Keluargaku mungkin tidak sempurna, tetapi terima kasih Tuhan bahwa aku terlahir menjadi gadis yang kuat meskipun menangis berkali-kali, tetapi masih selalu tersenyum untuk menabahkan hati. Aku mungkin hanya satu dari sekian juta anak yang terlahir dalam keluarga yang broken home, tetapi terima kasih Tuhan bahwa aku terlahir menjadi gadis yang tidak biasa-biasa saja yang meskipun sangat terbatas dalam perhatian, namun selalu belajar untuk menerima ketidaksempurnaan dan menghargai indahnya kebersamaan.


Pernah suatu hari dosenku berkata,”Bahkan anak-anak yang terlahir dari keluarga yang tidak sempurna—broken home—pun berhak tumbuh menjadi orang-orang luar biasa. Karena ketidaksempurnaan itu bukan salah mereka—tetapi ketika mereka memutuskan untuk menerima keadaan itu dengan baik, maka mereka telah menang. Mereka tidak kalah dengan anak-anak yang terlahir dari keluarga yang lengkap. Mereka telah hebat dengan cara mereka sendiri. ” [kutipan kata dengan beberapa perubahan]


Advertisement

Barangkali keluargaku tidak sempurna seperti kebanyakan, tetapi terima kasih Tuhan bahwa aku selalu belajar menerima ketidakbahagiaan dan mengubahnya menjadi kebahagiaan versiku sendiri. Sulit rasanya menjadi anak yang perhatiannya terbagi dan terhalang jarak yang ketika ingin bertemu ibu harus menempuh jarak, tak bisa sewaktu-waktu bertemu, memeluknya, dan mencium tangannya. Tetapi dalam keadaan serba terbatas itu, aku tumbuh menjadi gadis yang sabar dan menerima bahwa tidak segala hal yang kuinginkan harus menjadi kenyataan. Sulit rasanya menerima kenyataan bahwa keadaan keluargaku menjadi tidak sederhana, tetapi berjalannya waktu membuatku mengerti bahwa aku hanya satu dari sekian banyak anak yang mungkin lebih tidak beruntung dariku yang barangkali hidupnya lebih sulit dan waktunya lebih terbatas untuk bertemu orang tua mereka.

Mungkin keluargaku tidak sempurna, tetapi terima kasih Tuhan bahwa aku tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh yang selalu berupaya untuk membahagiakan orang-orang yang telah mendukungku sampai di titik ini. Barangkali pernah suatu hari aku mengeluhkan keadaan ini, berpikir bahwa keadaan ini tidaklah nyaman dan membuatku merasa aneh, tetapi aku sekali lagi belajar bahwa Tuhan sedang mengajariku cara menerima segala ketidaksempurnaan, dan mengubahnya menjadi kebahagiaan yang sedang menungguku di saat yang tepat.


Dari ketidaksempurnaan ini, aku belajar untuk menghargai orang-orang yang mencintaiku dengan tulus; yang tidak memandangku iba, tetapi selalu berupaya memberiku energi positif untuk terus berjuang. Teruntuk kalian, siapapun yang mencintaiku dengan sebaik-baiknya ketulusan, terima kasih. Tuhan telah mengirimkan cinta-cinta yang tepat, bahkan ketika aku sedang berada di titik terendah dalam hidupku.


Advertisement

Pada ayah, terima kasih bahwa engkau telah dengan sepenuh hati mendidikku sampai aku mampu berdiri diatas pilihanku sendiri. Meski sesekali aku menyalahkan keputusanmu di masa lalu, tetapi aku sadar bahwa inilah pilihan yang paling baik bagiku. Terima kasih ayah, aku tidak pernah berhenti bersyukur menerima kenyataan bahwa ayahku adalah engkau. Untuk segala peluh dan pengorbanan tanpa jeda, engkau adalah tujuan pertama atas segala pencapaian dan proses melangkah. Terima kasih ayah, telah mengajariku menjadi tangguh, meskipun sesekali aku menangisi kenyataan yang bagiku teramat sulitbahkan sampai hari ini. Aku mungkin tidak cukup membuatmu bahagia, tetapi percayalah bahwa setiap prosesku adalah langkah yang tidak berhenti untuk membuktikan bahwa pilihanmu tidak pernah salah. Ayah, engkau mengajariku hebat dengan caramu yang tidak kumengerti. Dan barangkali harus kuucapkan maaf, jika aku masih saja menyebalkan untukmu.

Pada ibu, terima kasih bahwa engkau tak pernah luput menyertakan namaku dalam do'amu. Barangkali pernah aku menyalahkanmu yang memilih pergi, tetapi semesta telah mengirimkan pelajaran-pelajaran berharga tentang kehidupan, yang membuatku mendewasa dengan baik. Dimanapun engkau berada, do'amu adalah salah satu pinta yang masih sangat dicintai Tuhanku. Maka jangan pernah berhenti mendo'akanku, Bu. Sebab tanpa do'amu, aku tidak bisa mencapai titik ini. Teruslah mencintaiku pada jarak yang membentang diantara kita, sebab tanpa cintamu, ridha Tuhanku tak akan pernah sampai padaku barang sebutir saja. Terima kasih ibu, bahwa cintamu tidak pernah terputus meskipun raga kita tak bisa sering bertemu. Dan barangkali kuucapkan maaf, jika aku masih saja belum menjadi anak yang engkau harapkan.

Pada orang-orang yang tidak bisa kusebutkan satu per satu, terima kasih bahwa kalian telah menerimaku dengan sebenar-benarnya aku. Terima kasih bahwa tetap tinggal dan mendukungku dengan ketulusan. Barangkali aku memang tidak sempurna, tetapi terima kasih telah menyempurnakanku dengan kebahagiaan yang kalian berikan. Semoga Tuhan memberikan kebahagiaan pada kalian yang lebih dari apa yang telah kalian berikan padaku. Terima kasih kalian, orang-orang luar biasa yang menjadikanku luar biasa seiring berjalannya waktu.


Barangkali aku tumbuh dari keadaan keluarga yang tidak sempurna, tetapi aku tidak berhenti dan menetap dalam keadaan serba tidak sempurna itu. Barangkali aku tumbuh dari perhatian yang minim, tetapi dari itu aku belajar mencintai orang-orang yang juga menyayangiku dengan baik. Aku percaya, setiap ketidaksempurnaan dan ketidakbahagiaan yang kita jalani, adalah cara Tuhan untuk mengajari kita arti menerima dan mensyukuri. Maka tersenyum dan bersyukurlah, apabila kita masih lebih beruntung dari orang lain. Sebab barangkali diluar sana masih banyak anak-anak yang tumbuh dari dunia yang lebih keras, perhatian yang lebih terbatas, dan kehidupan yang serba kurang.


Maka, terima kasih untukmu yang sedang membaca ini. Sudahkah bersyukur atas keadaanmu hari ini?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya