Anak rantau, mahasiswa rantau. Memang begitu adanya. Banyak di antara kita, setelah tamat SMA akan menyandang titel Anak Rantau. Banyak alasan kenapa orang-orang ingin merantau. Ada yang ingin menambah ilmu, mencari pengalaman, mengadu nasib atau bahkan ingin mengubah nasib. Tapi sebentar deh, apa benar nasib kita bakalan berubah menjadi lebih baik atau malah akan semakin memperburuk keadaan?

Ada yang hanya ingin merantau ke daerah yang dekat dengan rumah, tapi tak jarang ada juga yang merantau ke negara berbeda bahkan beda benua. Yup, itulah aku. Aku memilih untuk merantau ke Jerman. Salah satu negara dambaan mahasiswa yang ingin melanjutkan program studinya.

Tapi ada satu hal yang kita lupa, bahwasanya banyak hal yang terjadi di luar ekspetasi kita, bahwasanya hidup itu tak selalu indah, dunia di luar sana lebih kejam dan tajam dari sebuah pisau yang baru saja diasah.

Hidup di rantau ibarat sedang meniti sebuah jembatan kecil yang kiri kanannya adalah jurang. Salah sedikit bisa jatuh. Lemah sedikit akan membuat perjalanan semakin lama. Terguncang sedikit bisa mengundurkan semangat kita.

Apa benar tanah perantauan sekejam itu? Yang jelas hidup bukan seperti Fairy Tale. Walaupun tanah rantau memang keras berkerikil, tapi dia mengajarkan kita banyak hal. Apa aku menyesal merantau ke Jerman? Dengan lantang dan tegasnya aku jawab tidak! Ini dia alasannya:

Advertisement

1. Mengajarkan kemandirian

Semua urusan dan pekerjaan dikerjakan sendiri. Tidak ada orangtua yang dulunya setiap saat bisa membantu kita. Di Jerman aku benar-benar tanpa satupun anggota keluarga. Tak heran kenapa aku selalu mengurusnya sendiri. Mulai dari ke kantor imigrasi, bank, menyewa dan mencari rumah untuk ditempati, melakukan pekerjaan rumah mulai dari memasak, mencuci dan belanja.

2. Lebih menghargai waktu

Waktu itu berharga, waktu itu adalah uang. Kita bakal lebih menghargai pertemuan. Saat berkumpul bersama orang yang kita sayang, seperti keluarga dan teman. Sebuah penyesalan mungkin datang, kenapa yaa dulu aku jarang menghabiskan waktu bersama mama, papa dan saudara? Kenapa sih lebih milih nongkrong bareng teman daripada sama adik-adik?

Dulu sesampai di rumah, mau makan tinggal ambil di meja, sudah disiapkan oleh mama. Tapi di rantau? Jarang makanan langsung tersedia. Mesti dimasak dulu.

Jika sakit biasanya ada mama papa yang siap menjaga, merawat kita. Tapi di rantau? Kita berharap jangan pernah sakit, karena mama dan papa tak ada disini.

3. Menghilangkan gengsi

Kerja part-time menyadarkan kita bahwa mencari uang itu memang susah. Dulunya enak tinggal minta mama papa apapun yang kita mau. Tak peduli harganya berapa, yang jelas kita tetap ingin memilikinya.

Setelah mencoba kerja part-time kita sadar, bahwa bekerja itu berat, uang itu susah dicari. Awalnya mungkin ada gengsi menghampiri. Bagaimana tidak? Pekerjaan yang tak pernah kita kerjakan sebelumnya, malah sekarang menjadi pekerjaan kita. Di Jerman apapun pekerjaan bakal kita lakukan demi melanjutkan hidup, asalkan itu masih pekerjaan halal.

4. Part time bagian jendela dunia

Sejak bekerja paruh waktu, banyak pengalaman yang kita dapatkan juga banyak ilmu yang kita peroleh. Sebagai mahasiswa perantauan, banyak pekerjaan yang pernah dicoba. Ada yang bekerja di pabrik coklat, pabrik biskuit, percetakan dan pabrik makanan pesawat. Bukan makanan untuk pesawat ya ini, tapi makanan yang kita makan di pesawat. Sejak bekerja di sana kita akan tahu, bagaimana makanan tersebut diolah dan diproduksi. Bagaimana proses distribusi, pengepakan dan banyak hal lainnya.

5. Keliling Eropa

Hal paling menarik yang bisa kita lakukan, yaitu jalan-jalan. Selain menghilangkan stress yang ada karena kuliah dan kerja, dengan travelling kita akan semakin bersyukur atas apa yang telah diberikan Sang Pencipta kepada kita. Salah satu keuntungan yang kita dapatkan jika di Jerman adalah, kita tidak perlu lagi mengurus Visa untuk berkeliling Eropa. Kapan saja kita bisa mengunjungi negara-negara yang ada di Eropa asalkan Visa Jerman kita masih berlaku ya.

Hidup memang berat, tapi beratnya hidup mengajarkan kita banyak hal. Hal buruk bisa saja terjadi selama kita hidup, tapi belum tentu semua yang buruk itu memang buruk untuk kita. Bahkan bisa jadi yang buruk itulah yang terbaik.