Agama Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil al alamin). Dengan ajaran suci yang dibawanya, Islam mendidik manusia untuk berjiwa tauhid, hanya mengenal satu Tuhan, yaitu Allah. Dan juga bersaksi dengan sungguh-sungguh hanya mengakui dan meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah. Islam menghargai keberagaman asal tetap dalam bingkai tauhid, membuka seluas-luasnya pintu ijtihad, dan menghargai setinggi-tingginya kebebasan berpendapat untuk mencari kebenaran. Dari sinilah tumbuh dan berkembang berbagai bentuk tradisi dan budaya yang dijiwai oleh masing-masing masyarakat.
Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman budayanya dan setiap daerah pasti mempunyai tradisinya masing-masing. Merebaknya tradisi yang sudah membudaya ditengah-tengah masyarakat Islam, khususnya Indonesia,  seperti pesta pernikahan, selamatan, dan sejenisnya adalah salah satu wujud dari mentradisinya ajaran Islam yang sudah membudaya di tengah masyarakat. Dan ini menunjukan bahwa ajaran Islam telah dipeluk dengan kuat oleh masyarakat.
Dalam pelaksanaannya pasti mempunyai makna nilai dan corak tersendiri. Salah satunya sebagaimana yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Bojong Kabupaten Tegal. Bojong yang merupakan daerah dataran tinggi dekat tempat wisata pemandian air panas Guci Tegal ini, masih menjalankan tradisi leluhur yang dilakukan ketika diadakannya acara pernikahan yaitu dengan memberi sesajen (persembahan) kepada leluhur atau keluarga yang sudah meninggal, dimana tradisi ini merupakan salah satu unsur terpenting dalam pelaksanaan Selametan Pernikahan.
Hal unik dalam pelaksanaan selametan nikahan di Desa Bojong yaitu adanya sesajen ketika menyelenggarakan acara. Sesajen diletakkan dekat dengan besek berkat, kemudian ditempatkan di nampan berisikan seperti kopi pahit, teh, rokok orang zaman dulu, susu, air putih, jajan orang zaman dulu, intinya sesuatu yang disukai arwah leluhur. Dalam tradisi ini sesajen biasanya disiapkan sebelum pemasangan tarub (janur kuning) sampai acara selesai.
Tujuan dibuatnya sesajen agar arwah leluhur senang, hajatannya lancar tidak ada gangguan dari roh jahat, tidak hujan, dan hal yang tidak di inginkan lain. Mereka meyakini bahwa sesajen ini adalah suatu keharusan yang sudah dilakukan secara turun temurun, mereka beranggapan bahwa jika tradisi tidak dilaksanakan maka akan datang malapetaka atau sial dalam acara pernikahan tersebut.
Sesajen merupakan tradisi yang masih diperdebatkan. Bukan karena kuno dan aneh, melainkan karena sesajen mempunyai hal-hal yang dianggap mistis dan sangat sakral. Sehingga sebagian orang menganggap syirik karena termasuk meminta sesuatu kepada orang yang meninggal dan ada pula yang mengaggap bahwa itu untuk melestarikan budaya setempat. Dalam Islam sendiri ritual pemberian sesajen tergolong sebagai perbuatan musyrik. Karena pada dasarnya ritual ini ditujukan kepada makhluk halus yang dianggap sebagai leluhurnya dengan tujuan untuk meminta sesuatu, dan ada beberapa pendapat dari para ulama mengenai hal tersbut bahwa jika diniatkan sebagai permintaan kepada makhluk halus untuk memberikan keselamatan hidupnya maka dianggap syirik, namun jika niatnya hanya mengikuti adat atau tradisi masyarakat setempat maka hukumnya tidak apa-apa. Karena syirik itu datangnya dari hati, jika niat kita tetap berpegang pada tauhid maka tidak dianggap sebagai  hal yang syirik.
Kita sebagai generasi muda harus menjunjung tinggi adat dan tradisi karena itu merupakan kekayaan budaya, namun jangan karena kita mau menjalankan budaya, kita sampai melanggar perintah Allah, yaitu Iman kepada Allah SWT. Sebelum melakukan tradisi sebaiknya kita memaknai dan mengartikan terlebih dahulu apa makna sesajen, sehingga tidak terjadi kesalah faham dalam melakukannya.
ADVERTISEMENTS
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”