Mungkin aku tidak lagi berarti, tetapi apa aku terlalu tidak pantas untuk mendapatkan ucapan selamat tinggal dari mu? Apa aku bahkan tidak berhak mendapatkan penjelasan dari mu? Alasan kenapa kau harus pergi?

Maaf, tapi aku harus pergi, berbahagialah… Tidak bisakah aku mendengar kata-kata seperti itu sebelum kau akhirnya menghilang bak ditelan bumi? Aku menangis, aku merasakan sakit, sebegitu sulitnyakah yang namanya mencintai dan kini aku bahkan tidak tau alasan kamu pergi.

Advertisement

Bagaimana Dengan Rasa Itu?

Jika memang aku tidak berhak untuk penjelasan kepergianmu, lalu bagaimana dengan rasa ini? Bukankah kau sendiri yang perna mengatakan bahwa “hatimu sudah milikku” ? bagaimna dengan kata-kata indah dan candaan manis yang dulu selalu kita ucapkan setiap kali ada waktu untuk kita bersama atau sekedar mengobrol lewat telepon… Tidakkah itu penting bagimu? Tidakkah seharusnya kau mengucap selamat tinggal saat harus mengakhiri kisah manis yang masih saja tersimpan rapi dalam hati dan pikiranku ini…atau memang benar, akulah yang terlalu percaya diri karena mengira kaupun punya rasa yang sekuat rasaku ini..

Advertisement

Ya, mungkin aku sangat menyedihkan karena masih saja merasakan getaran di hati ini setiap kali namamu disebut, atau merasakan sakit setiap kali ingatan tentangmu menghampiriku. Tapi tahukah kau, aku juga tidak bersalah, karena perasaan ini selalu hadir tanpa bisa aku kendalikan, aku selalu tidak berdaya untuk menghentikannya…dan jujur saja, aku memang telah mengatakan ikhlas atas kepergianmu, tapi bodohnya, aku masih saja memimpikan masa depan bersamamu…

Dan kini, aku menyadari satu hal, untuk melupakan seseorang, bebaskan dia dari hatimu tanpa harus kau paksakan. Tanpa harus berpura-pura, terus saja ikuti waktu yang dengan kejamnya terus berlalu tanpa peduli yang kau alami, karena itulah yang akan membawamu pada keadaan dimana kau benar-benar telah terbiasa tanpa orang itu dan akhirnya kau bisa tanpanya. Mungkin inilah yang juga harus kulakukan…

Apa hanya kenangan yang tersisa saat ini?

Aku selalu saja bermain-main dengan bayanganmu…Melukis indah senyuman lembutmu pada setiap senja yang kusaksikan sore hari, kau masih tetaplah di sini dan aku menyebutnya kenangan….

Kau mungkin telah semakin jauh pergi, tapi tak apa karena kau masih terus bersamaku dalam setiap ingataanku. Hanya ini yang tersisa… Kau tidak meninggalkan ucapan atau janji untuk kembali, tetapi hanya sebuah ingatan. Ya, ingatan tentangmu yang terangkum sempurna dalam album yang kunamakan kenangan itu. yang terus bermain-main di kepalaku dan menjadi penyebab nomor satu dari nyeri hatiku. Hanya inikah yang bisa kau tinggalkan padaku sebelum berlalu? Ataukah serpihan – serpihan luka yang telah memenuhi rongga dadaku? Jika memang ada luka yang tidak perna bisa sembuh, mungkin luka kepergianmu inilah…

Kau Berhak Pergi Jika Memang Harus Begitu

Dan pada akhirnya aku harus merelahkan tanpa bertanya apa-apa lagi. Aku tau betul, hati seorang manusia dapat berubah setiap saat. Jadi jangan ragu lagi untuk pergi sejauh mungkin jika memang harus begitu… Tapi setidaknya, aku ingin mendengar ucapan selamat tinggal. Akan sakit tapi aku akan tau bahwa kau memang benar-benar harus pergi. Jika harus menahanmu, aku tau juga itu tidak mungkin, kau memang harus pergi…

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya