Hai, mantan pertamaku. Bagaimana kabarmu, sudahkah kau dapat penggantiku yang baru? Kau terlalu sayang untuk kukenang, terlalu jahat untukku perhatikan, dan terlalu buruk untukku perjuangkan.

Ketidakmungkinan ini benar-benar sama sekali tidak terlintas di benakku di saat aku telah menjadi kekasihnya, bahkan aku pernah berpikir bahwa dia terlalu baik untuk dijadikan sebagai seorang kekasih. Karena dulu di saat dia menyatakan cintanya kepadaku, dengan mudah aku langsung menjawab "aku tidak ingin menjadi kekasihmu, karena kamu orang baik, aku takut seandainya kita putus nanti akan terjadi suatu hal yang tidak kuinginkan, yaitu membencimu".

Advertisement

Tidak banyak kata-kata indah yang dia ucapkan padaku, tetapi dia selalu berkomitmen dan memiliki pertanggungjawaban yang besar, di situlah yang membuatku sangat mencintainya, entah mengapa. Hingga pada saat hampir setahun, dia pernah berbicara padaku "maaf jika besok pada saat anniv kita satu tahun, aku tidak bisa memberimu apa-apa", aku hanya diam dan menggenggam tangannya. Semua baik-baik saja.

Sampai pada suatu ketika selisih empat hari kami anniversary, dia dengan mudah untuk mengakhiri semuanya, dan dengan mudah menyebutkan secara urut semua kesalahanku sebagai alasan mengapa dia memilih untuk mengakhiri hubungan ini. Bagaimana tidak, di sana aku bukannya marah atau berontak justru lebih memilih untuk membisu, kemudian menangis.


"Aku bukan lelaki yang baik buat kamu"

Advertisement

"Lalu, mengapa kau dulu memintaku untuk menjadi kekasihmu?"

(diam)


Lelaki yang benar-benar kuanggap sebagai tahta yang menetap di dalam jiwaku kini lebih memilih untuk meninggalkanku tanpa alasan yang sangat jelas. Sangat tidak disangka, untuk pertama kalinya aku menjalin hubungan asmara ini dan harus menelan sebuah mimpi buruk yang amat sangat pedih.

Ketahuilah kau mantan pertamaku, mungkin untuk sekarang kau tidak merasakan apapun, kau akan bahagia karena dengan mudah sudah menghancurkan hati dan jiwa seorang wanita yang belum sempurna. Namun, kuperlihatkan dirimu sebuah realita tanpa drama, bahwa kau akan menelan bahkan mengalami karma yang amat sangat begitu besar. Di sini aku cukup diam untuk menyaksikannya.

Aku percaya. Seiring berjalannya waktu. Akan terjadi. Lihat saja.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya