"Indahnya dunia jika pemudanya masih tahu akan arti dari sebuah perjuangan (Pramoedya Ananta Toer)"

Di kampus banyak sekali yang mengatakan bahwa ada perbedaan tentang mahasiswa aktivis dan mahasiswa akademis. Hal ini cukup menggelitik bagi saya, karena ada kesalahan konsep berpikir sehingga muncul statement di atas. Bagi saya tak ada istilah mahasiswa aktivis dan mahasiswa akademis, semuanya sama "mahasiswa".

Seorang mahasiswa tentunya dia yang tak hanya sekedar belajar di ruang kelas, namun dia yang berhasil menembus batas jendela-jendela kelas dan masuk ke dimensi lebih luas tentang arti dari sebuah tanggung jawab sosial yang melekat di dalam dirinya ketika berstatus sebagai seorang mahasiswa.

Betul memang, kita ada di kampus untuk melaksanakan tanggung jawab akademik sebagai prioritas utama yang pasti semua setuju akan hal ini. Orang tua menitipkan kita ke kampus untuk kuliah dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Bukankah begitu?

Mahasiswa adalah manusia merdeka yang bebas menentukan arah tujuan demi menggapai sebuah asa. Menurut banyak rekan yang "katanya" akademis adalah dia yang sibuk berkutat dengan kuliahnya, tapi bagi saya itu sangat bagus ketika mereka fokus terhadap akademik untuk bisa menggali sebanyak-banyaknya ilmu yang nantinya dapat bermanfaat dan dipakai dalam kehidupan bermasyarakat.

Advertisement

Tunggu dulu, mahasiswa yang fokus dengan akademiknya bukan berarti dia lupa dengan tanggung jawab sosialnya untuk hadir di dalam masyarakat. Mungkin mereka memendam segala gagasan dan setelah wisuda siap berkontribusi kepada masyarakat dengan masing-masing disiplin ilmu mereka. Mereka tentunya peduli dengan kondisi sosial ekonomi politik masyarakat namun mereka memilih dengan jalanya masing-masing dalam bergerak dan berkontribusi.

Mahasiswa yang "katanya" aktivis adalah dia yang selalu sibuk dengan organisasi dan kadang dianggap kuliah adalah prioritas nomor sekian. Mereka lebih memilih demo yang tidak jelas daripada melakukan penelitian. Tapi apakah makna dari aktivis seperti itu? tentu tidak.

Aktivis dalam hal ini tentunya mahasiswa yang sebenar-benarnya mahasiswa. Sebagai kaum intelektual ia sadar bahwa tanggung jawab akademik tentu beriringan dengan tanggung jawab sosial sehingga mereka memilih untuk berjalan beriringan. Jangan lupakan bahwa aktivis adalah kaum intelektual, dia membaca dia berdiskusi dan dia melakukan aksi demi sebuah perubahan.

Apakah yang katanya aktiivis identik dengan IP rendah dan lainya? Tidak juga. Banyak diantara aktivis adalah mahasiswa yang cukup menonjol di kelasnya, baik dari disiplin ilmunya atau bidang lain.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari premis diatas bahwa tak selamanya yang sibuk berkutat di dalam akademik melupakan tanggung jawab sosialnya. Dia tentu bergerak dengan jalannya sendiri dan kita tak bisa menyalahkannya, karena mereka merdeka untuk menentukan segala bentuk kontribusinya.

Jangan lupa juga bahwa tak selamanya aktivis selalu memprioritaskan kuliah adalah nomor sekian. Mereka tentu memprioritaskan tanggung jawab akademik menjadi yang utama, tapi mereka ingat ada tanggung jawab sosial yang melekat sebagai seorang mahasiswa dan karena itu mereka lebih memilih berkontribusi langsung tanpa harus menunggu wisuda, karena "ilmu di luar jendela ruang kelas jauh lebih banyak".