Kamu adalah orang yang paling aku kenal keras kepala. Sifatmu memang keras, tapi aku tahu sebenarnya hatimu sangat mudah patah. Kamu tahu? Aku sangat sedih karena kamu terlalu teguh mempertahankan hubungan yang hanya diperjuangkan olehmu sendiri.

Kamu ingat? Dulu, kamu pernah menceritakan padaku betapa memesonanya pria itu. Sewaktu awal-awal kamu dekat dengannya, kamu mengatakan bahwa dia pria yang baik, perhatian, romantis, dan termasuk pria idaman yang kamu impikan selama ini. Aku masih ingat, begitu semangatnya kamu membicarakan dia di hadapanku, seolah-olah kamu sudah menemukan seorang pangeran yang kamu cari-cari selama ini. Aku ingat, begitu gugupnya kamu ketika ingin berkencan dengan pria itu untuk pertama kalinya. Kamu berkali-kali bertanya tentang bagaimana penampilanmu, apakah sudah terlihat cantik atau belum. Aku hanya mengangguk. Pada malam itu, untuk pertama kali juga aku melihat pria yang akan berkencan denganmu. Sekilas kulihat, dia tampak tampan dengan kulitnya yang putih bersih, tubuhnya semampai, dan sepertinya dia berasal dari keluarga berada. Pantas saja kamu begitu terpikat dengannya. Aku juga masih ingat, betapa bahagianya kamu malam itu karena dia menyatakan perasaannya padamu dan kalian akhirnya menjadi sepasang kekasih.

Advertisement

Waktu berjalan cepat. Sudah dua tahun lamanya kalian menjalin hubungan. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak perasaan senang dan sedih yang kau ceritakan kepadaku. Kamu ingat? Ketika perayaan pertama hubungan kalian, kamu berlari menghampiriku dan memelukku karena terlampau bahagia. Dia memberikanmu kejutan romantis, juga mengirimimu seikat bunga mawar putih, bunga kesukaanmu, dan hadiah-hadiah lain yang aku sendiri mungkin tidak mampu membelinya. Kamu juga ingat? Ketika itu kamu meminjam bahuku untuk menumpahkan kesedihanmu, sebab dia begitu egois dan kamu tidak bisa mengendalikan sifat kekanak-kanakannya hingga kalian bertengkar hebat.

Semakin lama, bukan perasaan bahagia yang kamu ceritakan padaku, melainkan tentang hal-hal yang membuatmu lebih sering menangis. Ketika itu, aku hanya bisa meminjamkan lengan jika kau butuh sebuah pelukan untuk penenang. Kamu berkata bahwa dia telah banyak berubah. Dia bukan lagi pria yang romantis dan perhatian, seperti yang kamu kenal dahulu. Sekarang, dia tidak punya lebih banyak waktu untukmu, katamu. Tapi, kamu mencoba untuk bersabar dan bertahan. Kamu keras kepala, telalu percaya bahwa suatu saat nanti dia akan kembali menjadi dirinya seperti saat awal kamu mengenalnya.

Sudah terlalu banyak air mata yang jatuh di bahuku. Aku ingin sekali mengatakan padamu untuk mengakhiri saja hubungan kalian, tapi aku tidak pernah sampai hati untuk mengatakannya karena kamu terlihat masih begitu mencintainya. Jujur, memang berat, ketika aku terlalu mencintaimu dan berusaha selalu ada untukmu, serta selalu mengupayakan kebahagiaanmu, tapi kamu lebih memilih untuk bertahan mencintai seorang pria yang kini hatinya tidak sepenuhnya untukmu.

Advertisement

Dari seorang pria yang akan selalu mencintaimu

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya