Untukmu, perempuan-perempuan yang selalu percaya bahwa akhir bahagia itu ada di luar sana, meskipun hatimu telah berkali-kali patah. Terimakasih telah percaya, meski kadang logikamu selalu berpikir sebaliknya.

Aku tahu rasanya sakit hati, persis di bagian ketika kamu harus menahan tangis namun akhirnya keluar juga. Bahkan jika aku tidak salah, aku masih merasakan perihnya. Kita pernah sama-sama merasakannya, bukan? Terimakasih, jika ternyata kamu pernah mengalaminya, namun sampai saat ini kamu bisa tersenyum dan percaya, bahwa selalu ada akhir yang bahagia di luar sana.

Keyakinanmu tidaklah salah, semua perempuan memimpikan hal yang sama. Kita terlalu sensitif untuk luka-luka yang pernah ditorehkan seseorang, yang sempat memberi harapan kemudian beranjak pergi, yang sempat membangunkan impian-impian di masa depan, kemudian lalai dan menyerah di persimpangan jalan. Aku bisa merasakan sakitnya, sebab kita berada di dunia yang sama, yang masih tetap saja peperempuan sebagai penampung lukanya.

Selalu ada lelaki yang luar biasa cintanya, di luar sana, di antara orang-orang yang pernah mematahkan hatimu. Ia akan tiba, barangkali saat kamu telah berhasil mendewasakan dengan lukamu sendiri, berdamai dengan emosimu sendiri, bertahan dengan sakitmu sendiri. Ia akan tiba, ketika barangkali kamu sedang sibuk dengan tangismu, di seberang sana ia sedang menabahkan hatimu lewat doa. Ia akan bertandang, ketika barangkali kamu sibuk mengobati luka hatimu, di seberang sana ia sedang belajar merawat lukamu lewat harapan-harapan kecilnya bersamamu.

Terimakasih untuk menjadi perempuan tangguh di tengah-tengah rapuh yang menjalar di seluruh logikamu, yang ingin selalu menolak percaya bahwa tidak semua laki-laki akan menyakitimu. Percayalah, pada setiap tetes air mata kecewamu, akan selalu ada bibit doa yang ditanam oleh semesta, dan tumbuh sumbur berbunga pada saatnya.

Advertisement

Mencintai itu kadang melelahkan kita, ya? Stereotip tentang kita selalu salah di mata banyak orang. Kita selalu identik dengan melankolis, yang sedikit-dikit baper, dikit-dikit menangis, dikit-dikit sedih, dikit-dikit patah. Di mata mereka, kadang kita selalu saja terasa kurang, atau bahkan lebay. Kita tersinggung sedikit, dibilang lebay. Kita menangis sedikit, dibilang baper. Lalu, bagian mananya dari cinta yang harus kita pahami?

Kita memang hanya seorang perempuan, dan akan selamanya menjadi perempuan. Kita punya sisi kuat dalam diri kita, namun kita bisa selalu lemah ketika disakiti. Hei, bahkan kucing akan mengeong jika ekornya diinjak, apalagi kita yang memiliki hati lebih perasa dibanding laki-laki. Aku tahu kalian lelah.

Sabar ya, akan ada saatnya seseorang memeluk luka-luka kita, menjadi yang pertama mendengarkan keluh kesah kita tanpa mengatai kita lebay atau baper, yang akan dengan sabar menghadapi amarah kita tanpa harus melepaskan genggaman tangannya.

Hai perempuan, apakah hati kalian masih baik-baik saja? Sudah berapa lelaki yang berhasil mematahkan hatimu? Berhati-hatilah lain kali. Kadang kita terlalu mudah percaya pada setiap kata yang akan diingkarinya, sebab kita percaya bahwa ada akhir bahagia dan dialah orangnya. Tunggulah sebentar lagi, waktu di mana akan ada lelaki terbaik versi Tuhan yang tak pernah jenuh mendengar tangismu. Waktu di mana ayahmu yang menerima kedatangannya pertama kali di beranda rumah, dan mengajaknya bercerita tentang kehidupan masa mudanya. Lelaki itu akan dengan sangat baik menghargai ayahmu, karena ia tahu kamu adalah anak gadis yang paling dicintainya. Lelaki itu akan memahami, bahwa kamu adalah permata yang sebentar lagi akan menjadi miliknya, maka ia akan berusaha dengan sekuat hatinya.


Berhentilah untuk mempertahankan apa yang ingin pergi darimu. Cintailah apa yang ingin kamu cintai dengan sepenuh hati, dan jaga ia dengan sebaik-baiknya penjagaanmu.

Kamu sudah terlalu lama terkurung dalam lubang luka yang cukup besar dalam hatimu, maka lepaskanlah apa yang seharusnya sudah harus kamu lepaskan. Hatimu sangat lelah, maka beristirahatlah dari mencintai orang yang salah, sebab hanya luka yang akan kamu dapat setelahnya.

Lalu, kapan kamu akan membahagiakan hatimu? Berhentilah peduli pada ia yang tak ingin dipedulikan, sebab hatimu juga cukup jenuh menahan jemu atas perlakuan yang menyakitkan.

Hentikanlah penantianmu pada ia yang tidak ingin lagi kembali, sebab hatimu juga ingin ditunggu oleh ia yang akan tinggal dan menetap di dalamnya.

Menyerahlah pada ia yang tidak ingin diperjuangkan, sebab hatimu juga menginginkan kesungguhan dari ia yang benar-benar berjuang membahagiakanmu.


Untukmu, perempuan-perempuan yang selalu bisa memaafkan, bahkan ketika sangat dikecewakan. Hatimu begitu lembut, tidak ada yang menampik kenyataan itu. Kamu hebat dan dewasa dengan luka yang bahkan kamu selalu menangisinya. Akan selalu ada akhir yang bahagia, jika hatimu selalu luas untuk memaafkan segala kesalahan.

Kamu telah berdamai dengan hatimu, dengan memaafkan penyebab tangis-tangismu. Tetaplah percaya, dan jaga kepercayaan itu dalam-dalam di hatimu, simpan dalam doa-doa yang selalu kau selipkan dalam sujudmu, dan tersenyumlah untuk menyadari bahwa semua hal selalu butuh waktu.


Percayalah, selalu ada saatnya seseorang yang menetapkan hatimu sebagai pintu yang diketuknya, dan memilih tinggal di dalamnya. Selalu ada saatnya seseorang memutuskan hatimu adalah tempatnya pulang, sehingga ia tidak akan berpikir untuk pergi, apalagi meninggalkan.