Ketika hubungan kita sampai pada saat paling bahagia. Saat itu aku benar-benar yakin jika kamulah yang terakhir yang ingin aku miliki. Kamulah yang membuatku tak lagi merasa menunggu dalam ketidakpastian. Kamulah yang membuatku tak lagi ingin mencari. Dan namamulah yang paling sering kusebut ketika aku sedang bercerita pada Tuhan di sepertiga malam.


"Tuhan berikan ia selalu kesehatan,

Advertisement

izinkan hambamu membahagiakannya.

Biarkan hati kami menyatu

atas kehendak-Mu dan keridhoan orang tuaku.

Advertisement

Bukakan hatinya untuk selalu mengingat-Mu,

agar cinta ini menjadi cinta yang sangat layak

untuk kami bawa kehadapan-Mu"


Karena pada saat itu kamulah yang membuatku menjadi lebih dekat pada Tuhan. Bukan berarti kamu selalu menggurui atau menceramahiku. Hanya saja ketaatanmu pada Tuhan membuatku semakin yakin kamulah calon pemimpin untuku dan Agamaku. Meski terpisah jarak yang cukup jauh tak menyurutkan niat kita untuk menjadikan hubungan ini benar-benar nyata. Kita percaya bahwa Tuhan-lah yang mendekatkan hati kita.

Namun selayaknya manusia yang hatinya mudah goyah, apa yang kemudian terjadi pada cinta kita bukanlah sebuah kemustahilan. Seyakin apapun aku padamu dan cinta kita, jika memang takdir bicara lain aku bisa apa?


"Bahkan serapi apapun aku

menuliskan rencana masa depan kita

jika takdir berkata lain

aku bisa apa?"


Meskipun sudah lewat bertahun-tahun yang lalu aku masih mengingatnya dengan jelas. Masih terekam jelas dalam ingatanku akan pengakuanmu yang membuat hatiku luluh lantak saat itu. Pengakuanmu bahwa saat itu hatimu sudah tak utuh lagi untukku. Dengan beraninya kamu mengakui bahwa kamu jatuh cinta lagi pada seorang gadis manis nan manja yang mencuri perhatianmu lalu memohon maafku.

Aku tahu kamu sudah bersusah payah menjelaskan dengan bahasa yang paling baik, agar aku tak terlalu merasa tersakiti. Namun tetap saja apa yang lebih menyakitkan daripada rasa kehilangan? Kehilangan seseorang disaat aku sedang teramat menyayanginya. Kamu memilih pergi dan mengakhiri hubungan kita.

Aku kecewa, marah dan terluka teramat sangat, hingga ingin memaki dan mencaci. Namun aku sadar memaki tak akan membuatmu kembali. Seiring berjalannya waktu akupun memilih memutuskan semua kontak denganmu, tak cukup menutup mataku dari akun sosial mediamu. Akupun akhirnya menghapus pertemanan kita. Bukan karena aku membenci, hanya saja aku tak ingin penyakit dengki mengotori hatiku yang melihatmu pamer kebahagian diakun sosial mediamu. Biarlah aku tak tahu, aku tak ingin tahu dan tak ingin melihat kebahagiaan orang yang telah melukai hatiku.


Meski terkadang rindu ini melukaiku,

aku menahannya sekuat hatiku.


Sepenuhnya aku menyadari, apa yang terjadi mungkin memang yang terbaik untuku, untuk kujadikan pelajaran. Aku pun memaafkanmu, mungkin kamu tak sepenuhnya salah, dan bukan berarti aku tak melakukan kesalahan sedikitpun, hanya saja aku bukanlah masa depan yang kamu harapkan.

Tapi setidaknya kamu bukanlah pecundang yang mencoba mencari alasan lain dibalik kekhilafan hatimu. Paling tidak kamu bukan pengecut, dan tetap jujur bahwa alasanmu untuk pergi memang karena hatimu tak untukku lagi, bukan karena alasan-alasan lain yang coba kamu buat agar tetap terlihat baik dimataku. Meskipun menyakitkan aku menghargai keberanianmu itu.


"Bukan Tuhan tak tahu remuknya hati

Bukan Tuhan tak tahu pedihnya di uji

Hanya saja Ia tahu apa yang mampu aku hadapi"


Pelan aku mencoba berdamai dengan masa lalu, membuang jauh semua rasa sesal yang menghimpit hati agarku tak membencimu. Bukankan hidup dengan penuh rasa benci tak akan pernah bahagia? Dengan begitu aku seharusnya menjadi lebih kuat, aku tak boleh kalah oleh perasaanku. Aku yakin Tuhan punya rencana yang baik untukku. Aku percaya Tuhan sudah mempersiapkan seseorang yang dengannya aku tidak akan terluka, seseorang yang akan merubah hidupku dan hatiku menjadi lebih baik lagi.

Kini setelah sekian tahun berlalu. Dan aku benar-benar yakin sudah merelakanmu. Aku yakin sudah bisa tersenyum melihatmu bahagia bersama keluarga kecilmu, meskipun bukan dengan gadis itu. Mungkin kamu pun menempuh jalan yang terjal nan berliku untuk menuju wanita shalihah yang kini mendampingimu. Semoga bahagia, semoga kebahagiaanmu selalu dalam lindungan Tuhan, kini aku sudah benar-benar tulus dari hati mendo'akanmu dengan begitu hatiku pun menjadi terasa lebih lapang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya