Kita sama-sama tahu jika ia lelaki yang baik. Penuh perhatian dengan sejuta pesona yang ia miliki. Kita juga sama-sama tahu jika ia lelaki pekerja keras yang tidak akan pantang menyerah hanya karena penolakan sepele.

Namun, apakah kaujuga tahu jika ia adalah lelaki yang seminggu lalu menghadap kedua orang tuaku untuk meminta izin untuk terus menggenggam tanganku di saat aku bahagia dan terluka?

Advertisement

Oh, maafkan aku jika sebelumnya aku tidak memperkenalkan diri. Sekarang, izinkan aku menjabat tanganmu.

Aku adalah wanita masa kini lelaki yang dulu kauabaikan. Aku adalah wanita yang siap berdiri dengan tegap untuk menangkis setiap serangan yang datang pada lelaki yang dulu kaudorong begitu keras hingga ia terpuruk.

Aku adalah wanita yang dengan setia memeluknya saat ia lelaki yang dulu kaubuang karena ia tak memiliki materimerasa jika hidupnya begitu berat untuk dijalani.

Advertisement

Oh, tidak. Kau tak perlu memperkenalkan diri. Aku sudah tahu siapa dirimu. Lelaki tercintaku sudah bercerita tentang kisah hidupnya sebelum bertemu denganku yang tentu saja dirimu disebut di kisah yang ia tuturkan secara detail.

Kau adalah wanita yang begitu ia cintai dulu. Kau adalah wanita yang sempat membuatnya hampir gila karena kautinggalkan. Kau adalah wanita yang dulu menempati setiap lipatan hatinya. Aku benar, kan?

Jika kau berpikir aku biasa saja saat mengungkap segala kenyataan itu, maka kausalah. Aku tentu saja hanya wanita biasa yang akan merasakan sakit saat mendengar lelaki yang kucintai membahas tentang wanita yang dulu mengisi hidupnya. Dan, benar. Ada nyeri di sudut hatiku saat aku mendapatimu memeluk lelakiku kemarin sore. Tepat ketika seharusnya lelakiku itu mengajakku kencan untuk terakhir kalinya dalam status pacaran.

Namun, aku bukan tipe wanita melankolis yang egois dan akan mengais-ngais kesungguhan lelakiku hanya karena mendapatinya sedang berdua dengan wanita masa lalunya. Yang kubutuhkan hanya senyum hangatnya saat aku berkata, “Aku tahu kaumemang lelaki idamanku.” Yang kubutuhkan adalah dia yang menghela napas lega lalu memelukku sambil berkata, “Aku benar-benar bersyukur mengenai kita yang saling menemukan.” Maka, dengan demikian, segala tentangmu adalah bukan lagi hal yang bisa mematahkan apa yang ia janjikan pada kedua orangtuaku untuk menjagaku selama sisa hidupnya. Sebab, aku yakin, dia memang mampu melakukan itu, bahkan jika aku mendapati 10 wanita sepertimu merayu lelakiku.

Tidak kumungkiri, kaujauh lebih sempurna dariku. Kau berbadan sintal dengan kemewahan yang melekat di sekujur tubuhmu, sedangkan aku hanya wanita biasa dengan potongan tubuh yang begitu sederhana. Hal yang kaupunyai tentu bisa dengan mudah merebut segala perhatian lelakiku itu. Terlebih, dulu ia sangat menggilaimu.

Namun, haruskan aku mundur saat kukira segalanya begitu sempurna demi wanita sepertimu? Wanita yang dengan mudah menjilat ludah sendiri?

Tentu tidak.

Aku tahu aku kalah pamor dibandingmu. Namun, aku memiliki hati yang begitu tulus untuk menerima setiap hal di diri lelakiku. Aku mampu menerima dengan tangan terbuka untuk setiap kondisi yang telah, sedang, atau akan ia jalani. Di saat terpuruknya, di saat terbahagianya, di saat tersedihnya, di saat tersenyumnya: aku mampu menerima segala kondisi itu.

Maafkan aku jika aku terlalu membanggakan diriku sendiri. Hanya saja, memang itulah kelebihanku. Aku hanya memiliki sebongkah hati yang tulus untuk kuberikan kepada lelakiku. Tidak sepertimu yang memiliki kemolekan yang bisa memikat siapa saja.

Maafkan aku pula jika aku terlalu cerewet. Namun, ini memang kelemahanku jika aku sedang kesal. Dan, aku bersyukur karena lelakiku justru senang dengan kelemahanku yang satu ini. Katanya, aku lebih memesona saat aku mengocehkan beribu rentetan kalimat.

Sebelum aku menuntaskan pertemuan kita sore ini, aku ingin menyampaikan 2 hal: Satu. Beberapa sampah mungkin bisa didaur ulang. Namun, fungsi benda daur ulang itu tidak akan pernah sama seperti sedia kala. Dua. Ternyata, lelakiku itu memiliki cara ampuh untuk mengubah kepenatan usai ia pulang kerja. Ia akan memelukku dengan erat dan membisikkan bahwa aku adalah satu-satunya wanita yang mampu menerima keburukannya di akhir pekan. Ia akan berlama-lama menyandarkan kepalanya di pundakku, menghirup aroma tubuhku yang katanya adalah aroma paling ia sukai di dunia ini.

Aku mengucapkan terima kasih padamu karena mau mendengar rentetan kalimatku ini. Aku tidak heran jika setelah ini kaumenganggapku wanita aneh. Aku tidak peduli karena memang hanya lelakiku yang mampu menerima segala kecerewatanku.

Aku pamit. Jika kemudian ini adalah pertemuan terakhir kita, silakan lupakan aku. Sebab, aku bukan siapa-siapa, tidak penting sama sekali. Toh aku hanya wanita masa sekarang dan masa depan dari lelaki yang dulu kaubuang dan sekarang kau kejar.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya