Budaya televisi hadir ketika kebiasan membaca belum tumbuh di tengah budaya dengar yang amat berakar. Kurang lebih demikian yang ditulis Heri Wardoyo dalam kumpulan esainya, Acropolis [Kerajaan Nalar]. Bagaimanapun, kita tidak bisa menafikan kebutuhan manusia untuk memvisualisasikan bacaannya, manusia butuh sesuatu yang real, sehingga gagasan-gagasan yang diterima dari proses membaca tidak mengambang di dalam kepala. Sebab itu, produk kebudayaan televisi – yang mengkombinasikan unsur visual dan audio sekaligus – lebih diminati dari pada kebiasaan membaca.

Munculnya beragam teknologi yang memungkinkan persebaran informasi secara luas, menjadikan manusia lebih memilih mendapatkan asupan “gizi” bukan lagi dari buku-buku, akan tetapi langsung dari teknologi digital yang memungkinkan penerimaan informasi lebih cepat. Mengapa demikian? informasi atau gagasan yang disampaikan media digital menggabungkan dua unsur – audio dan visual – sekaligus, sehingga penggambaran terhadap gagasan atau informasi itu sendiri menjadi lebih jelas. Sementara dengan membaca buku, informasi atau gagasan tidak bisa dicerna serta-merta, melainkan harus melewati suatu proses penerjemahan oleh otak yang biasa kita sebut dengan berpikir. Akibatnya, buku-buku akan semakin ditinggalkan dan manusia perlahan-lahan terjangkit penyakit “Malas Berpikir”.

Menurunnya – atau bahkan tidak tumbuhnya – budaya membaca di lingkungan masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor; Pertama, sejauh apa masyarakat mengenal kebisaan membaca. Proses pendistribusian buku-buku ke dalam lingkungan masyarakat tertentu, pola pembiasaan membaca sejak dini, serta seberapa penting kebiasaan membaca bagi masyarakat itu sendiri, tentu dapat kita kelompokkan dalam faktor pertama. Masyarakat suku yag menetap di pedalaman, misalnya, mungkin menganggap kebiasaan membaca tidaklah begitu penting – atau bahkan malah belum mengenal sama sekali – sebab pendistribusian buku-buku dari kota terbilang sulit atau bisa dibilang tidak ada.

Kedua, munculnya beragam teknologi yang memungkinkan persebaran informasi secara luas. Televisi, misalnya, tayangan-tayangan televisi yang cenderung menghibur, mampu menarik minat masyarakat yang jenuh dan bosan dengan bacaan-bacaannya. Informasi dan gagasan yang mudah dicerna menjadikan masyarakat lebih memilih televisi ketimbang buku-buku yang mesti melewati proses berpikir.

Bagaimanapun, membaca adalah sebuah sarana belajar bagi manusia. Maka dari itu, selain minat membaca yang tiada henti-hentinya mesti dipupuk, kualitas bacaan juga harus diperhatikan. Manusia menjaga kesehatan tubuhnya dengan mengkonsumsi makanan-makanan yang bergizi, demikian juga yang semestinya dilakukan masyarakat dalam menjaga kesehatan akal dan pikiran. Mengapa demikian? karena setiap bacaan mempengaruhi ideologi seseorang, perilaku seseorang, jalan pikiran seseorang. Sehingga, apabila bacaan-bacaan yang dikonsumsi tidak berkualitas, bisa jadi ideologi akan mudah sakit sakit, jalan pikiran akan sakit, perilaku juga akan sakit. Membaca, sejatinya merupakan salah satu upaya menjaga akal dan pikiran agar tetap sehat. Maka dari itu,teruslah membaca!

Advertisement