Salamku untukmu teman yang akhirnya aku cintai. Aku tak pernah mengerti apakah rasa yang aku miliki untukmu adalah sebuah kesalahan atau sebuah anugerah, aku menyayangimu dengan tiba-tiba dan tak terencana. Semua berjalan begitu saja lewat percakapan kita, dan sedikit canda gurau yang terbilang begitu aneh.

Jujur tanpa sadar rasa itu menyelinap masuk dalam relung hatiku, sungguh aku tak tau kapan rasa ini mulai tumbuh tetapi aku dapat memastikan rasaku ada sebelum kau (mungkin) merasakan hal yang sama. Kedekatan kita menciptakan rasa nyaman yang tak terbantahkan olehku, entah mengapa aku mulai membangun mimpiku sendiri akan dirimu. Kegelisahan mulai hadir ketika kabarmu tak juga aku dapatkan, kecemburuan muncul tanpa sadar hanya dengan membaca status-statusmu bahkan hanya dengan melihat mantanmu yang membuat status. Lucu bukan?

Advertisement

Kau tau? Apa yang aku rasakan ketika kecemburuan itu hadir sendiri tanpa jeda, aku selalu terdiam dan mengutuk diriku sendiri yang tak seharusnya jatuh cinta pada lelaki yang pernah memiliki kisah cinta yang indah dengan perempuan lain sebelumnya.

Tetapi setelah itu aku mulai melunak kembali ketika sapamu hadir meskipun sekedar mengomentari postinganku dengan kata “Asiikkkk” atau “wkwkwkwkwk”, aneh bukan? Iya itulah aku. Aku memendamnya begitu rapi, aku terlalu malu jika rasaku ini pada akhirnya kau ketahui. Aku menyimpannya serapi mungkin, sebisaku menyembunyikannya meskipun aku tak tahu apakah rasaku itu begitu kentara.

Sungguh aku menyayangimu lebih dari sekedar teman, aku nyaman denganmu bahkan aku sangat mencintaimu. Tetapi apa boleh buat aku harus tau semuanya sebelum rasaku juga bertambah banyak padamu. Maafkan aku jika aku menyakitimu.

Advertisement

Aku hanya ingin meminta maaf untuk semuanya, untuk aku yang mencintaimu, untuk rasaku yang mungkin membebanimu. Maaf untuk keegoisanku, maaf karena aku meragukan rasamu. Aku hanya tak ingin mencintai sendiri, bagaimanapun itu menyakitkan. Aku menyayangimu pun tanpa aku rencanakan sebelumnya, semua mengalir begitu saja seiring kedekatan kita, dan nyatanya rasa sayang yang aku miliki membuatku takut kehilanganmu.

Aku takut ketika aku sedang sayang-sayangnya padamu kau meninggalkanku begitu saja. Sungguh, aku tidak memintamu untuk membuat komitmen apapun denganku, aku hanya sekedar ingin tahu sebenarnya rasa apa yang kau miliki padaku. Sehingga aku sendiri bisa mengendalikan rasaku untuk tidak berharap lebih. Aku tau aku salah, tapi aku anggap perasaanku itu benar dan itulah keegoisanku.

Kau juga mungkin tak menyadari, tetapi aku merasa setiap perbincangan kita, kau selalu membahas hal yang sama, seakan-akan yang ada di pikiranmu tentangku hanya sebatas itu. Untuk perempuan sepertiku yang selalu mengedepankan hati, pada awalnya aku sama sekali tak mempermaslahkan itu semua, karena aku menyayangimu bahkan mencintaimu. Tetapi seiring berjalannya waktu ada tanya yang terus meminta jawaban.

Dan kau tau? betapa sulitnya aku untuk memutuskan bertanya tentang perasaanmu padaku, karena aku takut semua itu akan membuat jarak diantara kita, dan nyatanya ketakutanku benar adanya.

Sejak saat itu, tak pernah lagi ada tegur sapa dan semua kecanggungan itu hadir setiap perbincangan kecil kita. Rasanya seperti membunuhku secara perlahan, aku mulai terluka sejak saat dimana ku tahu dia masih saja menjadi pemenang dihatimu dan aku yang nyatanya hanya kau anggap sebagai sebuah pelarian ketika sepi menghampirimu.

Untuk perasaanku ini aku meminta maaf

Salam Dariku

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya