Untukmu,
adik perempuan yang sangat aku sayangi sedari kecil.

Aku selalu memprioritaskan semua tentangmu, berawal dari kelulusanku di sekolah menengah lalu melanjutkan studi bisnis di Jakarta. Di sela-sela kelelahanku dalam perkuliahan saat itu, aku menggambil keputusan yang mungkin belum terpikirkan oleh gadis belasan tahun lainnya. Namun aku dengan segenap tekad dan kemampuan yang kumiliki, aku gerakan langkah kakiku untuk bekerja.

Ya, kuliah sambil bekerja aku lakoni kurang lebih 6 tahun. Sampai akhirnya aku lulus kuliah dan resign dari pekerjaanku demi kembali ke kampung halaman berkumpul denganmu dan kedua orangtua kita.

Namun kenyataan yang aku terima saat kembali adalah kau tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat cantik, angkuh, cemburu dan seringkali menggores luka di hatiku. Kau bukan lagi adik kecilku yang dulu selalu ingin dekat dan mengikuti langkahku, sekarang kau seperti orang asing dan aku tak mampu memasuki jalan pikiranmu.

Satu dua kali kita sering bertengkar masalah kecil yang menurutku tak perlu dibesar-besarkan namun karena perangai dan ucapan yang keluar dari mulutmu, membuatku merasa bahwa kau tak senang dengan hadirnya diriku kembali dekat denganmu dan orangtua kita. Semua itu masih bisa aku tahan dan sabar menghadapi sikapmu sampai suatu hari aku hanya bertanya tentang aktivitasmu. Tapi kau langsung mencela dan mengata-ngataiku.

Saat itu untuk pertama kalinya aku menangis karena kau, dan mulai saat itu aku putuskan untuk menjaga jarak denganmu. Berbicara seperlunya dan berhenti mengabulkan semua harapan dan permintaanmu. Tapi aku gagal. Aku tetap saja tidak bisa mengabaikanmu, kuarungi lagi jalan hidupmu berjalan di atas duri ucapan yang selalu kau lontarkan setiap kali aku mengajakmu berbicara.

Wahai adik perempuanku tak bisakah kau lebih dekat denganku?

Dan kini aku benar-benar sakit hati padamu. Waktu itu aku minta dijemput di kantor tempat aku bekerja sekarang. Namun jawaban yang ku dapat darimu sangat menjengkelkan ditambah kondisi kesehatanku saat itu sedikit terganggu membuat aku emosi dan akhirnya pulang ke rumah sendirian. Di tengah perjalanan pulang, sekilas aku melihatmu mungkin berangkat menjemputku. Tapi untuk apa? Bukankah mulutmu sendri yang berkata tidak mau menunggu?

Sampai di rumah, orang tuaku memarahiku. Jujur rasanya sakit saat semua yang aku korbankan dan berikan untukmu, namun kau malah tidak bisa dimintai tolong. Hingga waktu malam tiba, Ayah pulang dan memarahimu. Mendengar itu membuat hatiku semakin sakit, ingin rasanya aku kembali ke Jakarta merajut hidupku di sana. Jauh darimu tanpa harus merepotkan kau dan orangtua kita lagi.

Dan teruntuk orangtuaku, tak perlu terlalu memikirkan tentang aku.
Karena aku sudah terbiasa hidup dan melakukan segalanya sendiri. Sekarang aku tidak mau lagi jika hanya karena urusan antar-jemput ke tempat kerja membuat dia, adik perempuan ku itu menggerutu didalam hati.
Aku tak mau mengusiknya biarlah masa remajanya menjadi masa remaja yang indah, yang kelak bisa ia kenang.

Sekarang biarkanlah aku melakukan semua urusanku sendiri.

Untukmu adik perempuanku.
Aku tak membencimu. Hanya saja aku tak habis pikir atas semua perlakukanmu.
Andai kau tau, aku rela mengganti canda tawa semasa kuliahku untuk bekerja dan membantu orangtua memenuhi semua keinginan dan kebutuhanmu. Aku tak mau hitung hitungan denganmu. Tapi semoga suatu saat kau bisa menyadari.
Meski sekarang kau membenciku, dan maaf jika kepulanganku tak menyenangkan hidupmu.

Teruntukmu, aku sangat berharap kau dapat berubah dan menjadi kakak yang baik untuk adik kita.
Jangan seperti aku kakak yang telah gagal sehingga hanya menjadi penggangu di hidupmu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya