Kebanyakan orang yang bilang, saya terlalu paranoid dalam keadaan yang terjadi saat ini. Jarang keluar rumah, diajak temen pergi ke mall dan tak mau kalau ngumpul tidak datang terlalu introvert. Padahal yang ngomong begitu tahu, sebelum wabah corona ini aku sering lebih suka berdiam diri di rumah. Keberbagai cafe ataupun di mall ya dan jalan-jalan cuma sekedar menjernihkan mata saja. Kalau untuk belanja tak repot-repot harus membeli langsung, kebanyakan ditunda.
Sekarang ini banyak orang memperlukan kebutuhan yang diinginkan dalam pikiran. Kalaupun dituruti, mungki saya bisa tergolong kecanduan shopaholic, sebab belanja itu sangat menyenangkan diri sendiri. Menurut pendapat saya, seorang shopaholic memiliki harga diri yang rendah. Itulah sebab ia mendapatkan apa yang bisa mengangkat harga dirinya untuk menghadapi orang lain agar percaya diri. Selain banyak begitu rintangannya, seorang shopaholic juga cenderung materialistis dan kesulitan dalam mengontrol impuls. Tentu saja, mereka kan butuh modal untuk memenuhi apa yang di dalam pikirannya, mendapatkan sensasi yang mereka dapat saat belanja. Sudah pasti tukang belanja, halu pulak ni!
Nah, saya punya beberapa contoh seorang shopaholic yang begitu sejati dalam mengapai apa yang mereka inginnya untuk mendapatkan sumber tadi. Teman dekatku, seorang mahasiwa di salah satu universitas negeri, sering mengeluh setelah mendapatkkan pesan dari WA dari seseorang. Orang yang dipanggil adek, meminta bantuan agar dipinjamkan uang. Si adek mengaku kesulitan keuangan saat pendemi ini. Tak tanggung-tanggung, 3 juta rupiah.
Mungkin tidak besar jika diperuntukkan bagi penyembuhan diri atau dalam keluarga. Dikejar pacar sendiri, atau yang lebih buruk lagi. Jauh dari itu, si kaka ini pinjam uang dengan alasan “ untuk keperluan pegangan”. Kawanku ini tahu betul bahwa kenalannya itu hobi belanja, bahkan untuk barang yang tidak penting. Jelas saja ia menolak.
Selain memang halnya memberi atau tidak, kawanku juga punya kebutuhan sendiri dan sedang membantu ibunya yang juga terimbas pandemi saat bisnis yang dijalaninya. Apa jawabannya si adek? Dia ngomel panjang lebar. Tak cukup di chat room mereka, bahkan hingga ke media sosial. Ia merasa tidak diperduikan, dibohongi, tak dihargai, dll.
“Nggak mungkin uang segitu bisa gak punya. Kamu kan single, gak punya tanggungan. Sebagai mahasiswa pasti bisa menyisihkan uang. Kan bisa dijual lagi barangnya agar bisa membeli barang yang sedang hype! Duit segitu kan bisa diputar. Dst”
Satu lagi, seseorang shopaholic juga mengalami masalah keuangan dan emosional kalau tidak bisa mengatur uang dengan baik.
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”