Namaku Diandra Larasati, saat ini aku berumur 23 tahun dan bekerja di salah satu bank swasta di kotaku. Aku bisa tumbuh seperti sekarang ini karena sosok yang sangat luar biasa dalam kehidupanku. Beliau adalah inspirasiku dan pahlawan dalam hidupku, ya, beliau adalah Ayahku.

Sejak berusia 8 tahun, Ayah telah berpisah dengan Ibuku. Sebelum berpisah, rumah kami bagaikan neraka bagiku, aku jarang sekali di rumah jika melihat orangtuaku bertengkar. Aku memilih pergi kerumah nenek. Sering kali aku melihat Ibu teriak–teriak memarahi Ayah, jika Ayah tidak bisa memberikan Ibu uang untuk sebuah benda yang dimintanya, atau bahkan sering kali Ibu membanting piring atau gelas bahkan barang–barang lain. Setiap kali ibuku berteriak dan membanting barang, Ayahku hanya bisa diam dan pergi berlalu meninggalkan Ibu. Ayah tidak pernah sekali pun membalas kemarahan Ibu.

Ayah memiliki usaha bubur jagung, walaupun tidak besar tetapi cukup untuk memenuhi kebutahan keluarga. Aku dulu sering dibawa Ayah berjualan di kios kami, begitu juga dengan adikku yang baru berusia 1 tahun. Setiap pulang jualan, Ibu pasti tidak ada di rumah, Ibu pergi dengan teman-temannya. Ayahku yang penuh dengan kesabaran ini tidak pernah marah walaupun kondisi rumah berantakan dan Ibuku belum masak. Ayah langsung mulai membersihkan rumah tanpa istirahat setelah lelah berjualan sedangkan aku disuruh mandi untuk siap–siap pergi mengaji ke musholla. Setalah aku pulang dari musholla, dari depan rumah tampak Ayahku sudah rapi dengan kaos putih oblong dan sarung kotak merah yang sudah mulai pudar warnanya tampak menggendong adikku, Aditya yang tampak tertidur pulas digendongganya.

Kemudian Ayah menyiapkan kami makan malam untuk kami santap bersama tanpa Ibuku, yang memang kebetulan belum pulang, kemudian dengan telaten Ayah membantuku mengerjakan tugas–tugas sekolah. Walau pun setelah seharian bekerja mencari nafkah dan mengerjakan pekerjaan rumah yang seharusnnya dikerjakan oleh Ibuku, tetapi sedikitpun Ayah tidak pernah marah. Ayahku adalah orang yang memiliki beribu–ribu kesabaran.

Malam itu aku melihat Ayah sangat marah, muka Ayah yang biasanya penuh dengan keteduhan tampak sangat merah. Ayah marah ketika Ibu akan membawa aku dan adikku pergi bersama dengan suami barunya. Ayah baru mengetahui Ibu telah menikah 2 hari yang lalu dan ternyata kakekkulah yang telah menikahkan mereka. Ayah tampak marah ketika Ibuku akan membawa adikku dan aku pergi. Karena selama ini Ayah menganggap Ibuku tidak pernah mendidik dan merawat aku dan adikku. Maka melalui proses pengadilan, hak asuh terhadap aku dan adikku jatuh ke tangan Ayahku.

Advertisement

Setelah kejadian itu, Ayah harus menjual rumah kami untuk membayar hutang–hutang yang dipinjam oleh Ibuku, dan kemudian kami pindah di sebuah rumah yang lebih kecil. Tetapi bagaimana pun aku sangat bahagia bisa diasuh dengan Ayahku yang penuh dengan kesabaran. Ayah sering kali menasehatiku untuk tidak pernah membenci Ibuku, karena bagaimanapun Ibuku adalah orang yang telah berjasa mengandung dan melahirkanku dengan mempertaruhkan nyawa. Ibuku hanya khilaf saja.

Ketika berjualan, Ayah selalu membawa adikku yang baru berusia satu tahun, tampak telaten Ayah merawat adikku. Ketika pulang sekolah, aku yang akan membantu Ayah menjaga adikku. Jujur, aku sering malu di sekolah karena banyak temanku yang mengejekku karena tidak punya Ibu. Aku sering pulang sekolah dengan mata sembab, tetapi Ayah selalu menyabarkanku dan memberi tahu bahwa aku harus sabar, karena bagaimanapun aku tetap memiliki Ibu walaupun tidak tinggal satu rumah. Ayah juga mengatakan bahwa beliau siap menjadi ayah, ibu serta sahabat untuk anak–anaknya.

Setiap kali aku berada di pelukan Ayah, aku sangat damai dan tenang. Walau tampak kelelahan mengurus kami berdua tapi Ayah tidak pernah mengeluh, beliau selalu bersemangat. Ayah mendidik kami dengan penuh kehangatan, kehidupan kami yang sederhana tapi semuanya terasa sangat indah, tak pernah sekali pun Ayah berkata kasar atau membentak kami. Jika kami salah Ayah selalu menasehati kami dengan penuh kasih.

Entah darimana kekuatan Ayah berasal, yang mempunyai kekuatan untuk memiliki peran sangat besar dalam keluarga kami. Beliau bukan saja sebagai kepala keluarga, tetapi ibu buat kami. Entah sudah keberapa kalinya banyak kerabat dekat Ayah maupun Ibu yang ingin merawat kami, dengan alasan kasihan melihat Ayah yang harus repot merawa kami, atau pun banyak nasehat yang menyuruh Ayah untuk menikah lagi. Tetapi, lagi–lagi beliau menolak. Beliau ikhlas dan sangat bahagia menjalani hidup ini bersama kami. Walaupun beliau letih, tetapi rasa letihnya terhapus seketika jika melihat kami semua tertawa bahagia.

Oleh sebab itu, aku tidak pernah sedikitpun melawan Ayah, aku selalu berusaha membuatnya tertawa dan juga berusaha untuk meringankan beban Ayah dengan membantu membereskan rumah.

Aku dan adikku bisa menjadi seperti saat ini karena Ayah yang selalu memberikan pesan yang positif. Walaupun kami tumbuh tanpa adanya seorang Ibu, tapi peran Ayah di sisi kami sudah lengkap. Karena beliau bisa menjadi ayah dan ibu bahkan sahabat bagi kami. Aku sangat bahagia dan bangga terhadap Ayah.

Sekarang beliau telah tiada, aku berharap semua ayah senantiasa bahagia di surga. Allah akan selalu menyayangi Ayah dan menggantikan segala kesedihan dan penderitaan yang Ayah rasakan di dunia ini, menjadi kebahagian yang hakiki di surga nanti. Love U Ayah…Doaku akan selalu menyertaimu…