Hai, Jiwaku.

Hari ini aku ingin menyapamu dan mengajakmu berbahagia. Jangan tanya mengapa, selama ini aku telah membuatmu bertahan dalam kesedihan. Aku terlalu memaksamu untuk mengeluarkan tenaga yang begitu besar untuk kepuasan diriku sendiri dengan tangis yang begitu lama. Aku pikir dengan menangis semua selesai, lega. Namun ternyata tidak, malah semakin parah. Aku membuatmu berpikir keras, sampai lupa bahwa hari telah berganti.  Aku memaksamu mengingat kembali semua kenangan pahit yang pernah kulalui dan terus melukaimu di dalam sana.

Advertisement

Hai, Jiwaku.

Aku tahu, saat aku memaksa melihat ke dalam cermin, pancaran cahaya mata itu ingin aku berhenti dan kembali melanjutkan hidup seperti biasanya. Aku tahu, setiap kali beranjak keluar, kau selalu mengatakan ‘lihatlah, indah, bukan? Kenapa harus berlama-lama?’ Aku tahu, setiap kali menutup mata dan mengatupkan tangan untuk berdoa kau selalu bilang ‘masih ada harapan’. Aku tahu, setiap kali menginjakkan kaki untuk berlari dilapangan itu, kau selalu bilang ‘aku ini hebat’. Aku tahu, kau ingin aku selalu kuat menghadapi hidup.

Hah. Namun aku membiarkanmu mendekam dalam penjara dan tak mengizinkanmu untuk berpendapat lagi. Aku tetap memaksamu untuk berbuat hal bodoh, tak mempercayaimu, dan terus menyalahkanmu. Menyalahkanmu untuk hal yang telah lewat, menyalahkanmu untuk terus bertanya ‘mengapa’ hingga membuatmu penat. Membuatmu sakit, sangat-sangat sakit. Aku tak mendengarkan semuanya. Aku tetap bersikeras dengan keinginanku bahwa dengan terpuruk seperti itu, aku akan membaik dengan sendirinya. Aku mengabaikanmu, tak mendengarmu yang ternyata saat kurenungkan saat ini, aku yang terlalu bodoh. Kau layak untuk tertawa dan bahagia menikmati hari dengan cinta yang telah ditebar oleh Sang Pencipta yang selama ini tak kau lihat.

Advertisement

Hai, Jiwaku. 

Maafkan aku yang egois mementingkan diriku sendiri tanpa berpikir akan keadaanmu jauh di dalam sana. Kali ini, aku tak akan membuatmu menangis lagi. Aku akan mendengarmu dengan sungguh, aku tak akan membuatmu tidur larut lagi atau bahkan membuatmu terbangun dini hari hanya untuk mengingat segala sesuatu yang tak perlu. Aku mengatakan semua hal ini dengan tangan yang menyentuh jantungku, aku tau dengan begitu kamu dapat merasakan betapa sayangnya aku padamu.

Hai, Jiwaku.

Kau tahu? Tuhan tidak menutup mata untukmu yang pernah berduka. Semua yang kita lalui bersama adalah pelajaran yang akhirnya membuat kita mengerti, level kita sudah semakin naik. Hai, Jiwaku, maafkan aku yang telah membuatmu bersedih selama ini. Kali ini, aku akan berani berdiri di depan cermin. Aku ingin mengatakan bahwa ‘aku adalah yang terhebat yang pernah diciptakan. Aku kuat karena Tuhanku ada bersamaku. Aku akan menemukan cinta baru yang akan membuatku bahagia'. Hai, Jiwaku, kau sangat berharga, aku mencintaimu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya