“Din, belum makan siangkan, ni aku belikan kamu nasi uduk diwarung depan” radit menyodorkan satu bungkus nasi tepat dihadapanku, seperti biasa dia akan selalu membawa bungkusan nasi atau makanan apapun saat tau aku tidak keluar istirahat siang, dan disusul cie-cie nya teman-teman yang lain, aku dan radit seakan terbiasa dengan itu, dan entah mengapa aku begitu bahagia, aku menikmati setiap bentuk perhatian radit, aku merasa ada yang berbeda, ya, ada cinta disini, dan entah mengapa, aku merasa radit juga sama. Kadang aku tersenyum geli ketika begitu percaya diri memikirkannya, perempuan biasa dengan wajah seadanya, tampilan pun sederhana, apa iya radit tertarik denganku, tp, kenapa tidak, bukankah apapun bisa terjadi kalau sudah ditakdirkan, dan mungkin radit takdirku.

Aku dina, usiaku 24 tahun, persis seperti yang ku bilang tadi, aku adalah gadis sederhana dan sangat biasa, tak ada yang spesial denganku, aku banyak disibukkan oleh duniaku sendiri, bekerja disebuah perusahaan penerbit adalah impianku sejak dulu, dan itu juga yang membuatku selalu semangat mengerjakan tugas tanpa keluh. Begitu juga hari ini, dihadapkan dengan seabrek tugas tak memudarkan senyumku sedikitpun, aku menikmatinya.

Advertisement

“terimakasih radit” dengan senyuman aku mengambil bungkusan dari tangan radit, “memang yang gratis lebih nikmat” sambungku yang kemudian memancing tawa radit “bukan tanpa balasan lho, besok bantuin aku rekap laporan bulanan ya”, bujuknya sambil senyum menunjukkan gingsul kanannya “ga mau” kataku sambil melanjutkan mengetik laporanku “ pasti mau” katanya lagi sambil berlalu menuju tempat duduknya. Hmm.. entah sampai kapan aku tidak pernah bisa menolak permintaan radit, bahkan disaat aku harus merelakan malamku berlalu didepan laptop untuk mengetik.

***

Waktunya pulang, aku merapikan meja dan melangkah keluar, namun sesampai didepan langkahku terhenti karena butiran hujan yang semakin lebat mengguyur bumi. Aku memilih untuk menunggu sejenak didepan kantor. “ Din, Ga pulang?” radit yang telah siap tempur dengan jas hujan tiba-tiba berada tepat didepan ku, “ ga dit, ga bawa jas hujannya, tunggu bentar lagi”,

Advertisement

“sendiri?” tanya radit sambil melihat sekeliling kantor yang mulai sepi.

“sepertinya”

Tak menunggu lama radit tampak mamatikan motornya, dengan pasti membuka jas hujannya dan kemudian datang duduk disampingku

“tunggu hujan reda juga lah” katanya sambil tersenyum kearahku

Aku hanya terdiam, sejenak kehangatan menyelimuti hatiku, ada bahagia yang begitu nyata terasa.

“Din!, kayanya hujannya sudah ga begitu lebat, kamu bisa jalan pelan, karna bentar lagi maghrib ini”

“ya dit” kataku, sambil beranjak menuju motorku, begitu juga radit yang kembali menghidupkan motornya. Kami meninggalkan kantor secara bersamaan dan berpisah dipersimpangan jalan menuju arah pulang masing-masing.

***

Jarum jam menunjuk angka 02.00 malam. Hening, hanya ada suara desir angin dan gesekan pohon mangga yang berada tepat disamping didepan jendela kamar kos ku, banyak hal yang terlintas dipikiranku, beberapa kali mencoba menutup kelopak mataku, tetap saja dia memaksa dan kembali terbuka, banyak pertanyaan yang tak kunjung ku dapat jawabnya, aku dilemma antara membiarkan rasaku tumbuh atau membunuhnya sebelum semakin besar.

Ah! Kenapa aku menjadi begitu perasa? Bukankah dulu aku tidak begitu tertarik dengan hal seperti ini? Kuputuskan menyumpal kedua kupingku dengan headset dan beberapa lagu menghantarku tertidur.

***

Siang ini aku tertarik untuk menuju kantin kantor, membayangkan bakso dengan kuah yang kutambah cabe dan jeruk nipis membuat liurku nyaris keluar.

“kak! Bakso kaya biasa ya” kataku sambil menuju sebuah meja yang kosong

“sama kak” radit yang tiba-tiba muncul langsung duduk didepanku. Entah kenapa suasana terasa aneh, ku sadari otak dan hatiku sedang berdebat kali ini, hati yang sudah mulai tersenyum centil tersadar ketika otak mengutuknya tak tau diri. Stop!

Akupun membalas senyumnya “kamu tau kenapa bakso bulat?” kataku mencoba memecah suasana

“kenapa?” tanya radit sambil mengernyitkan keningnya.

“jawab dulu” kataku

“karena ga petak” jawabnya asal

“iya betul” sontak aku mengiyakan jawaban radit, karena pada kenyataannya aku juga tidak tau bualan apa yang ku lemparkan barusan, tapi yang pasti aku hanya ingin meyakinkan pada diriku bahwa pertemanan ini begitu asik, kenapa harus berharap lebih jauh.

“itu aja? garing!” katanya sambil menyeruput kuah bakso yang telah diantar penjaga kantin.

“biarin” kataku, bodo amatlah memang aku tidak pernah berhasil dengan candaan, kata mereka aku terlalu serius dan susah diajak asik. Tanpa peduli aku terus melahap baksoku

“selalu menarik” ujarnya

What? hampir saja aku menelan bulat bakso yang sedang dimulutku, untungnya aku berhasil mengontrol emosiku dan berpura tidak mendengar apapun, jangan terlalu berharap Dina.

***

Aku memutuskan langsung kembali kekantor dan meninggalkan Radit yang menyempatkan diri bertegur sapa dengan salah satu temannya dikantin, aku berjalan pelan, menikmati debat hati dan otakku. Aku merasakan jantungku berdegub kencang dan wajahku memanas ketika aku menemukan banyak alasan dan bukti bahwa Radit betul-betul menyukaiku, dan sebaliknya, ada sudut yang kecewa saat otak menemukan beberapa alasan agar aku lebih realistis, karena sesungguhnya Radit adalah seorang yang sangat ramah pada siapapun.

“Din” terdengar suara radit dari belakangku, kali ini aku memutuskan tidak menoleh, mempercepat langkahku seolah tidak mendengar apa-apa. Argh… rasanya ingin mengutuk diri sendiri, kenapa aku tidak pernah bisa bersikap santai dan biasa saja, saat ini aku yakin pipiku telah memerah dan omonganku tidak akan terarah jika bertatap muka dengannya.

“Din, tunggu”

Sial, dia berlari mengejarku, jantungku pun berdegub semakin kencang.

Sempurna, dia tepat disampingku kali ini.

“Din, sebenarnya aku mau bilang”

“apa?” tanyaku, penasaran tanpa menoleh.

“Besok datang kerumah ya? bantuin persiapan acara lamaran!”

Sakit! petir serasa menyambarku dari segala sisi, dan sakitnya lagi, aku harus tersenyum didepannya tepat saat hatiku hancur berkeping-keping.

“selamat”

Kataku lalu melanjutkan langkahku meninggalkannya, langkah ku gontai, ini memalukan, tapi apa daya ku, tak ku sangka ternyata sesakit ini, untung saja cinta bertepuk sebelah tangan ini belum terlalu dalam.

“Din!” dia kembali menyusulku “Datang ke rumahku, karena ibuku memintaku untuk membawa calon istriku, aku ingin memperkenalkan kamu ke ibu ku diacara lamaran Adik perempuanku, mau kah kau datang?”

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya