Saat kalian mendengar frasa "tersandung emas", apa hal pertama yang kalian pikirkan?
Mungkin istilah bahwa kalian tiba-tiba menemukan emas yang tergeletak di jalanan dan kalian pun menjadi kaya raya, namun emas yang aku temui sangat berbeda dengan apa yang kalian duga.

Hari itu adalah hari terakhirku dan keluargaku di negeri samurai. Tepat pukul 10 pagi hari itu koper sudah selesai dikemas untuk penerbangan malam menuju kembali ke tanah air tercinta. Saat itu, kami tidak memiliki satupun buku panduan maupun peta di genggaman tangan.

Advertisement

Memang sudah disetujui oleh semuanya bahwa kita akan diam di dalam hotel menunggu waktu saatnya kita pergi ke bandar udara, tapi entah dari mana, terdengarlah seseorang berbicara tentang sebuah kuil emas yang ada di kota Kyoto, hanya setengah jam dari kota Osaka menggunakan Shinkansen, kereta tercepat di Jepang. Akhirnya, kami sekeluarga pun setuju; Kita akan berhenti di sebuah ‘pit stop’ yang terakhir sebelum penerbangan panjang kembali ke Jakarta, Kinkaku-ji (金 閣 寺).

Terletak di bagian utara kota Kyoto, kuil emas yang dikenal baik oleh penduduk setempat maupun turis sebagai Kinkaku-ji adalah sebuah kuil Zen yang dibangun di tengah kolam yang cukup besar bernama Kyoko-chi, yang berarti kolam kaca—karena kolam tersebut terkadang memantulkan gambaran kuil di permukaannya.

Kuil tersebut amat menonjol di antara pemandangan sekitarnya dengan cerminan cahaya matahari dari kuil itu sendiri. Sungguh memesona, kuil yang dilapisi dengan lapisan kertas emas itu. Tapi keunikan dan keistimewaannya tidak hanya itu saja.

Advertisement

Kuil tersebut juga merupakan mahakarya arsitek Jepang dahulu kala karena dalam satu kuil tersebut itu terdapat tiga tipe arsitektur yang berbeda, yaitu :

  • Shinden, sebuah gaya arsitektur yang digunakan untuk pembangunan istana;
  • Bukke, sebuah gaya arsitektur yang digunakan untuk pembangunan rumah samurai; dan
  • Chinese Zen, sebuah gaya arsitektur yang digunakan untuk pembangun kuil-kuil Zen di Cina.

Lantai pertama kuil tersebut dibangun dengan menggunakan gaya Shinden yang dulu digunakan untuk bangunan-bangunan istana selama Periode Heian. Pengunaan pilar kayu dengan dinding plester putih memberikan keanggunan dalam kontras dengan lantai-lantai di atasnya.

Karena agama Buddha memainkan peran yang cukup besar selama Periode Heian, patung Buddha Shaka dan Yoshimitsu dipajangkan di lantai pertama kuil tersebut. Keberuntunganku tidak terbayang karena pada saat kunjunganku kepada kuil tersebut, aku dapat melihat patung-patung itu dengan jelas sekali.

Selanjutnya, gaya arstitektur yang digunakan pada lantai kedua bernama Bukke. Bagian luar dari lantai tersebut ditutupi dengan kertas emas secara keseluruhan, sementara bagian dalamnya diisi dengan patung Bodhisattva Kannon yang dikelilingi oleh patung-patung Empat Raja Surgawi.

Selanjutnya, lantai ketiga kuil emas tersebut memiliki gaya arsitektur Aula Zen Cina yang disepuh baik di bagian dalam maupun di luar. Akhirnya, atap dari kuil tersebut terdapat patung burung phoenix emas seakan-akan patung itu adalah penjaga kuil emas.

Tapi apakah kalian tahu? Kuil yang kita lihat sekarang baru dibangun pada tahun 1955—namun kuil itu pertama kali dibangun pada akhir abad ke-14. Jadi apa yang terjadi kepada kuil emas ini selama 700 tahun yang terakhir?

Kuil yang kita lihat hari ini pertama kali dibangun sebagai sebuah vila untuk shogun pada akhir abad ke-14, Ashikaga Yoshimitsu. Shogun dalam istilah lainnya adalah kaisar Jepang. Dalam surat wasiat Shogun Yoshimitsu, dia menginginkan vila tersebut diubah menjadi sebuah kuil Zen setelah kematiannya, dan itulah yang terjadi.

Namun, karena banyak perang yang sedang terjadi pada periode itu, kuil tersebut telah terbakar berkali-kali – sebaliknya, penyebab kebakaran yang paling terakhir dilakukan oleh seorang pendeta dari kuil tersebut. Pada saat itu, pendeta tersebut membakar kuil emas itu, dan berlari ke sebuah bukit untuk melakukan harakiri, atau tindakan membunuh diri—namun dia akhirnya tertangkap dan didiagnosiskan memiliki masalah mental.

Pada akhirnya, kinkaku-ji dibangun ulang pada tahun 1955, dengan perbaikan besar-besaran yang dilakukan pada tahun 1987 untuk mengganti semua kertas emas yang telah rusak sebelumnya. Sekarang, kuil tersebut terbuka untuk umum setiap hari dengan harga hanya 400 ¥ atau setara Rp48.000.

Selain kuil tersebut, ada juga lonceng untuk membuat doa atau harapan, tempat melempar koin untuk keberuntungan, dan sebuah air terjun kecil yang mengalir dari pegunungan di atas kearah kolam besar dimana kuil itu berada.

Ketika aku mengingat kembali perjalananku, aku tidak bisa percaya keberuntunganku yang berlimpah tanpa henti pada hari itu. Hari yang seharusnya tidak terisi dengan aktivitas apapun berubah menjadi sebuah petualangan yang tidak direncanakan. Jika dipikir-pikir, perjalanan tersebut bisa dipanggil sebuah kecelakaan kecil dalam trip itinerary kita—dan seperti pepatah yang dikatakan oleh Napoleon Bonaparte,

"tidak ada yang namanya kecelakaan, hanya takdir yang disalahnamakan."

Setiap hari, pasti saja ada orang yang berkunjung ke kuil tersebut untuk bersembahyang dan meminta rezeki, namun bagiku masih ada satu hal lagi yang dapat kita dapatkan dari berkunjung ke kuil emas tersebut.

Setelah mendengarkan sejarahnya—bahwa kuil tersebut telah terbakar beberapa kali—dan melihatnya duduk di tengah kolam besar itu, akupun terpana akan ketekunan dan kekuatan kuil tersebut untuk bertahan dan melewati semua kesulitan yang dihadapinya. Ketekunan untuk menghadapi kesulitan apapun—itulah yang dikatakan kuil emas ini kepadaku.

Sekarang, aku percaya; mungkin suatu hari, setelah kita melewati semua kesulitan yang akan kita hadapi, kita juga akan bisa mencerminkan sinar kita sendiri juga; seperti kinkaku-ji.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya