Percayalah, aku menulisnya kali ini tanpa air mata

Mari kita mulai kembali, mengakhiri apa yang memang harus diakhiri. Mungkin sudah beribu kali mengulang kata memulai dan mengakhiri sejak sekian tahun silam kita bersepakat untuk menjadi dekat, sampai kita bosan. Sampai kita lelah. Namun kali ini, aku pastikan kita akan benar-benar mengakhiri semua jejak kenangan yang melekat. Semua bentuk komunikasi. Semua temu yang dulu selalu kita tunggu-tunggu.

Terdengar klise memang. Kita bahkan sudah mengakhirinya sejak lama bukan? Mengapa masih saja diulang-ulang? Mengapa rasanya selalu seperti ada yang belum selesai? Atau kita saja yang belum cukup ikhlas melepaskan? Meski tahu semuanya akan sia-sia. Bahwa kita memang sulit bersatu. Begitu bukan?

Advertisement

Tapi sudahlah, kita tidak perlu lagi membenarkan atau menyalahkan keadaan. Selayaknya dua orang dewasa yang memilih bahagia, mari kita sepakat untuk menutup semua cerita, drama, jatuh bangun, kenangan dan semua yang selalu membuat kita bimbang untuk membuka hati bersama orang baru. Baiknya kita bijaksana bukan? Menerima sebuah kenyataan bahwa aku dan kamu tidak tercipta menjadi sepasang.

Kita tahu kita sama-sama lelah mengupayakan. Sama-sama bingung harus berbuat apa setelah kita sampai di titik ini. Sama-sama mengerti bahwa sesuatu yang dulu sangat kita impikan sekarang hanyalah mimpi2 yang cukup kita simpan dan suatu saat akan kita kenang sebagai pengalaman hidup yang mengesankan. Sesederhana itu.

Baiklah, di surat kali ini aku sedang tidak ingin bernostalgia. Karena ku tahu itu bukan lagi waktunya. Melenyapkanmu dari pikiran dan hidupku saat ini adalah sebuat resolusi yang harus tercapai tahun ini. Bahkan target ini sudah kupasang dari jauh-jauh hari. Maka tolong, bantu aku mewujudkannya.

Advertisement

Akhirnya, pelajaran ikhlas yang begitu besar harus kembali kita maknai. Semangat ya! Semoga hidupmu ke depan diliputi banyak keberkahan dan kebahagiaan. Doakan aku yang akan menggenapi separuh agama-Nya bersama orang baru. Dia yang telah bertamu sejak hampir 1,5 tahun lalu. Sekarang aku perlahan telah membukakan pintu untuknya. Menyiapkan rumah ternyaman yang bisa ia tinggali nantinya. Doakan ya!

Sampai bertemu di kesempatan yang lebih baik. Pastinya saat dua dari kita yang tak akan lagi merasakan romansa yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Saat kita bisa benar-benar paham bahwa jalan hidup yang Dia berikan adalah yang terbaik daripada apa yang kita inginkan. Semoga kamu lekas menemukan dia yang terbaik.

Aku Pamit..

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya