Untuk sahabat kekasih hatiku, aku mungkin adalah orang baru dalam lingkup kehidupan sosial kalian, tapi izinkan aku untuk mampu beradaptasi dengan kalian tanpa merasa tertekan. Kalian mungkin baru sebatas mengenal namaku saja, tapi tidak kenal siapa aku sesungguhnya. Pertama kali kamu mendengar aku dekat dengan sahabatmu, kutahu kamu mengingatkan sahabatmu untuk berulang kali berpikir tentang siapa aku sesungguhnya.

Pernahkah kamu berpikir bahwa sahabatmu mungkin sudah lebih lama belajar mengenal diriku jauh sebelum dia mengenalmu? Pernahkah kamu berpikir bahwa temanmu bukan orang yang mudah saja menambatkan hatinya pada orang sembarangan karena dia pun pernah mengalami masa lalu dengan seseorang yang salah?

Advertisement

Untuk sahabat kekasih hatiku, kumohon berhenti menceritakan kisah sahabatmu bersama orang di masa lalu.
Kuyakin dia sudah melupakannya, karena tidak mungkin orang seperti dia memilih orang baru jika belum benar-benar memaafkan masa lalunya.

Bukan ku cemburu karena ucapan-ucapanmu yang seolah-olah masa lalunya adalah orang yang lebih terkenal dan lebih cantik daripadaku, tapi manusia macam apapun pasti tidak akan pernah mau untuk dibandingkan walau diam-diam, begitupun kamu juga aku.

Untuk sahabat kekasih hatiku, apakah akan ada rasa iba jika sahabatmu pun mengalami kondisi sepertiku kelak kemudian hari? Pernahkah berpikir bahwa suatu hari sahabatmu terlihat murung dan tak percaya diri jika dia tiba-tiba mendengar sahabatku menceritakan kisah masa laluku kemudian membandingkannya dengan sahabatmu?

Advertisement

Tapi kupastikan sahabatku tidak akan seperti itu. Kuyakinkan pula bahwa aku memilih kekasih hatiku kini karena dialah yang paling baik diantara yang terbaik yang pernah singgah di hati ini.

Untuk sahabat kekasih hatiku, pernahkah kamu sedikit saja berpikir bagaimana jika posisimu berada di posisiku saat ini? Rasanya ingin tertawa tak mungkin, apalagi jika suaraku menimpali ucapanmu yang bagiku cuma tong kosong yang nyaring bunyinya. Tapi satu hal, aku tak ingin bersedih di hadapanmu karena ini, karena kuyakin, aku jauh lebih baik dari masa lalunya.

Untuk sahabat kekasih hatiku, aku tak bisa melarangmu untuk mengulang-ulang kesalahanmu di depanku, walau kutahu itu sakit. Biarlah kamu lelah sendiri menilai kekuranganku kemudian membuatku cemburu. Biarkan tangan Tuhan saja yang membalas sakit hati ini dengan rasa ikhlas dan bahagia yang berlipat-lipat.

Kupastikan detik ini, hari esok, dan seterusnya adalah waktunya kamu melihatku sebagai orang yang jauh lebih baik dan lebih membanggakan sahabatmu sekaligus kekasih hatiku di hari-hari bahagianya di dunia sampai ia menutup mata selamanya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya