Hidup adalah sebuah kesempatan untuk melayani sesama. Buntutnya semua orang akan merintis jalan hidup sesuai dengan ekspektasi yang telah lama tertanam dalam pikiran. Demi memuaskan dahaga untuk melayani sesama, rata-rata orang melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan kedepankan budaya kerja yang profesional. Mengabdi dengan tulus, berkarya dengan total.

Menjadi guru termasuk salah satu pekerjaan yang membutuhkan totalitas. Tanpa totalitas dalam pengabdian semuanya akan berjalan sia-sia. Kita tentu pernah membaca atau mendengar informasi yang berjubel pada media massa tentang susahnya menjadi guru di daerah terpencil dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana pada sekolah tempat di mana mereka mengabdi. Namun kabar baiknya, mereka mengabdi penuh harapan tanpa menyerah dengan keadaan. Upah yang minim justru menjadi pemantik bagi mereka untuk berkarya lebih baik bagi anak-anak negeri. Totalitas dalam mengabdi merupakan kunci utama mereka bisa bertahan dalam tantangan.

Advertisement

Guru memiliki peran penting untuk membentuk seorang peserta didik. Guru profesional haram hukumnya melakukan aktivitas “malapraktik”. Ia harus mengajar dengan tepat. Proses transfer pengetahuan (transfer of knowledge) harus dilakukan dengan hati-hati. Satu generasi (baca: kelas) akan mengalami defisit akal, manakala guru melakukan praktik mengajar yang salah. Coretan guru pada kertas putih (baca: anak) akan berdampak lurus pada tingkat pemahaman akan konsep yang telah diajarkan.

Menjadi seorang guru merupakan pekerjaan yang amat mulia. Guru menjadi pelita dalam kegelapan. Ia mampu membuka jalan bagi peserta didik untuk keluar dari keterpurukan, terhempas dari gelombang ketidaktahuan.

Di sela-sela saya meniti jalan panjang ini, begitu banyak kebahagian dan kerisauan yang tampak ke permukaan. Ada keprihatinan, ada kucuran keringat membasahi peluh, ada kesedihan, ada keletihan batin, namun ada pula kebahagian batin dan kepuasan hati, saat kegembiraan dirayakan secara bersama-sama di dalam kelas. Semua guru memiliki harapan penuh agar seluruh peserta didik tumbuh dan berkembang maju demi generasi berkualitas pada masa yang akan datang. Energi yang ditularkan guru berpendar dari cinta yang tulus kepada peserta didik.

Advertisement

Sebelum masuk ke dalam kelas acap kali ada rasa deg-degan muncul di dalam diri. Dalam pikiran selalu muncul rasa agar peserta didik selalu menanti kiprah dan pengabdianku untuk memajukan pembelajaran yang lebih baik, entah dalam manajemen kelas, dalam suri teladan, dalam mentransferkan ilmu, dalam mendidik, dan dalam mengarahkan peserta didik menuju arah yang lebih baik setiap harinya.

Menyandang predikat sebagai guru pendatang baru tidak jadi persoalan untuk mengeksplorasi pengalaman dari guru senior. Idealisme yang terbawa dari bangku kuliah bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan. Pilihan terakhir dapat ditempuh dengan menggali pengalaman dari guru yang lebih senior. Mereka memiliki segudang pengalaman yang bisa kita gali untuk pengembangan diri dalam mengajar. Tidak ada salahnya untuk kita kolaborasikan pengalaman yang mereka miliki dengan bekal yang telah kita punya.

Hingga pada titik ini, saya akan terus berusaha untuk bisa menjadi teman bagi peserta didik saya. Teman yang selalu mereka rindukan untuk belajar bersama di dalam kelas. Saya pun terus berusaha sekuat tenaga untuk semakin baik dalam meniti jalur ini. Saya selalu percaya bahwa setiap usaha butuh proses panjang, dan setiap hasil yang digapai sudah pasti tidak akan menghianati proses yang sudah kita jalankan.

Terlepas dari upah yang tidak seberapa, saya selalu bangga menjadi guru. Saya selalu berharap bahwa semoga kata-kata yang keluar dari mulut seluruh guru membawa perubahan bagi kualitas peserta didik. Guru juga semakin menyadari profesinya sebagai panggilan hidup yang harus ia jalani dengan sepenuh hati. Saya bangga menjadi guru, kamu juga kan?

 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya