Teruntuk kamu yang aku tinggalkan,

Tampaknya aku kejam, pergi dan meninggalkanmu setelah sejauh ini melangkah. Setelah hari-hari yang kita lalui, bahkan tahun-tahun kita habiskan, kamu pasti tak menyangka bahwa aku akan pergi seperti ini. Aku tau, ini menyakitkanmu, sejujurnya bagiku juga. Seandainya, hati ini masih mampu menerima cara lain, mungkin aku memilih tinggal tetap, namun sampai pada titiknya, hati ini ternyata lelah. Banyak usaha aku lakukan agar kemudian ini tidak berakhir, dari bersabar hingga kemudian menentangmu, mencoba menyampaikan inginku agar kaupun tahu.

Advertisement

Sayangnya usahaku tak kau anggap, justru kau pikir ini mudah. Berusaha mengkuti alurmu, tampaknya aku tak bisa, seimbang itu yang kumau. Maaf, tapi keputusanku bukan tiba-tiba. Setelah kita lewati bersama, aku sadar, bersamamu aku yang sebenarnya, kemudian tenggelam, jauh terlalu dalam. Aku yang ada di depanmu adalah aku “ yang ingin kau lihat”, bukan aku yang ingin ku tunjukkan.

Sekian tahun kita bersama, aku berubah menjadi orang yang berbeda, yang kemudian aku sadari, itu bukan aku. Aku yang suka musik " Ini " kemudian tidak terlalu mendengarkannya lagi. Aku yang suka bermain musik, berhenti karena kamu tak suka, aku yang punya banyak teman dan sangat suka bergaul kemudian perlahan menghilang dari mereka, karena tak ingin kamu marah. Aku selalu berusaha untuk mengimbangimu, mengalah dan terus bersabar dengan segala tempramentmu.

Aku tidak bodoh menjaga sikap, aku juga tidak tuli untuk mendengarkan hal-hal baik yang kau ingin aku lakukan, tapi bagaimana dengan hal-hal tidak masuk akalmu? Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Sampai ku putuskan inilah saatnya aku bicara, namun kemudian semua berubah dengan emosimu yang tak meredah.aku berharap kamu pernah melihat ataupun menghargai, aku yang berlari secepat angin saat kamu sakit, aku yang menangis sendiri saat kamu hilang kabar dan tertidur menunggumu di malam hari, aku yang kecewa, marah, saat kamu tidak bisa datang dan tidak menepati semua  janjimu. Selalu ku beri kesempatan memperbaiki namun kamu tidak juga mengerti. Kamu sia-siakan, tak kamu anggap. Jadi kupikir ini cukup. Usahaku sudah cukup, karena pada akhirnya, kamu tetap sama dan aku yang berubah.

Advertisement

Yah.. aku berubah tak lagi bisa bertahan denganmu, hatiku yang cerah berubah duka. Kau tahu, aku yang tadinya sering menangis, hingga air mataku kering, tak bisa lagi ia menetes.


Maaf, jika kemudian kepergianku menyisakan luka, aku hanya ingin bahagia. aku berjanji aku akan bahagia.


Aku akan kembali mendengarkan musik yang tidak kamu sukai itu, memainkannya sepuas hatiku. Aku akan berkumpul dan tertawa dengan teman-temanku yang dulu. Aku akan pergi kemanapun aku mau tanpa seijinmu lagi, tanpa kekhawatiranmu lagi.. Aku berjanji akan lebih bahagia, dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Maaf, mungkin sejak awal kita tak sama, hanya kita yang terlalu memaksa. Aku terlalu terbuka, dinamis dan tidak kritis, hanya mengikuti hati. Kamu yang tertutup, statis dan sangat kritis. Apakah ada jalan tengahnya? Sudahlah tak perlu jawaban. Karena aku mengambil jalan pergi melangkah..

Terima kasih dariku, maaf tak sempurna selama ini, maaf tak mampu menajadi seperti yang ingin kau lihat. aku pergi… semoga kau bahagia.

Tentu saja, tanpa aku.. :)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya