Terkadang ada beberapa hal yang tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Aku hanya sebuah contoh dimana keegoisan atau keinginan sesaat mengalahkan rasa legowo. Aku bukan manusia berhati malaikat, bukan. Bukan pula bawang putih atau tokoh protagonis lainnya yang bisa menerima keadaan dengan ikhlas, atau bisa disebut itu terpaksa.


Aku manusia biasa yang masih dikuasai oleh ego. Ya, sampai sekarang aku masih belum bisa mengendalikannya dengan sempurna.


Advertisement

Akan menjadi munafik bila aku berkata bahwa aku tak egois. Aku melakukan hal baik karena memang harus begitu. Aku pun berharap setiap orang melakukan hal yang sama seperti yang ku lakukan pada mereka.


Pamrih? Memang. Begitulah hidup. Saling memberi dan menerima. Setidaknya itulah yang aku tahu dalam menjalani hidupku selama ini.


Seperti halnya aku mencintaimu. Aku memberikan apapun yang aku mampu hanya agar aku mendapatkan apa yang telah kau terima. Maksudku, bagaimana aku mencintaimu, seberapa besar cintaku padamu, hingga pengorbanan apa yang telah aku lakukan.

Advertisement

Aku tahu kau akan berpikir bahwa ini gila. Aku tahu bahwa yang kau pikirkan tentang mencintai adalah ikhlas. Sudah kubilang sayang, aku bukan manusia berhati malaikat. Aku manusia biasa dengan segala keegoisanku.

Bila sudah begini, apa kau masih mau menerimaku dengan segala keegoisanku? Atau malah kau akan pergi untuk mencari yang akan mencintaimu dengan ikhlas tanpa mengharap apapun darimu?

Sekali lagi aku katakan padamu, aku mencintaimu. Sebesar apa aku mencintaimu, biarlah aku yang tahu, itu urusanku. Urusanmu hanyalah pastikan kau juga mencintaiku dengan segala kekuranganku. Bahkan bila itu adalah keegoisanku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya