Siapa nih yang merasa agak aneh saat melihat cowok pesan matcha? Di sisi lain, ketika ada cewek yang pesan kopi hitam tanpa gula, responsnya justru sering berbeda. Bukannya dianggap aneh, dia malah bisa dibilang keren, atau beda.
Padahal, dari dua pilihan minuman tersebut, sebenarnya nggak ada yang secara khusus ditujukan untuk laki-laki atau perempuan. Namun, masyarakat punya cara tertentu dalam memberi label pada makanan dan minuman: ada yang dianggap lebih “cowok”, ada pula yang dianggap lebih “cewek”.
Pemberian label inilah yang menarik untuk dibahas. Kenapa kopi hitam bisa dianggap maskulin, sementara matcha atau minuman manis lebih mudah diasosiasikan dengan perempuan? Dan kenapa reaksi terhadap laki-laki dan perempuan yang memilih “minuman yang salah” bisa berbeda?
Untuk membahasnya, kita bisa menggunakan istilah “gender minuman”, yaitu cara kita mengaitkan jenis minuman tertentu dengan karakter maskulin atau feminin.
Apa Itu Gender Minuman?

Kopi untuk pria matcha untuk wanita-canva via canva.com
Gender minuman adalah istilah untuk menggambarkan anggapan bahwa jenis minuman tertentu lebih cocok, pantas, atau identik dengan laki-laki maupun perempuan.
Penting untuk digarisbawahi, ini bukan berarti minuman secara biologis mempunyai gender. Minuman tentu nggak punya gender. Istilah ini merujuk pada konstruksi sosial, yaitu makna dan label yang terbentuk dari kebiasaan, budaya, media, tren, hingga pemasaran.
Dengan kata lain, ketika kopi hitam dianggap lebih cocok untuk laki-laki atau minuman manis dianggap lebih feminin, yang bekerja sebenarnya adalah stereotip. Minuman tersebut mendapatkan citra tertentu, lalu citra itu ikut dilekatkan kepada orang yang meminumnya.
Padahal, seseorang bisa memilih minuman karena banyak alasan. Bisa karena rasa, kebutuhan kafein, kebiasaan, harga, tren, atau memang sedang ingin mencoba sesuatu yang baru. Jadi, pilihan minuman nggak secara otomatis menunjukkan gender atau karakter seseorang.
Kenapa Matcha Dianggap Lebih Feminin?

Kreasi matcha-canva via canva.com
Di media sosial, matcha sering hadir lewat konten dengan visual yang estetik. Ada latte art, dessert matcha, suasana kafe, sampai berbagai kreasi minuman dengan warna hijau yang khas.
Paparan visual dan konteks tersebut bisa ikut membentuk citra tertentu terhadap matcha. Ketika suatu minuman berulang kali ditampilkan dalam konteks yang lembut, manis, cantik, atau estetik, sebagian orang akhirnya bisa mengasosiasikannya dengan sesuatu yang feminin.
Hal ini kemudian bisa terlihat ketika laki-laki yang memesan matcha justru menjadi bahan pembicaraan. Pilihan yang sebenarnya hanya berkaitan dengan selera bisa ikut dikaitkan dengan persepsi tentang maskulinitas.
Padahal, matcha sendiri hanyalah teh hijau bubuk yang bisa dinikmati siapa saja.
Bahkan kalau kamu suka matcha karena rasa umami dengan aroma khasnya, ya itu alasan yang jauh lebih sederhana daripada menentukan minuman berdasarkan gender.
Sekarang coba bayangkan kopi yang sering dianggap lebih “kuat”: kopi hitam, espresso, americano tanpa gula, atau kopi tubruk pahit.
Jenis minuman seperti itu kerap dikaitkan dengan kesan sederhana, dewasa, kuat, bahkan tangguh. Sebaliknya, minuman dengan susu, gula, sirup, whipped cream, atau rasa buah lebih mudah mendapatkan citra feminin.
Anggapan tersebut ternyata juga pernah diteliti. Dalam penelitian berjudul Kopi Hitam dan Laki-Laki dalam Persepsi Perempuan di Kota Padang yang diterbitkan di Jurnal Perspektif: Jurnal Kajian Sosiologi dan Pendidikan, Olivia Anjani dan Mira Hasti Hasmira yang membahas soal faktor kopi hitam identik dengan laki-laki. Penelitian kualitatif tersebut menemukan bahwa kopi hitam dipersepsikan sebagai minuman yang kuat dan dianggap melambangkan kegagahan laki-laki. Persepsi tersebut juga berkaitan dengan stereotip tentang laki-laki pekerja keras dan sosok kepala keluarga.
Dari sini kelihatan bahwa citra maskulin pada kopi nggak muncul begitu saja. Ada pandangan sosial dan budaya yang membuat rasa pahit serta kesan kuat pada kopi ikut dikaitkan dengan karakter laki-laki. Padahal, kopi tetap cuma kopi. Seseorang yang suka espresso bukan berarti lebih maskulin. Begitu pula laki-laki yang memilih caramel latte nggak otomatis menjadi kurang maskulin. Kalau lidahnya suka manis, ya kenapa harus dipaksa minum pahit?
Gender minuman juga dibentuk pemasaran

Matcha vs Kopi – canva via canva.com
Kalau selama ini kamu mengira stereotip soal minuman cuma lahir dari candaan di media sosial, coba lihat bagaimana produk-produk minuman dipasarkan. Warna, desain kemasan, pilihan rasa, nama produk, sampai gaya iklan bisa membentuk kesan tentang siapa yang dianggap cocok mengonsumsi sebuah minuman. Produk dengan warna pink, rasa buah, rasa manis, atau tampilan yang lembut misalnya lebih mudah diasosiasikan dengan perempuan.
Sebaliknya, minuman dengan warna gelap, rasa yang kuat, atau narasi tentang energi dan ketangguhan lebih mudah dikaitkan dengan laki-laki. Ketika gambaran seperti ini muncul terus-menerus, lama-lama kita bisa menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Kita terbiasa melihat minuman manis dan cantik sebagai sesuatu yang feminin, sementara rasa pahit dan tampilan sederhana dianggap lebih maskulin.
Padahal, nggak ada hubungan alami antara rasa, warna, atau tampilan minuman dengan gender seseorang. Label tersebut terbentuk karena kita terus melihat pola yang sama, baik dari iklan, media sosial, budaya populer, maupun lingkungan sekitar. Akhirnya, pilihan minuman pun bisa ikut dinilai berdasarkan gender.
Kenapa standar untuk cowok dan cewek beda?

Ice coffee & Matcha Drink-canva via canva.com
Ini bagian yang sebenarnya paling menarik. Kalau seorang perempuan menyukai sesuatu yang dianggap maskulin, respons orang sering kali justru positif.
Pilihan tersebut bahkan bisa membuat perempuan dianggap lebih mandiri, dewasa, atau punya karakter kuat.
Sebaliknya, ketika laki-laki memilih sesuatu yang dianggap feminin, responsnya bisa jauh lebih negatif.
Kenapa bisa begitu?
Salah satu penjelasannya adalah adanya hierarki dalam stereotip gender. Sifat yang dianggap maskulin masih sering dipandang sebagai sesuatu yang lebih kuat atau bernilai, sementara sifat yang dianggap feminin lebih mudah dijadikan bahan ejekan ketika muncul pada laki-laki.
Akibatnya, perempuan yang dianggap “masuk” ke wilayah maskulin bisa mendapatkan citra keren atau tangguh. Sementara laki-laki yang dianggap “masuk” ke wilayah feminin justru bisa merasa perlu membuktikan bahwa dirinya tetap maskulin. Padahal, keduanya sama-sama cuma sedang memilih minuman.
Ketika selera ikut jadi ujian maskulinitas

Kopi & matcha strawberry via canva.com
Di titik ini, persoalannya bukan lagi soal matcha atau kopi, melainkan tekanan untuk menyesuaikan selera dengan gambaran tentang laki-laki yang dianggap “seharusnya”.
Bayangkan seorang cowok yang sebenarnya suka matcha karena menikmati rasa umami dengan sedikit pahit. Namun, karena matcha sudah lebih dulu diberi label feminin, bisa saja muncul keraguan sebelum memesannya. Bukan karena dia tiba-tiba nggak suka matcha, tetapi karena takut komentar orang di sekitarnya.
Hal serupa bisa terjadi ketika dia memilih caramel latte, cokelat, atau minuman dengan whipped cream. Pilihan yang seharusnya sederhana malah bisa memunculkan pertanyaan dalam kepala, “Nanti dibilang apa, ya?”
Di sinilah selera yang mestinya personal bisa berubah menjadi semacam ujian sosial. Seseorang bukan lagi sekadar mempertimbangkan rasa yang dia suka, tetapi juga memikirkan apakah pilihannya cukup “maskulin” untuk diterima lingkungan.
Padahal, rasa pahit nggak membuat seseorang lebih jantan. Begitu pula rasa manis nggak mengurangi maskulinitas seseorang. Secangkir kopi tanpa gula juga bukan ukuran seberapa kuat seorang laki-laki.
Begitu juga ketika perempuan memilih kopi hitam. Nggak ada yang salah kalau dia memang menyukai rasanya. Namun, pilihan tersebut juga nggak perlu otomatis dianggap membuatnya lebih keren hanya karena dia menikmati sesuatu yang selama ini dicap maskulin.
Selera Nggak Punya Gender

Matcha vs coffee latte-canva via canva.com
Minuman nggak mempunyai gender secara biologis. Yang punya label gender adalah cara manusia memandang dan membicarakan minuman tersebut. Label tersebut terbentuk dari kebiasaan, budaya, pemasaran, media, tren, dan stereotip yang terus diulang sampai terasa normal.
Nggak perlu terlalu sibuk menentukan minuman mana yang “punya” cowok atau cewek. Kamu nggak menjadi lebih keren hanya karena minum kopi pahit. Kamu juga nggak menjadi kurang maskulin hanya karena suka matcha.
Sebab, selera seharusnya nggak perlu melewati tes gender sebelum boleh dinikmati. Jadi, lain kali kalau melihat cowok pesan matcha atau cewek pesan espresso, mungkin nggak perlu buru-buru memberi label. Bisa jadi mereka cuma sedang memesan minuman favoritnya.
Dari pilihan minuman yang kelihatannya sepele, kita bisa melihat bagaimana stereotip gender bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Dan mungkin, sudah waktunya kita berhenti menilai seseorang dari apa yang ada di dalam gelasnya.
Gimana nih, punya pengalaman serupa soal “minuman cowok” atau “minuman cewek”? Share artikel ini ke teman atau circle kamu dan lihat apakah mereka juga pernah mengalami atau melakukan hal yang sama yaa. Siapa tahu, dari obrolan sederhana soal minuman, kita jadi sadar kalau selera ternyata nggak pernah punya gender. Buat penggemar kopi, baca juga nih artikel cara unik minum kopi di berbagai negara.
FAQ
Apakah matcha termasuk minuman perempuan?
Nggak. Matcha bisa dinikmati siapa saja. Anggapan bahwa matcha lebih feminin berkaitan dengan citra, tren, pemasaran, dan stereotip yang berkembang dalam konteks sosial tertentu.
Kenapa kopi sering dianggap maskulin?
Kopi, terutama kopi hitam, sering dikaitkan dengan karakter seperti kuat, pahit, dewasa, dan tangguh. Penelitian tentang persepsi kopi hitam di Kota Padang juga menunjukkan adanya anggapan bahwa kopi hitam melambangkan kekuatan dan kegagahan laki-laki.
Apakah cowok boleh minum matcha?
Tentu saja. Memilih matcha hanya berarti seseorang menyukai minuman tersebut. Nggak ada hubungan antara pilihan matcha dengan tingkat maskulinitas seseorang.
Apa yang dimaksud gender minuman?
Gender minuman adalah istilah untuk menggambarkan label sosial terhadap jenis minuman tertentu yang dianggap lebih maskulin atau feminin. Label tersebut bisa terbentuk melalui budaya, kebiasaan, media, tren, dan pemasaran.