Aku benar-benar yakin bahwa aku jatuh cinta padamu. Sekalipun hanya mengenalmu lewat dunia maya, tapi aku merasa nyaman saat kita berbicara. Aku yakin bahwa kau nyata. Kau ada. Kau mendengarkan cerita-ceritaku dan menjadi teman yang baik, bahkan meskipun aku hanya bercerita soal remeh temeh semacam tugas kuliah, film, lagu favoritmu, dosen yang aneh, atau tentang sebatang pohon kersen yang kusukai. Kita memang terpisah ratusan kilometer.

Aku hanya melihat wajahmu lewat foto-foto yang dulu diam-diam kusimpan di laptopku. Aku hanya berbicara denganmu lewat pesan singkat dan mendengar suaramu lewat telfon dalam beberapa kesempatan yang sangat berharga. Tapi lewat sajak-sajakmu yang selalu kubaca, lewat caramu menjawab pertanyaanku, melayani diskusiku, mendengarkan ceritaku, aku tahu kau adalah sahabat yang baik. Dan aku benar-benar mengagumimu, mempercayai apa yang kurasakan juga bernama cinta, sekalipun aku juga tahu kau punya seorang gadis cantik yang menemani hari-harimu.

Selama bertahun-tahun, aku menulis untukmu, dan aku percaya bahwa kau selalu “tahu”.

Akhirnya setelah mengenalmu selama hampir dua tahun, pada suatu hari yang biasa dan dengan dibantu oleh takdir yang luar biasa, akhirnya kita benar-benar bertemu. Pertemuan setelah selama beberapa lama kita tidak pernah saling bertukar kabar. Pertemuan tanpa perencanaan. Pertemuan yang akan disebut orang sebagai kebetulan. Tapi aku percaya, tidak ada kebetulan di dunia ini. Semesta telah mengaturnya: pertemuan kita. Bahkan meskipun aku dengan tidak tahu malu menyapamu lebih dulu, aku tidak pernah menyesalinya.

Akhirnya aku melihatmu dengan mataku sendiri. Mendengar suaramu. Menatap wajahmu. Membuktikan sendiri bahwa kau memang orang baik. Dan setelah pertemuan itu, aku masih selalu menulis untukmu. Apa saja. Surat-surat yang tidak pernah kukirimkan. Sajak-sajak yang tidak pernah kau baca. Dan aku juga selalu percaya bahwa kau selalu tahu, meskipun kita tidak pernah membicarakannya.

Advertisement

Kita pun semakin dewasa. Kita pun semakin diburu waktu dan jarang sekali saling bicara. Aku jatuh cinta pada orang lain. Kau juga selalu sama. Tapi, ada sesuatu yang belum selesai menurutku.

Kita menyelesaikan kuliah bersama-sama. Aku bahkan melihat sosokmu saat hari wisuda kita, tapi entah kenapa keberanianku yang dulu untuk sekedar menyapamu menguap tak berbekas. Sesuatu yang selalu kusesali pada akhirnya. Apalagi setelah saat itu kita mulai jarang berbicara, bahkan hanya bertukar kabar pun sudah tak pernah. Aku pindah ke kota lain. Dan takdir berikutnya pun datang ketika pada suatu malam kau berkata akan mengunjungi kotaku.

Aku memang seorang perempuan kebanyakan yang punya rasa melankolis berlebihan. Aku telah jatuh cinta pada orang lain, tentu saja, dan kau pun sama. Aku telah menyimpan lembaran-lembaran tulisanku untukmu selama empat tahun lebih, bersama segala rasa yang ada di dalamnya. Bukan berarti aku tidak melupakanmu, karena memang kau bukan sesuatu yang bisa dilupakan.

Advertisement

Malam itu, pada pertemuan kedua kita, aku pun menyelesaikan segalanya.

Ketika kita duduk berhadapan dan berbincang seperti layaknya dua orang sahabat baik yang telah lama tidak bertemu, aku menyadari satu hal. Bahwa kau memang sahabat yang baik, dan kekagumanku padamu yang berlebihan barangkali telah kusalahartikan sebagai cinta. Aku pun memberikan semuanya padamu, sebuah buku berisi semua catatan yang kutulis selama beberapa tahun ini. Bersama dengan tulisan-tulisan yang akan kau baca itu aku melepaskan segalanya: perasaan-perasaan masa lalu yang mungkin masih tertinggal.

Pada akhirnya aku bisa benar-benar mengucapkan terimakasih –untuk semua inspirasi, motivasi dan pelajaran yang pernah kau berikan. Dan terutama untuk persahabatan kita yang masih terjaga, bahkan setelah kau tahu tentang perasaan-perasaanku di masa lalu.

Sungguh. Terimakasih.

Semoga kita berbahagia dengan hidup kita masing-masing.