Kujanjikan pada seseorang, sampai kapanpun tak akan pernah berkisah tentangnya. Janji yang kuikrarkan dengan penuh kepercayaan. Dan lihatlah, aku memang pembuat janji yang payah!

“sudahkah kamu sholat Dhuha?” dan “tahukan kamu keutamaan sholat dhuha?!”

Tiba-tiba Aku ingat pertanyaan-pertanyaan itu, beserta seseorang yang selalu menanyakannya.

Aku selalu mengaguminya, tahukah dia?!

Ya… bagaimana mungkin seseorang yang umur ‘Kepercayaan’nya baru saja menggali dalam hitungan jari bisa segitu fasih berbicara tentang Agama dibandingkan aku yang memeluknya sejak lahir?!

Advertisement

Dia yang pernah kujadikan kamu-ku di dalam do’a…

***

Ini tentangmu, Pria idolaku…

Selalu kukagumi keteguhanmu dalam mempertahankan segala pilihan akan kepercayaan baru yang kamu anut, bahkan ketika seluruh keluarga datang menentang, kamu tetap kukuh dalam teguh. Sisimu inilah yang membuatku jatuh cinta tanpa ampun. Duh!

Apa kabar, Mimpi indah? Masihkah membenciku?

Aku melalui banyak hal untuk tiba di masa yang sekarang, dari masa lalu aku membawa oleh-oleh yang belum sempat kuberikan saat itu. Aku paham semua ini tak ada lagi nilai urgency-nya untukmu, tapi setidaknya ia penting untukku. Untuk ketenanganku.

Ini sebentuk penjelasan yang sangat kuketahui tidak lagi berada dalam waktu terbaiknya.

Tapi tenanglah, alamat yang kutuju sama sekali bukan penyesalan atas segala yang pernah kulakukan padamu. Sekedar minta maafpun tidak, karena aku tahu Kamu tak akan memaafkanku. Hanya kupikir ada beberapa kalimat yang kuharap dapat membuatmu mengerti, bahwa bukan kebencianlah yang membuatku mendepakmu pergi.

Apapun yang akhirnya menimpa kita berdua, kuharap kamu tak pernah berpikir bahwa aku sengaja untuk melanggar semua janji yang pernah kuikat di jarimu, sekedar kamu tau saja, diam-diam dalam tidurku, aku masih menjadikan kamu sebagai mimpi terindahku. Sekalipun semua menjadi tak terkendali sekarang, aku sempurna menghidupkanmu di imajinasi. Betapa banyakpun masa yang berlalu.

Tapi waktu tidak menjadikanku seorang pelupa.

Masih segar diingatanku bagaimana dengan kejam Aku melukaimu. Aku ingat betul betapa banyak perlakuan yang pasti akan membuatmu mati-matian membenci. Kemudian aku harus legowo ketika mendapati kamu membalas dengan serapah yang membara, juga kutukan yang membabi buta.

Bukankah, Aku pantas menerimanya?!

Kadang, Aku merasa diriku, gadis polosmu dulu, telah bermetamorfosa menjadi wanita bengis layaknya aktris antagonis di film-film sadis.

“Apa salahku?” tanyamu.

Hari itu Aku tidak menjawabnya dengan jujur, kecuali segunung makian juga hinaan yang kemudian tak dapat lagi kutaksir jumlahnya. Kulontarkan padamu. Dalam hati Aku sadar bukan ini jawaban yang pantas kuberikan. Aku tau, sepenuh-penuhnya hatimu tulus mencintaiku.

Tapi… ada beberapa hal yang tak mungkin kita ubah seberapa keraspun kita mencoba, kemudian aku sadar, itulah takdir.

Kebersamaan kita haram dalam garis keturunanku, dan gadis berhijab adalah kutukan bagi keluargamu. Ini konflik yang membombardir kita dengan pilihan yang sulit.

Aku paham, bagaimana kita telah berusaha, jauh perjalanan yang kita susuri untuk memperoleh restu dari mereka. Namun bukan itu yang akan jadi akhirnya, kamu berusaha sekuat yang kamu bisa, perjuangan yang pada akhirnya berubah penyiksaan, ketika tahu kamu sangat menderita, itulah siksaan terberat untukku.

Di persimpangan akhirnya jugalah kita. Tak boleh saling menyalahkan bahwa yakinmu penuh pada cinta yang patut diperjuangkan, sedang percayaku mengutuh pada restu Tuhan yang menitip pada restu orang tuapun tak bisa diakali!

Ini bagian dari skenario Tuhan yang harus kita jalani dengan tabah.

Tak pernah terbersit pikiran bahwa akan ada cinta yang menggantikanmu. Aku ingin selamanya menjadikanmu mimpi indah hingga terus kututup mata seakan ketika membuka semua mimpi akan lenyap.

Kamu yang didapuk sebagai pusat dari semestaku, begitu aku percaya. Membuatku lalai bahwa selain kamu dan cinta kita ada kasih dan sayang yang harus dijaga, mereka yang kita panggil Ibu dan Ayah.

Lalu kemudian realita membawa kepastian, tak satupun dari mereka tidak melihat kita sebagai akhir yang bahagia. Kita harus berpisah, begitu tegas titah mereka. Begitu sempurnanya dongeng mereka. Hingga untuk mewujudkan, Aku terlebih dahulu harus menyudahi dongengku sendiri. Itu harga mati.

Aku lemah, Kamu yang paling tau.

Sempat Kamu menebak kemungkinan itu namun sekuatku kutepis segala pikiran burukmu tentang Ibu dan Ayah. Tentang keluarga kita yang terlahir dari keyakinan yang berbeda. Aku tak mau kamu menjatuhkan benci pada orang lain. Cukup padaku saja. Anggap aku yang salah karena kelemahanku, karena keingkaranku.

Lalu saat kamu memohon untuk kubertahan, Aku mencampakkanmu.

Jalinan yang telah kita pintal jadi satu, terbelah menjadi dua. Di sisi yang tak kuinginkan aku berdiri bersama harapan-harapan keluargaku, di seberang kamu berlalu dengan perih yang menyeluru dan ultimatum keluargamu.

Tak ada yang ingin kuhindari lebih dari ini. Namun, tak ada pilihan yang diberikan, semuanya buntu. Hanya ada Kamu dan mereka. Dan ketahuilah, aku tak ingin mengorbankan siapa-siapa, karena itu aku mengorbankan diriku.

Tak ada yang boleh lebih menderita dibandingkan aku. Tidak kamu, tidak mereka!

Karena itu, Aku pergi. Dan memaksamu untuk melupakanku lewat semua luka berdarah yang sengaja kujejalkan di hatimu. Biarlah selamanya Kamu membenciku. Biarlah selamanya kamu tenggelam dalam amarah yang tak tuntas, lantas benar-benar menyobek ingatan yang berlabel “Aku” di sana.

Biarlah…

Karena juga tak mungkin bagiku untuk tetap di sisimu dan membiarkan orang-orang yang kukasihi menyerangmu dengan bilah-bilah kecewa mereka. Mereka membawaku pada pilihan antara bersamamu dalam kedurhakaan atau kehilanganmu selamanya.

Dan dalam akal sehatku, aku tak ingin hidup dalam kecemasan, apalagi membiarkanmu menjadi orang buangan, aku ingin kamu tetap memiliki akhir yang bahagia sekalipun itu bukan denganku.

Sekarang, Kamu harus mengaku bahwa apa yang kuramalkan benar-benar terjadi, bukan?!

Lewat jejaring sosialmu, Aku tahu seberapa bahagia hidupmu kini, betapa kalian tengah saling jatuh cinta, dan betapa semangatnya kamu mewujudkan mimpi-mimpi indah yang dulunya hanya ada namaku, berganti namanya.

Dialah yang kumaksud, gadis cantik di bayanganku, Permaisuri yang akan menguasai seluruh hatimu, bidadari yang akan menjagamu lebih baik dariku. Cinta yang pernah kuramalkan sebelumnya. Namun mati-matian kau sangkal bahwa dia tak akan pernah ada.

Aku tak akan menertawaimu, sekalipun aku merasa sangat konyol sekarang. Bukankah kau tau, aku peramal sekaligus penonton yang baik?!

Percayalah, hadirnya adalah sebagian dari do’aku.

Dialah yang sebenar-benarnya jawaban do’amu. Bukan aku.

Lalu aku?!

Biarkan aku berlalu, kecil harapan untuk peroleh maafmu, namun itu tetap pinta yang gaungnya ku semogakan, angan-anganku akan perdamaian selalu setia menggantung di langit-langit impi. Sejujurnya, Aku ingin menjadi kawanmu.

Lantas, jika kamu tanya cinta di hatiku. Jawabannya ia akan selalu menjejak untukmu, kendati semua berlalu dengan opsi-opsi sulit yang kuterima, ini tetaplah tanggunganku. Aku akan menjagamu lewat rapal-rapalku pada Tuhan. Di semua potong Dhuha dan Waktu-waktu lainnya. Jika tak ada waktu kita bersama di dunia, semoga Tuhan pertemukan kita di surga yang indah.