Beberapa hari yang lalu, teman baikku menawari seorang perempuan lulusan kedokteran dari kampus ternama di Surabaya untuk dikenal, dijadikan teman, syukur kalau bisa cocok dan berjodoh. Ia ingin mengenalkanku dengan perempuan itu. Niatnya baik. Tapi aku yang bernyali ciut. Hingga kini, untuk urusan perempuan dan cinta aku begitu parah. Aku terlalu merendah, atau tak tahu arah?


Perempuan yang ingin dikenalkan ini rupanya berasal dari keluarga high class, begitu aku menamainya.


Advertisement

Kulihat dinding Facebook perempuan itu. Betapa ciutnya nyaliku ketika melihat keluarganya. Ayahnya seorang direktur salah satu akademi ternama di Surabaya. Kedua adik kandungnya berpendidikan bagus. Ibunya juga terlihat modis.

Kulihat dinding yang lain. Semakin ciut nyaliku. Dia sekeluarga betul-betul high class. Makan di restauran, berlibur ke Singapura. Lengkaplah potret kehidupan keluarga high class itu. Ia sendiri lulusan kedokteran yang baru saja disumpah.

Betapa ciutnya ketika kutengok ke belakang, keluargaku! Aku yang terlahir dari keluarga miskin, hidup di desa, dan dari keluarga tak berpendidikan sudah tentu tak sebanding dengan perempuan itu. Mungkin hanya aku dan adikku (yang aku biayai kuliahnya) berhasil meraih gelar akademis tertinggi di keluargaku hingga saat ini. Lagi-lagi nyaliku ciut. Tuhan… mengapa aku terlahir dari keluarga yang tak kaya? Bukannya aku mengeluh, hanya sekadar bertanya. Salahkah aku bertanya?

Advertisement

Temanku ini memaksaku mencoba berkenalan dengan perempuan itu. Lalu aku harus bagaimana? Katanya, dia tertarik dengaku, dengan prestasi dan tulisanku. Betulkah begitu? Memangnya apa prestasiku? Dan apa istimewanya tulisanku itu?

Dulu, cintaku, kesetianku, dan janjiku dengan sembarangan dibuang, ditolak, dan dirusak seorang perempuan. Kami berdua memang berbeda dari segi ekonomi keluarga. Rupanya baru kemarin aku paham alasan ini, alasan yang membuatnya menolakku!


Sekarang, datang tawaran ini, dengan perempuan yang berbeda. Aku salah apa ya Tuhan? Engkau memberiku pilihan sulit. Engkau ingin membunuhku, Tuhan?


Aku takut mengenal lebih jauh perempuan yang kelas sosialnya lebih tinggi dariku. Sungguh, aku tak punya status sosial istimewa yang bisa aku banggakan.

Seandainya aku lahir dari keluarga cendana, aku berani. Jika aku lahir dari keluarga besar SBY-Jokowi-JK, aku berani. Seandainya aku lahir dari keluarga Kiai, aku berani. Jika aku lahir dari keluarga artis, aku juga bisa narsis. Tapi, aku lahir dari keluarga miskin, miskin sekali. Bahkan, kamar mandi pun orangtua ku tak punya. Baru setelah aku bekerja, bisa ku bangunkan kamar mandi ukuran kecil, kecil sekali. Untuk makan sehari-hari saja tak cukup selama aku sekolah hingga kuliah.


Ya Tuhan, tawaran itu, menyindirku. Aku tau niat temanku baik, tapi, apa dia bodoh memilihku? Atau memang dia ingin menyindirku?


Tapi, ternyata aku yang terlalu merendah, egoistik! Tuhan punya rencana indah untukku. Tuhan paham kemampuanku. Perempuan itu tak seperti yang lain, yang melihat status sosial dalam suatu hubungna baik teman maupun bukan.

Ia begitu nyaman. Memang, kita baru saling mengenal sebentar. Namun, dari sikapnya, ia perempuan yang bijak. Ia tak risau aku siapa dan dari mana. Ia senang berteman denganku. AKupun senang berteman dengannya.

Ternyata, oh Tuhan. Tak pantas aku merendah untuk hal yang tak benar aku rendahkan, diriku dan keluargaku! Aku harus bangga! Keputusan ini mengajariku cara menghargai hidup yang Tuhan berikan.


Terima kasih, Tuhan. Jika ini baik, dekatkan kami, mudahkan urusan kami. Engkau maha tahu dan maha mengatur hidup ini. Sekali lagi, terima kasih, Tuhan.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya