Aku mau share sedikit curhatan tentang ibuku. Beliau sudah meninggal ketika usiaku 14 tahun dan beginilah ceritanya…


Ibu adalah orang yang sangat berjasa dalam hidupku. Kisahku dengannya begitu banyak, namun di bawah ini adalah surat yang aku tulis dan aku berdoa semoga ibuku mendengar isinya. Satu tahun yang lalu surat itu aku kirimkan. Mengobati rasa rinduku pada ibu yang jauh di surga.

Advertisement


Surat untukmu Ibu, Malaikatku…

Jumat, 09 Desember 2016

Ya, kini aku terpaku dalam diam di depan layar komputerku. Entah apa yang akan kutuliskan kali ini untuk Ibundaku tercinta. Pukul 20.12, terlintas dalam benakku suatu kebimbangan yang tak menentu, namun aku ingin mencoba mencurahkannya di sini, aku mulai. Surat Untuk Ibu.


Advertisement

Assalammualaikum, Ibu…

Teruntuk Ibukku yang selalu dalam hati ini. Ibu yang kuharapakan selalu mengingatku dan tak lupa seluruh keluarga yang senantiasa mencintainya. Tak baik rasanya bila aku tidak menyapa ibu diawal surat yang kutulis. Ya, ibu, bagaimana kabarnya? Bahagiakah ibu di sana? Aku merindukanmu. Tak tahu kalimat seperti apa yang harus kuungkapkan untuk dapat meluapkan rasa rinduku padamu.

Bu, putrimu satu ini ingin menceritakan banyak hal yang telah kulalui hari lalu, minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu, mungkin hingga tiga tahun terakhir yang kulewati. Tapi, terlalu banyak sepertinya, bu. Baiklah, untuk melepas rinduku, aku akan menceritakan beberapa hal saja. Janjilah padaku untuk tidak mencoba menelisik perasaanku ketika menceritakan semua ini padamu. Aku Mohon.

Jujur, satu bulan terakhir tak terhitung berapa kali aku merasakan betapa hampanya hidupku ini, bu. Huh, bodohnya dari sekian banyak kehampaan yang kualami, hanya 20% dari keseluruhan aku tahu alasannya. Bagian besar dari kehampaan yang kujalani sehari-hari 70%-nya tanpa kuketahui alasan pastinya.

Pernah, suatu hari ketika kukayuh sepedaku di atas hamparan aspal hitam yang seharusnya di bawah terik matahari, namun ini berbeda. Aku menempuh jarak sekitar 3 km untuk pulang ke rumah. Dari 0 km sekolah menuju rumah hingga tepat di depan rumah aku menjalankan sepeda di bawah deras hujan yang setia detiknya sedikit demi sedikit mengguyur tubuhku yang terasa lelah letih.

Ibu, rasanya jarak 3 km terasa 100 km, sangat melelahkan. Entah apa yang terjadi padaku saat itu, untuk pertama kalinya aku membenci hujan. Pertama kali dalam hidupku, bu. Air mataku mengalir deras dalam guyuran hujan hatiku terasa hampa selepas aku meninggalkan sekolah. Bayangan-bayangan mengerikan muncul di depan kedua mata, merasuk dalam hati, merusak semua kenangan indah yang kusimpan dalam sanubariku.

Ya, air mataku tak tertahan dan jatuh beratus kali. Dulu, ibu tahu betapa aku sangat menyukai hujan, ibu tau bagaimana aku memohon kepadamu agar aku bisa merasakan air yang diturunkan Allah dari luasnya langgit, sangat sulit mendapat ijin darimu. Ayah adalah jurus andalanku agar aku bisa lolos dari ibu, sungguh mengesankan hal itu. Namun, ketika aku merasakan hujan tanpa harus meminta ijin pada ibu, bukan bahagia atau bebas yang kurasakan. Aku menderita.

Sesampainya aku di pertigaan sebelum rumah yang kudiami sekarang, kurang dari 50 meter mungkin kuusahakan menghentikan derasnya air mata yang mengalir, tanpa aku harus menghentikan hujan. Sebab aku tak mampu melakukannya, itu hanya kuasa yang Maha Besar Allah SWT. Kubuka pintu utama rumah, aku berusaha menguatkan tubuhku mengangkat sepeda sehingga bisa kuparkirkan di garasi. Basah kuyub seluruh tubuhku. Aku merasa sangat menyedihkan.

Saat itu, aku merasa seperti seorang siswi yang berjuang seorang diri dan hidup sebatang kara. Kepedihan yang luar biasa. Mengapa tidak? Aku tinggal dengan beberapa saudaraku yang kala itu berada di rumah, ya saat aku kehujanan. Tidak satupun kulihat batang hidung mereka, aku masuk ke kamar dengan membuat garis lengkung tersusun atas lingkaran-lingkaran kecil dari air yang menetes dari sekujur tubuh yang lengkap dengan seragam sekolah. Aku tahu, mereka berada di bilik mereka sendiri.


Oke, bu, aku tidak menghiraukannya. Deraian air mata kembali membasahi pipiku, aku tak mampu menahan bendungan air mata di kelopak mataku. Aku menangis meronta-ronta, begitu sakit karena tangisanku tidak mengeluarkan suara. Sakit.


Uraian kebahagian yang pernah aku rasakan muncul di sekelilingku, kenangan yang kembali setelah hilang beberapa saat di perjalanan pulang telah kembali. Aku sangat mengingat semasa aku SMP bagaimana kasih sayang ibu yang kamu berikan pada putrimu ini, sungguh luar biasa. Hampir setiap hari aku menempuh jarak 36 km untuk pergi ke sekolah, pulang pergi 72 km.

Kala itu, aku pernah merasakan menunggu begitu lama hanya untuk menunggu angkutan umum. Berjalan menelusuri jalanan hanya untuk mencari angkutan umum, tak jarang aku kepanasan di dalam angkutan umum, berdesak-desakan dengan penumpang lain, bersentuhan tubuh dengan orang yang tak kukenal, bahkan bersentuhan dengan banyak binatang. Masih ingat, ayah sering menjemputku dengan motor andalannya yang kita sebut 'Win' motor dinasnya saat menjadi kepala desa.

Tak mungkin kulupa, aku pernah merasakan kehujanan di jalan menuju rumah. Hujan dari mulai keluar sekolah hingga masuk atap garasi rumah. Bukan karena kini aku mengharapkan perhatian saudaraku. Namun, ibu, hatiku teriris perih mengingat betapa tulus kasih sayangmu pada putrimu ini. Kau marahi aku karena tak mengenakan jaket anti air yang dibawakan ayah, dan aku selalu menjawab "Hujan terlalu berharga jika aku sia-siakan begitu saja".

Walaupun kau marahi aku diawal, bu. Betapa aku mencintaimu. Kau siapkan handuk untukku, kau siapkan baju ganti untukku, kau yang selalu membantu membawa beban beratku tak lain tak bukan tasku sekolah yang begitu terasa berat bercampur dengan air, bahkan kau sudah menyiapkan air hangat untukku mandi.


I love you so much. Kau rela membuang waktumu hanya untuk mengeringkan buku-buku sumber ilmuku yang basah kuyup, kau telah menyiapkan wedang jahe kesukaanku, dan selimut untuk menghangatkan tubuhku. Untuk kerelaanmu mengantarku ke terminal pagi pagi buta dan menjemputku saat senja mulai terlihat, matahari mulai meninggalkan bumi, terimakasih banyak, ibu.


Sungguh hal yang tak akan mungkin kurasakan lagi kini. Begitu hampa kehidupanku, mengulang kejadian yang sama namun berbeda runtunan cerita. Aku menangis, bu. Aku masuk rumah tanpa ada yang menyambut, tidak berlebihan karena yang menyapa pun tak ada. Seperti itulah rasa takut yang aku rasakan saat pertama kau meninggalkanku.


Liang lahat harus memisahkan jarak diantara kita. Aku benar-benar kehilangan sosok malaikat tanpa sayap yang selama ini menaruh begitu besar perhatian padaku. Begitulah yang kurasakan saat itu juga.


Hingga akhirnya aku sadar, tidak baik untuk tubuhku jika aku hanya berdiam dalam tangis saat tubuhku masih basah kuyup. Kuputuskan untuk melepas tasku yang masih tersimpar di bahuku. Ku lepas kerudungku dan aku segera mandi. Mandi membuat pikiranku sedikit lebih tenang, bu. Usai mandi, aku mengambil air wudhu dan solat. Tak sadar saat aku membuka mata, masih dalam balutan kain mukena ibu dan memegang ponsel yang menampilkan gambar wajahmu, aku tertidur di atas sajadah, bu.

Ya, secuil ceritaku kala itu, kala aku tidak bersamamu lagi, tanpa dirimu di sisiku, bu. Hanya kehampaan yang kurasakan. Sudah kuhabiskan ratusan menit hanya untuk menulis surat dengan secuil cerita tadi. Maafkan aku jika harus merepotkan ibu untuk membaca rangkaian kata yang kutulis ini.


Satu hal yang kuketahui, hal yang sangat menyedihkan adalah ketika sudah jelas bahwa surat yang kutulis tidak akan mungkin sampai di tangan ibu. Apalah daya. Tahun lalu aku menulis surat untuk ibu dan ada balasannya. Walaupun tidak berupa selembar kertas yang kudapatkan, namun kebahagian ada bersamaku.


Aku tahu jika aku tidak mampu mengirimkan surat ini padamu, bahkan jika aku gunakan wessel terbaik dunia pun, tak akan mampu. Tapi, aku tahu apa yang harus kulakukan. Putrimu masih memiliki sedikit kekreatifan. Allah Maha Kuasa dan Allah Maha Mengetahui. Tidak ada satu hal pun yang tidak diketahui-Nya.


Maka aku berdoa "Ya Allah, Engkau tau betapa aku sangat merindukan ibuku, betapa tulus hatiku mencintai dan menyayangi Ibuku, dan betapa aku menghargainya. Ya Allah, ampuni segala dosa dan kesalahan hambamu ini, ampuni dosa dan kesalahan almarhumah ibuku, berikan ibuku tempat yang sempurna, dan ampuni segala dosa ayah serta keluargaku. Ya Allah, aku mohon sampaikan isi surat yang kutulis malam ini pada ibuku yang tecinta. Jagalah dia dan tetap berilah kebahagian untuknya. Jangan lupa, sampaikan rinduku yang sangat mendalam padanya. Kabulkanlah doaku Ya Allah, Aamiin Ya Rabbalalamin."


Tak lupa aku panjatkan doa untuk kedua orangtuaku. Diawal telah kukatakan bahwa jangan pernah mencoba masuk terlalu dalam pada ceritaku, jangan menelisik bagaimana perasaan yang kualami. Bukan maksud hati ini mencoba melarang-larang mu, buk. Aku hanya tidak ingin membuat ibu terlalu risau dan gelisah memikirkan apa yang terjadi padaku.

Tetaplah bahagia di surga Allah sudah membuatku merasakan kebahagiaanmu, bu. Putrimu ini memang merindukanmu, sungguh dalam kerinduanku. Ibu, kumohon bahagialah di sana selamanya. Tunggu sampai waktu kita berkumpul. Aku akan selalu berusaha untuk bahagia. Tidak akan menyerah untuk menghadapi kehidupan fana dan keras ini. Akan kulakukan yang terbaik untuk keluarga kita.

Akan kuusahakan aku bisa istiqomah menjadi hamba Allah, menjadi anak sholehah yang berbakti pada orangtuanya inshaAllah seperti baktinya Sahabat Rosulullah Uwais Bin Amir yang begitu berbakti pada Ibunya, serta menjadi orang yang berbudi pekerti baik. Aamiin.

Cukup, aku tidak mau terlalu larut dalam kesedihan. Maksud hati menulis surat ini, kata demi kata kususun secara berurutan walaupun mungkin tidak terstruktur untuk berpartisipasi dalam kegiatan organisasi di sekolah. Memperingati Hari Ibu, begitulah katanya. Bagiku, setiap hari adalah hari ibuku. Sungguh aku mencintai ibu. Sebentar lagi Hari Ibu. Artinya sebentar lagi Hari Ulang Tahun ibu. Jika 22 Desember adalah hari Ibu, maka 18 Desember adalah Harimu bu.


Ku ucapkan, "Selamat hari ibu. Selamat atas hari kelahiran ibu. Ku berharap ibu akan selalu mengingat Galuh, Eya, Ayah, dan semua. Selalu bahagia yang pasti. Bu, tetaplah dihatiku untuk selamanya. Bu, bagaimanapun keadaannya, tetaplah doakan putri-putri dari surga. Bu, selalu dampingi kami dengan doamu. Ibu, restuilah setiap langkah kami dalam kebenaran. Tegur kami dengan caramu saat kami salah…


Ibu, selamat hari ibu. Kau adalah segalanya bagiku. Galuh mencintaimu, bu. Ibu akan tetap menjadi malaikat tanpa sayap yang pernah kumiliki di dunia ini. I love you, Ibu Sri Rahayu Hidayati. Alm. Ibu Sri Rahayu Hidayati. Telah kuselesaikan surat yang kutujukan untuk ibuku, sekarang aku ada di depan televisi. Menikmati acara-acara TV yang bismillah menghiburku. Karena menulis surat untuk peri cintaku membuatku menguras air mata. Aku berusaha untuk bahagia. Terimakasih, untuk kesediaan Ibu.

Wassalammualaikum Wr. Wb.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya