Hai sosok tegap yang kukagumi kini, dan mungkin hingga nanti

Aku tak pernah menyangka bisa mengenal sosokmu. Entah sejak kapan kita berteman di media sosial, aku pun cuek-cuek saja ketika kudapati pesan ucapan selamat ulangtahun darimu. Karena aku pun jarang membuka media sosial, jadi aku tak mau ambil pusing untuk sekedar kepo mengenai siapa dirimu.

Advertisement

Dan rasa kagum datang tanpa aku sadari

Kudapati banyak sekali postingan atau sekedar re-posting mengenai isu-isu yang sedang tren saat itu. Dengan masih berbekal sikap cuek aku pun mulai mengkomentari beberapa postingan yang engkau buat, ya sekedar menanggapi saja atau melempar beberapa komentar pedas. Dan tak kukira itu menjadi awal. Dari perasaanku yang hingga kini masih terasa menggebu.

Semakin lama, semakin sering pula aku mengomentari postinganmu, bahkan hanya berupa emoji pun aku lakukan. Saat itu pula aku menyadari ada yang mulai berubah pada relungku, aku ingin terus berdebat atau sekedar bercanda denganmu.

Advertisement

Do'a pagi itu..

Tanpa sengaja pagi ketika aku sedang melamun, kuucapkan do'a agar aku bisa mengenalmu lebih dekat. Aku terlalu gengsi untuk sekedar menyapamu melalui pesan privat. Mungkin aku sudah tidak bisa berpikir dengan jernih saat itu karena terlalu penasaran dengan sosok aslimu.

Dan Tuhan pun mengabulkan do'aku tepat siang hari setelah aku berdo'a. Aku tak bisa memastikan apa rencana Tuhan setelah aku secara resmi berkenalan dengannya. Rasa canggung, rasa sungkan namun senang, semua bercampur aduk, rasanya nano-nano.

Taukah engkau perasaanku kini?

Akhirnya kita putuskan untuk bertemu malam itu, senang rasanya setelah aku mengenalmu secara langsung, tak berbeda jauh dari kesan yang aku tangkap saat masih hanya bercakap lewat kolom komentar. Sosok laki-laki yang kritis, namun perhatian.

Kita pun akhirnya saling bertukar cerita, pendapat, atau sekedar komentar mengenai satu sama lain. Aku merasa kerdil di depanmu. Banyak saran yang kamu berikan untuk menjadikanku lebih baik dari saat itu. Di lubuk, aku berharap sosok bercahayamu bisa menerimaku apa adanya, namun aku pun tetap berusaha untuk memperbaiki diri sesuai yang telah kamu sarankan selama itu benar dan aku mampu.


Aku telah jatuh hati padamu, wahai sosok yang aku kenal lewat dunia maya.

Terima kasih sudah hadir di hidupku, untuk mengingatkan kekuranganku sehingga aku bisa memperbaikinya walau ada atau tanpamu. Namun aku optimis, kisah ini bisa berakhir bahagia.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya