Duapuluh tahun. Bukan umurku, hanya saja itu jarak usiaku dengan kekasihku saat ini. Duapuluh tahun bagi sebagian orang bukanlah jarak yang wajar bagi sepasang kekasih, termasuk bagi teman-temanku. Mereka selalu berkata “yakin? Usia kalian ibarat bapak dan anak lho.”

Aku tak pernah bisa memilih kepada siapa aku akan jatuh cinta. Intensitas pertemuan kami yang cukup sering selama 4 tahun terakhir ini yang membuat perasaan itu mulai tumbuh. Terlebih segala bentuk perhatian yang ia tujukan kepada keluargaku membuat aku sedikit banyak menjadi semakin luluh dengannya.

Advertisement

Tidak banyak yang mengetahui mengenai sejauh mana hubungan ku dengan dia. Bahkan aku menutup rapat dari keluarga ku. Aku takut jika kluargaku mengetahui hubunganku dengan dia. Aku yakin mereka akan menentangnya.

Ya, aku tau ketika aku memutuskan untuk bersama dia aku harus menyiapkan segala kemungkinan terburuk. Masalah keyakinan, kami tidak ada masalah. Namun usia kami menjadi halangan bagi kami untuk menjalin hubungan secara serius. Beberapa kali aku menyerah karena merasa tidak ada harapan untuk hubungan kami kedepannya.

Kisah cinta yang aku alami pun silih berganti, menggoreskan sakit pada hati yang berujung pada kembalinya aku dipelukkannya. Perpisahan merupakan pikiran yang terkadang aku buang jauh-jauh dengan kisah cinta yang telah aku alami. Berat jika harus melepaskan dia, sosok yang selama 4tahun terakhir menemaniku. Mau menerimaku meskipun aku terkadang memilih menyerah dengan keadaan.

Advertisement

Namun, semakin lama, pemikiranku semakin realistis. Apakah mungkin aku bersatu dengan dia? Apakah mungkin keluargaku dapat menerimanya? Duapuluh tahun perbedaan usia kita. Oohhh Tuhannnn…. Aku mencintai dia namun apakah mungkin?

Pertanyaan-pertanyaan mulai berkecamuk dalam otakku. Membuat aku seakan kehilangan arah. Aku seakan berada ditengah hutan, namun tak tau arah mana yang akan aku pilih. Sampai kapan aku akan menjalani cerita cinta seperti ini? Ingin bertahan, namun banyak hal yang perlu aku pikirkan. Jika aku dan dia memang tidak dapat bersatu, aku hanya berharap Tuhan untuk menghapus perasaanku kepadanya. Namun, jika memungkinkan aku bersamanya tunjukkan jalan agar segalanya dilancarkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya