Tentang kamu …

Tak perlu aku merangkai kata-kata indah untuk melakar namamu, karena namamu hanyalah jembatan menuju kerinduan, dan aku bersalah jika menuangkan namamu di sini. Dan aku lebih berdosa, jika membohongi diriku sendiri apabila ada aku diantara bulir-bulir rindu itu ! Aku menulis ini dengan rindu, yang tak mampu di baca oleh perasaan dan yang tak bisa diterjemahkan dengan lidah. Aku mengenal dirimu dengan izin Tuhan dan dunia. Tapi tidak dengan sesuatu yang sering menjadi perbincanganku dengan Tuhan diluar pengetahuanmu. Cinta adalah mata dan hati yang menjadikannya matahati. Aku jatuh cinta pada pertemuan singkat itu. Bermula dari dermaga yang keliru dan lautan yang tak merestui. Disitu gejolak mata tak sanggup berdusta, diatas lautan yang lentur kau ombang-ambingkan permulaan yang adalah sejarah.

Advertisement

Lalu kitapun menjadi sepasang sahabat dengan kekeliruan ombak terhadap kapal layar.

Karena waktu pasti berlalu meninggalkan cerita, maka cerita kita kutitip pada karang jahanam di tanah Timur. Kita bergegas rapi bersama Perahu layar, Kau menopangku sedekimian indah. Perkenalan spontan mematerai kita. Dan mereka yang beserta kita adalah saksi tanpa kebenaran. Mengapa ? Karena kita melawan perbedaan yang mungkin menjadikan kau-aku dan mereka menjadi renggang. Aku sadar kecerobohan tulenku. Aku akui kejujuran yang tak membenarkanku. Aku keliru diantara cinta-mencintai- dan dicintai.

Lalu perlahan, kau menggandeng tanganku, berjalan sejajar disampingku, tertawa lepas dihadapku. Kau pelengkap kala itu. Bersama berlalunya senja, kau memorikan sebuah awal dengan tatap dan senyummu. Tuhan jika yang boleh aku minta, izinkan dia berada lebih lama bersamaku. Itu sepenggal kalimat yang kirim untuk Tuhan diantara kita dan deru ombak dilautan lepas. Kau dan aku menjadi kita. Kebahagiaan sempurna yang dijanjikan diam dan malam. Kita adalah dua bintang yang bersinar tanpa bintang yang lain. Kita adalah ombak yang teduh dari keganjilan ombak yang lain. Kita adalah satu diantara beribu-ribu mata, yang terdalam dari kedalamam laut dan yang luas diantara langit dan lautan. itulah kita dalam dua hati namun satu cinta. Kau janjikan bintang yang redup dan malam yang kesepian dengan genggaman tanganmu. Kau istirahatkan aku disampingmu dalam tenang. Dan ketika aku terbangun, dunia seolah berubah dan kau adalah satu-sattunya yang masih berada dekatku. Cinta tak mampu ditukar dengan kopi yang kau teguk dengan senyummu. tidak juga lemah seperti Mie yang siap saji. Cinta itu kuat, sekuat Dollar Australia yang tak mampu kau lukiskan diatasnya, tidak juga kau remuk-remukan kertasnya.

Advertisement

Cinta itu murni semurni warna 5 dollar Australia. Aku ingat persis ! Hinggah, hujan kecilpun berlayar menyertai aku. Kali ini aku kembali berbisik pada Tuhanku lewat sebuah perantaraan. Tuhan .. Jika dia Milikku, maka jaga dia dan kembalikan dia jika sudah tiba masanya. Namun, apabila bukan tercipta untukku maka biarkanlah dia terlepas dipertengahannya. Dan waktupun berlalu, sebuah perpisahan terkadang memberikan sebuah jalan yang lebih baik sebelumnya. dan itu nyata. Dan kebodohanku adalah tidak bertanya banyak tentangmu. Tapi entahlah seperti apa Tuhan menciptakan hatiku ini. aku tak sanggup berdusta. Jika cinta diberikan Tuhan maka aku percaya Tuhan akan memeriksa hati kita masing-masing. Seiring berjalannya waktu, bertambahnya hari dan genapnya bulan, menjadikan benih cinta ini sulit pudar diantara semak-semak asmara kita. pernah berulang kali kita saling membelakangi oleh persoalan sepeleh dan perbedaan pendapat. Namun kau tahu ! aku dan kamu masih tetap hidup dalam satu kisah yang sama. Hinggah suatu hari. . sebuah rahasia yang sulit kau jujurkan itu, nyata didepan mataku. Kau tau berapa dalam api membakar hatiku? berapa banyak iblis memporak-porandakan perasaanku?.

Aku ingin mati tapi tidak dengan membawa serta kisah kita. Dan aku juga ingin hidup tapi tanpa kamu lagi. Aku keliru disini. Cukup ! itu yang terakhir kutegaskan dihadapanMu . .. Malam berlalu dengan pelukan perpisahan kita, aku seolah-olah seperti orang bodoh yang baru terlahir. tapi entah dari mana dan kemana. Aku kehilangan arah. Bahkan untuk melalui penerbangan yang kubayangkan setia disampingmu adalah sirna. Dusta. Dan membara bagai arang yang menyulap kayu. rapuh ! Iya benar .. aku rapuh hari itu, tepatnya dalam doaku aku berharap agar aku tidak lagi melihatmu. Tapi sayang .. entah kekuatan apa yang mengekang ingatanku, meluluhkan kerasnya hatiku dan mencairkan kebekuan amarahku. Hinggah pagi itu, dibawah langit yang biru dan bisingnya kota pahlawan, kau nyatakan maafmu dalam peluk dan sebuah kecupan terakhir.

Dan saat itu, pintaku pada Tuhan. "sertai dia selalu, Seperti apa kehendakmu. Aku akan tetap bersyukur. Jaga dia Tuhan" Aku mampu merasakan hatimu hinggah mampu mengerti setiap helaian nafasMu. Namun aku sanggup merelakan segalanya diakhir cerita ini. Di Surabaya kita melepas pandangan yang tak mampu dilakukan oleh tangan untuk waktu yang tak bisa kita takdirkan.


Lalu kuputuskan untuk mencintaimu dalam diam.


Because ….. I love you more than any word can say. I love you more than every action I take. I’ll be right here loving you till the end.

(Jogja 010716)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya