Dear kamu sahabatku..

Entah mulai darimana aku harus menceritakan segala sesuatunya tentang kamu. Terlalu banyak ungkapan yang ingin aku tulis disini. Gerimis sore ini tak kunjung habis, mengingatkanku pada saat aku pertama kali bertemu denganmu. Tak pernah terbesit sedikitpun dikepalaku bahwa kamulah sosok yang ada disampingku saat ini. Sosok yang membantuku bangkit dari pengkhianatan yang bernama cinta.

Advertisement

“kamu kenapa? Cerita aja jangan menangis gitu”

Cinta. Aku memang belum terlalu mengenalnya. Namun, karenanya aku selalu jatuh dan sangat tersiksa. Banyak luka yang harus aku lalui hingga aku berada dititik ini. Dititik dimana aku bisa tersenyum seraya menikmati segelas susu seperti sore ini. tapi, dibandingkan dengan manisnya susu ini, aku lebih memilih es krim. Kenapa es krim? Karena saat itu aku menikmatinya denganmu. Mungkin kau sudah lupa, tapi bagiku semua kenangan indah selalu hadir dan membekas. Bahkan tak akan pernah hilang karena memori hatiku yang kini sudah terinstal ulang dan berganti dengan kenangan bersamamu.

Selama 2 tahun aku mengenalmu, mungkin baru saat ini aku baru tersadar jika kamu adalah sosok baik yang selama ini tak terlihat olehku. Waktu memang mengubah segalanya. Entah sejak kapan aku mulai menyadarinya, yang pasti saat ini dirimulah yang kerap hadir dalam keseharianku. Aku sadar, jika aku perempuan biasa yang jauh dari kata cantik, pintar atau apalah yang mungkin menjadi salah satu kriteriamu. Aku sesederhana yang terlihat. Tak ada apapun yang dapat aku banggakan. Tapi, perasaan ini berbeda. Jauh dari itu semua aku hanya berharap ada ketulusan darimu untukku.

Advertisement

Aku tahu, aku telah mengkhianati makna dari kata sahabat. Rasanya sungguh tak dapat tergambarkan. Tapi aku juga tidak dapat bertahan lama dengan ini semua. Aku merasa aku sudah gila. Bahkan, karena gilanya aku mulai tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan, karena kamu selalu hadir dikeduanya. Setiap pagi, aku menembus kemacetan hanya berharap agar hari ini aku tak bertemu denganmu. Ya, tak bertemu karena aku tahu aku tak mampu lagi bersikap seperti biasanya didepanmu. Saat malam datang, hadirmu selalu menghantui disetiap malamku. Namun, Saat kau tak ada, aku berharap bertemu denganmu. Ah, mungkin itu yang disebut dengan rindu. Kau tahu rindu? Ya, rindu. Jika rinduku ini diibaratkan ombak, maka setiap malam aku sudah tenggelam karenanya. Rasanya hampir gila jika aku terus bertahan seperti ini.

“maaf belum bisa ketemu dulu”

Pernah mendengar cerita Khadijah yang baper dahulu sama Rasulullah? Mungkin aku juga seperti itu, terbawa perasaan denganmu.

Kau bahkan sangat tahu jika aku sosok yang mudah terbawa perasaan. Tapi, kenapa masih saja kau memperlakukanku seperti itu, yang membuatku semakin terombing-ambing akan perasaanku sendiri. Kau tahu kan, bagi perempuan yang paling merepotkan adalah perasaannya sendiri. saat ini aku merasa kesulitan mengontrol perasaanku sendiri. ingin rasanya aku tenggelam ke lautan luas nan dalam. semua rasa tercampur menjadi satu. Aku bisa apa? kau bahkan dengan tenangnya bercanda seperti biasanya. Tak apa, ini salahku. Salahku yang terlalu menaruh hati untukmu. dan aku tahu, hatimu sudah untuknya yang jauh disana.

Saat ini aku hanya bisa terdiam.

Seperti hujan, datang dengan tiba-tiba dan sesaat mengguyur tanah yang gersang, tak lama tanah yang gersang terkena terik matahari kembali. Seperti itu hatiku saat ini. Saat ini aku hanya bisa diam dan akan menunggu. Sampai kapan? Entahlah mungkin sampai waktu menjawab semuanya. Tak apa, tak usah kau risaukan penantian kegalauanku karna aku sudah terbiasa dan hanya bisa menunggu. Bahkan, jika dibenarkan, menunggu memang sudah menjadi kodratku sebagai seorang perempuan. Tapi, ketahuilah, menunggu itu melelahkan. Kodratku sebagai perempuan lainnya adalah untuk dikasihi dan disayangi bukan untuk menunggu dan terus menunggu. Biarlah, waktu akan menjawab semuanya.

Untukmu, terimakasih sudah ada disampingku selama ini. kau mungkin tak menyadarinya tapi kehadiranmu sudah sedikit banyak menghapus luka dihatiku. Aku ingin bersamamu selamanya, semudah itu, sesulit itu.

“tak perlu seseorang yang sempurna, cukup temukan orang yang selalu membuatmu bahagia dan membuatmu berarti lebih dari siapapun…”

(habibie)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya