajakan hingga kini, begitu banyak pergantian fase. Dari jumlah detik ke detik yang lain, menit ke menit yang lain, jam, hari, bulan, bahkan tahun ke tahun yang lain. Akan tetapi, ada satu yang tidak pernah tergantikan. Sebuah nama yang disebut alamat.

Gang Mangga adalah saksi perjalanan hidup saya, sejak masih dalam penjajahan hingga kini saya sudah merdeka (dari biaya orang tua hehehe…). Kebroan (desa) yang saat itu masih jaman jahiliyah hingga kini terang benderang, bahkan hingar bingar oleh lampu dan hiburan yang datang dari XT SQUARE setiap malamnya. Sungguh saya adalah orang yang setia. Bagaimana tidak?

Tinggal di ruang berukuran 3×3 yang dinahkodai seorang nenek — yang bahasa setempat disebut “mbah”– saja, saya masih tetap bertahan. Perlu diketahui, bahwa kost ini sangat strategis. Selain dekat dengan tempat keramaian XT SQUARE, kost ini juga sangat dekat dengan perkampungan orang sebelah (kuburan). Yang terpenting adalah kost ini terletak diantara dua kampus Sang Pencerah hingga jalan kecil di depannya sering digunakan sebagai jalur alternatif oleh mahasiswa kere karena tak memiliki helm.

Ah, sudahlah! Lain kali, akan kuceritakan tentang sebuah kata yang bernama “kost”. Seperti biasanya, aku lupa sekarang sudah hidup pada detik ke berapa. Sarjana matematika pasti akan langsung menghitung dan tahu bahwa kini sudah memasuki tahun ke lima. Namun sayangnya, saya adalah sarjana bahasa. Ya, tepat sekali! Kini saya tidak lagi menyandang status mahasiswa, melainkan telah menjadi bagian dari jutaan sarjana yang diwisuda di kota ini.

Mengapa hingga kini saya masih saja di kota ini? Belajar hidup yang disebut “legowo”, berjalan di depan warganya seraya mengucapkan “monggo”, mengkonsumsi hidangan khas mahasiswa bernama “burjo”, berkomunikasi menggunakan bahasanya walaupun hanya sebatas “iso" dan "ojo”. Apakah tidak ada ruang rindu untuk keluarga? Ingin rasanya kubertanya kepada sarjana Geologi atau bahkan Geografi. Sekedar ingin tahu, berapa jarak kota ini menuju rumah? Bertanya pada sarjana matematika, sekedar ingin tahu berapa jumlah detik dalam sewindu.

Rindu, makhluk apa sih kamu? Kuyakin sarjana matematika tidak akan mampu mengkalkulasi jumlah rindu. Sarjana biologi yang tidak akan mengerti zat apa itu rindu. Sarjana fisika yang bingung akan ion rindu. Sarjana pertambangan yang tak akan mampu mengukur kedalaman rindu dari perut bumi. Sarjana hukum yang tidak akan tahu pasal tentang rindu. Tapi mengapa sarjana sastra dan bahasa senantiasa bermain kata tentang rindu?

Sementara ketika rindu itu datang, lidah mereka akan kaku dan kelu. Sungguh kau makhluk astral yang bersembunyi indah dalam diri ini. Hingga setiap mereka yang datang, selalu mengira tidak ada rindu untuk mereka yang bernama keluarga. Hingga ketika malam dan hujan berkata,

“Kamu sedang rindu.”