Sepintas ia hanya seperti perempuan biasa, sepintas ia tanpa kelebihan apapun, sepintas ia hanya seorang wanita yang sudah mulai lemah. Mama tidak terlihat rupawan seperti ibu-ibu lainnya, tetapi ketika kamu mengenalnya, ketika kamu sudah merasakan sentuhan kasih sayangnya, lembut tanganya dan manis kata-katanya kamu kan mengenali bahwa Mama adalah sosok paling luar biasa dan paling rupawan di dunia ini.

Mama adalah Nama Lain Dari Kasih

Advertisement


Kasih Ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia


Advertisement

Benar-benar tak pernah selesai kasih yang Mama berikan. Dengan kelembutannya selama ini, Mama besarkan dan didik semua anak-anaknya terutama anak gadisnya. Dijagainya bagaikan intan yang berharga bahkan sangat amat berharga. Tak diijinkan intannya tergores apalagi hilang dari genggamannya.

Hanya potret masa kecil yang kulihat untuk dapat menceritakan seperti apa kasih sayang Mama. Ingatan masa kecil sudah pudar di memori ini.

Potret pertama tentang sebuah kue ulang tahun, betapa engkau menyempatkan waktu membuat sebuah tart untuk anakmu yang masih kecil ini Mama. Dengan penuh hiasan warna-warni engkau menjadikannya indah.

Potret kedua adalah mengejar gadis kecil kesayanganmu di jalan. Saat itu gadis kecilmu sudah mulai berlari. Betapa engkau menjaganya agar tidak terantuk, betapa engkau menjaganya agar tidak salah jalan. Engkau melakukannya sampai sekarang Mama.

Potret ketiga adalah hari pertama gadis kecilmu mengenakan seragam Putih-Merah, betapa dengan bangga engkau abadikan momen ini. Kemeja dan Rok kecil yang engkau buat sendiri dengan mesin tuamu. Itu kebanggaanku Mama. Aku mengawali pendidikanku dengan seragam sederhana yang engkau jahit sendiri dengan tangan lembutmu.

Lama berselang barulah potret keempat kudapati… Tentang seorang wanita yang kini sudah dewasa dengan toga wisudanya. Mama masih berdiri disampingnya, dengan senyum bangga dan penuh kebahagiaan. Sejenak aku melihat bahwa keriput di wajahnya sudah nampak, beberapa uban kelihatan di sela rambutnya. Berbeda sekali rupanya dengan sosok Mama di potret ketiga.

Yaa… dia Mama yang membesarkan dan memeberikanku pendidikan.

Tak lama kemudian potret kelima kutemukan diantara kamus dan tumpukan buku… Mama dengan senyum yang lebih lebar bersama dengan Papa tercinta. Mereka berdiri disamping Gadis kecil yang sudah dewasa dengan toga wisuda keduanya. Aku seakan kembali pada kenangan hari itu. Mama menangis ketika namaku disebut dari podium.

Aku lupa mengucapkan terima kasih padamu Mama. Aku lupa mengucapkan terima kasih untuk begitu banyak pengorbananmu. Aku lupa meminta maaf telah menyakiti hatimu.

Mengapa Mama Tidak Merawat Diri?

Wajahnya layu, mulai kendor dan bahkan sudah ada keriput di sana-sini. Bukan karena Mama tidak menyayangi dirinya, tetapi Mama tidak punya waktu untuk melakukannya. Mama terlalu sibuk memenuhi kebutuhan anak gadisnya. Ia bekerja, ia mendayung mesinnya agar anak gadisnya mendapatkan yang terbaik. Mama hanya memakai baju yang ditambal, sedangkan anak gadisnya selalu mendapatkan baju baru. Mama tidak pernah terlambat memberikan uang saku pada anak gadisnya di setiap bulannya, walaupun kadang ia lupa membeli bedak untuk wajahnya.

Mama mendayung mesin, menyambung lembar demi lembar kain agar anak gadisnya mendapatkan pendidikan yang terbaik. Ia lupa merawat tubuhnya. Ia lupa memakai lulur, ia lupa merawat wajahnya. Mama harus terjaga sepanjang malam untuk menyelesaikan pesanan para pelanggan. Kadang Mama harus bekerja sendiri, hanya sebuah lampu kecil dan suara jangkrik yang menemaninya. Ia terlihat semakin menua, ia terlihat lelah dengan rutinitasnya. Ia lupa merawat tubuhnya, bahkan kesehatanpun tidak diperhatikannya.

Asam urat dan sakit kepala menjadi keluhannya, ia benar-benar lupa akan kesehatannya. Suatu ketika ia terbaring di rumah sakit, saat itu aku di sampingnya. Ia mengatakan “untung ada anak perempuan Mama”, tidak Ma. Akulah yang beruntung karena memiliki engkau. Wanita yang tidak pernah mengeluh, wanita yang selalu penuhi kebutuhan anak gadisnya. Tidak kudapati wanita lain sepertimu Mama, akulah yang beruntung terlahir dari rahimmu.

Bahagia Mama, Bahagia Gadis Kecilnya

Kadang aku bertanya pada Mama. Mama ingin makan apa? Jawaban Mama bukanlah nama atau jenis makanan yang diinginkannya. Jawabannya adalah “Apa yang bisa dimasak untuk Mama, itulah kesukaan Mama” Aku tak pandai memasak sepertimu. Aku tak pandai mengolah sayur, ikan, telur dan daging. Semua masakanku sederhana, tetapi engkau mengatakan bahwa itu enak. Terima kasih Mama.

Hari ini, aku akan mulai melihat dari sisimu. Betapa bahagiamu adalah bahagiaku juga. Betapa inginmu adalah inginku juga. Aku mulai berpikir bahwa sudah waktunya untuk membahagiakanmu, bukan untuk membayar semua jerih lelah dan pengorbananmu Mama, tetapi hanya sebatas untuk berterima kasih padamu. Kini, Mama ceritakanlah apa yang menjadi inginmu, hingga aku dapat menata hidupku, aku dapat menata diriku menjadi seperti impianmu bagi diriku selama ini.

Aku tahu, ketika engkau melihatku pada saat pertama kalinya aku ada di dunia ini, menggendongku dalam pelukanmu, engkau sudah merencanakan sebuah masa depan yang terbaik bagiku. Dalam benakmu tentu engkau telah menginginkan aku menjadi seseorang yang sangat baik dan rupawan. Ceritakanlah inginmu. Agar dalam sisa harimu, aku dapat menunjukkan bahwa aku mampu jadi inginmu. Aku mampu buatmu bahagia, mampu membuatmu mengatakan “Anak gadis Mama telah menjadi yang terbaik bagi Mama”.

Membanggakanmu, itulah inginku..

Tak membuatmu kecewa dan malu, itulah inginku…

Membuatmu tersenyum dan tanpa air mata kepedihan, itulah inginku…

Membuatmu disanjung, itulah inginku..

Menjadikanmu bahagia, itulah inginku…

Inginku. Engkau menceritakan apa bahagiamu agar aku dapat mewujudkan bahagiamu…

Selamat Hari Ibu teruntuk Mama Tjeu Sun Nio dan semua Mama hebat lainnya

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya