Teruntuk Para Lelaki yang Bergelar “Gus” yang Jatuh Cinta pada Kami, “Wanita Biasa”

Tidak melulu tentag rasa nyaman, terkadang “nasab’ juga menjadi suatu masalah dalam sutu hubungan. Anak gaul berkata “derajat”. iya, derajat manusia memang hanya Tuhan yang tau, tapi pada fakta yang terlihat tidak semudah teori.

Advertisement

Hai “gus”, kami memohon padamu, jangan datang memberi kami harap jika pada akhirnya engkau tau, engkau tak akan melanjutkan ke jenjang selanjutnya dengan kami. Kau tau, kata manis dan harapan harapan yang kau utarakan bisa menyentuh hati kami. Tapi aku mohon, jangan lakukan itu. Ini hati, gus. Apakah kamu akan bertanggung jawab jika kemudian setelah engkau beri harap kami kau tinggalkan? Meskipun pada perpisahan kau berterimakasih dan meminta maaf? Tidak gus, hati ini tidaklah sesederhana itu. Kau tau, hati ini bisa saja membeku kemudian takut untuk jatuh cinta lagi? Apa kau pikirkan itu?

Iya, setelah kau tinggalkan kami, kau akan menemukan kebahagiaan, sedangkan kami harus melihat kau bahagia dengan keadaan hati kami tersayat. Apa kau pikirkan itu? Sudah berapa wanitakah yang menjadi korban? Kami lelah.

Baiklah, akan kami jelaskan bagaimana perasaan kami. Saat kau meminta maaf , bahwa kau akan pergi karena adat itu sudah waktunya jatuh padamu, kami tersenyum sangat manis, manis sekali dengan genangan air mata, menahannya di hadapanmu. Mungkin sebelumnya kau pernah melihat kami tersenyum seperti ini, tapi ini berbeda, kami yakin kau melihatnya itu sebagai senyum termanis kami, bagaimana tidak, inilah senyum terakhir yang akan kau lihat dari kami. Lalu kemudian, kau berterimakasih atas waktu yang sudah kami lalui bersamamu. Kau tau arti senyum itu? Senyum itu adalah “terimakasih” atas sayatan yang sudah kau torehkan di hati ini. Tanpa mampu berkata satu patah katapun kami hanya mengangguk.

Advertisement

Lalu apa kamu pikir malamnya kami tidur dengan nyenyak? Orang bilang saat sedih kami harus mengambil air wudhu kemudian bersujud padaNya. Iya kami lakukan itu, tapi setelahnya, Kristal bening dari mata kami harus tumpah jua. Apa kau pikir itu hanya beberapa jam saja? Bagaimana kalau kami bilang itu terjadi semalam suntuk? Apakah kamu tau itu? Atau lebih sederhana, apakah kau mau tau itu??!! Hingga kegiatan esok haripun tertunda karena harus menunggu keadaan kami membaik. Iya, keadaan luar kami, keadaan hati tentu saja tidak semudah itu.

Dan pada saat hari bahagiamu, kami yang terlanjur mengetahui bagian keluargamu, walaupun kami tidak kau ceritakan pada mereka siapa kami, kami yang terlanjur berteman sebatas social media dengan mereka menemukan postingan postingan terbaru mereka dengan menyertakan doa terbaik untuk kau dengan dirinya, yang kini menjadi yang halal bagimu. Lalu kembali kami bertanya, apa kamu berpikir bagaimana perasaan kami melihat itu? Sayatan itu seakan semakin membesar.

Hari demi hari kami lalui. Kami tidak mungkin menunjukkan kesedihan kami dimanapun kecuali pada sahabat terdekat kami, akan menimbulkan kecurigaan orang-orang yang apabila mereka mengetahui kedektan kita dulu adalah “haram” bagi mereka.

Kami lelah, hati kami lelah, jiwa kami lelah, otak kami lelah. Kami tertawa, tersenyum, cekikikan sana sini, jangan berpikir itulah kami sebenarnya, sesungguhnya itu hanyalah sebagian dari pelampiasan kami, agar kami tidak selalu ingat denganmu. Pada kenyataannya, setiap malam kami harus kembali tidak menyayangi butiran butrian Kristal itu.

Setelah beberapa lama, kami semakin lelah. Yang kami rasakan hanya semakin lelah dengan keadaan, ditambah kami harus mendengar kabar tentangmu, mereka bercerita tanpa sengaja membuka lagi luka lama. Saat mereka bercerita kami hanya tersenyum dan mengangguk, atau hanya sekedar berkata “oooh gtu” sambil tersenyum. Apalagi selain itu yang bisa kami lakukan?

Hingga kemudian sahabat sahabatpun menganggap kami sudah baik baik saja, kami sudah berhasil melupakanmu, mengikhlaskanmu seikhlas ikhlasny. Setelah kepergianmu tidak sedikit yang meminta hati kami, bahkan diantaranya juga bergelar sama sepertimu, yaitu “gus”. Kami hanya tidak menutup pertemanan, tapi untuk hati, hati ini rasanya membeku, tidak sanggup lagi merasakan jatuh cinta. Semacam trauma. Walaupun yang meminta bukanlah yang bergelar sepertimu, tapi hati ini sudah membeku. Entah , kami tidak mengerti bagaimana harus mencairkannya. Yang kami tau, kami hanya ingin membiarkan semua begitu saja. Kami tidak menangisi mu lagi, tapi kini hati sudah membeku, sedangkan kau di sana, mungkin terbesit tentang kami saja tidak.

Untuk itu kami mohon, kepada para lelaki yang bergelar gus, kami mohon dengan sangat, jika kami tidak mungkin berada di masa depanmu, jangan beri kata-kata manis dengan berbagai macam harapan, meskipun mungkin kamu berkata kau tidak memberi harapan, apa smua tidak akan menjadi sebuh harap pada kami atas semua kata kata manismu, atas semua kedekatan kita selama ini?

Kami tau, kami hanyalah wanita biasa, bahkan mungkin tidak pernah berada di “pesantren” tapi kami sama sama menjaga diri, kami juga belajar ilmu agama walaupun hanya sedikit, dan sungguh, kami tidak pantas untuk diperlakukan seperti ini. Kami pantas dibahagiakan, bukan ditinggalkan setelah dipenuhi dengan harap.

Orang bilang lebih baik bangun cinta, bagaimana mungkin kami bisa membangun jika kami ditinggalkan? Sungguh kami sangat berharap tidak ada korban lagi setelah kami. Kami mohon atas nama “Wanita” pula atas nama “Hati” jika kalian tidak menjanjikan masa depan untuk kami, jangan biarkan kami menjatuhkan hati padamu.

Regardas,

“Wanita Biasa”

BWardah

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

3 Comments

  1. Buseet aku sampe nahan napas membacanya sampai akhir. Walaupun gak ngerti siapa itu “Gus” tapi kisahnya menyayat banget.

CLOSE