Hari itu ntah apa yang membuat menjadi tak biasa hingga aku rasa semua orang menjadi sangat berbeda. Seperti biasanya pagi ku mulai dengan membersihkan kamar setelahnya membersihkan diri. Mempersiapkan diri untuk pergi ke kampus berburu buku-buku untuk menambah refrensi dalam tugas akhirku. Namun tertunda beberapa puluh menit untuk menerima telefon dari orang yang selalu ingin tahu keadaanku dan selalu membawa namaku dalam setiap doa-doa di malam sunyinya.

Dan selesailah percakapan pagi itu dalam susana yang kurang enak, kuputuskan untuk berangkat ke kampus. Selang beberapa hari kami tak juga berkomunikasi lagi. Disisi lain merasa sedih karena tak bisa memberikan jawaban yang melegakan tapi disisi lain juga merasa bahwa aku berhak memutuskan apa yang ingin aku lakukan dengan hidupku. Hari berganti dan suasana tak juga berubah, ntah apa yang sedang dipikirkan oleh mereka yang ada jauh dariku mengingat aku memilih untuk melanjutkan masa-masa kuliah jauh dari keluarga dan tanah kelahiranku.


Jika Boleh Jujur Aku Enggan Untuk Menjalin Hubungan.


Ada cerita dimana aku memilih untuk fokus dengan hidup dan diriku sendiri. Tak ingin terlalu perduli dengan orang lain, tak ingin berharap dengan orang lain, tak ingin menyia-nyiakan hidup untuk hal menye perkara cinta, tak ingin ada yang mengontrol hidupku, tak ingin ada yang mengikat diriku dan masih banyak tak ingin lainnya. Bayang-bayang itu selalu melintas saat ada dia dan mereka yang mendekat bahwa beberapa membuatku begitu khawatir apa yang akan terjadi selanjutnya.


Aku hanya tak ingin terluka.

Advertisement

Aku tak ingin menjadi si penanti selanjutnya.


Aku pernah terluka bukan hanya sekali dan aku tak ingin sisa dari kepingan semangatku untuk memperjuangkan masa depan kembali terusik karena perasaan dan euforia yang lain. Bukan aku memang si penanti itu, tapi saat itu aku melihatnya dan aku merasakan.

Bagaimana tatapan terluka itu, bagaimana kebahagiaan itu tenggelam begitu saja, bagaimana tangis putus asa itu, bagaimana caranya melukai diri untuk mengakhiri hidup, bagaimana makian dan segala sumpah serapah itu diucapkan, bagaimana benda-benda itu melayang dan hingga aku tak lagi bisa membayangkan apa yang hari-hari berikutnya akan terjadi.

Aku belum paham betul apa yang terjadi, setiap hari hanya hal seperti itu yang terus menerus menjadi tontonan. Hingga seiring berjalannya waktu dan aku mulai beranjak menjadi remaja labil aku sadar apa yang terjadi.


Ada si pengkhianat dan si penggoda dalam kehidupan percintaan si penanti dan si pengkhianat.


Si penanti memutuskan untuk menyerah dan menginginkan perpisahan karena tak lagi sanggup menahan luka bertahun-tahun. Setelahnya dengan mudahnya sang pengkhianat memilih untuk mempertahankannya dan tak ingin berpisah.

Betapa egoisnya dia tak ingin berpisah dengan si penggoda namun tetap mempetahankan si penanti. Searogan itu hingga ketika ketahuan betapa ucapan cintanya hanya omong kosong kemarahannya muncul begitu saja. Bukankah seharusnya dia malu atas apa yang diperbuatnya? Mengapa malah dia yang marah? Aku kebingungan saat itu.


Peran apa yang sebenarnya sedang dimainkannya.


Hari-hari selanjutnya berjalan dengan tak baik, meski tak ada lagi pertengkaran tapi tak ada saling tegur sapa. Dingin, itu yang terjadi dan terasa. Tak ada canda tawa, tak ada menonton tv bersama, tak ada makan bersama dan tak ada pergi bersama. Semuanya telah berubah dan terasa begitu menyesakkan.

Disaaat-saat seharusnya ada kasih sayang yang begitu melimpah karena dalam masa pertumbuhan dan puber semua itu hanya angan-angan. Kupilih untuk melkukan segalanya sendiri bersama lainnya. Semakin hari semakin menyesakkan seakan pasokan oksigen di tempat sederhana itu sengaja dikurangi. Malam-malam berlalu dengan sunyi dan sesekali terdengar isak tangis kekecewaan, penyesalan, kemarahan atau mungkin ketidak berdayaan.