“Jangan tanya apa yang diberikan negara ini padamu, tapi tanyakan pada dirimu apa yang sudah kau berikan pada negara ini”-Jhon F Kenedy.

Oke, aku tau pertanyaan dan pernyataan diatas terlalu berat untuk kita jawab, karena kebanyakan dari kita sedang melihat berjuta kekacauan pada negara ini atau tanpa sadar menjadi oknum penyebab kacaunya negara ini; kita sering berkata dengan mudahnya tak ada harapan untuk bangsa ini, negeri ini hancur, egois, alamnya sudah mulai seperti mall, kita tak bisa melakukan apapun, semua bisa dibeli, semuanya bisa disuap!

Advertisement

Mari kita ganti dengan pertanyaan yang lebih ringan daripada quotes Bapak Kenedy, bagaimana kita sudah mempertanggungjawabkan apa yang sudah diberikan negara ini?

Kita mungkin tak pernah sadar atau mungkin tak pernah mau berterima kasih pada negara yang hancur ini untuk biaya sekolah yang disubsidi, banyaknya beasiswa yang mempermudah orang miskin meraih mimpinya, untuk banyaknya program kesehatan hingga kita bisa wara-wiri kamar operasi tanpa perlu merobek kantong lebih dalam, pada energi yang disubsidi agar hidup kita menjadi lebih mudah atau mungkin pada aspal didepan rumah kita yang tanpa kita sadari betapa menderitanya kita jika itu masih jadi serakan batu batu kerikil tajam.

Untuk mahasiswa, selain berdemo atas ketidakadilan yang ada. Atas banyaknya kelalaian pemerintah menanggulangi banyak masalah korupsi, kemiskinan dan ketidakadilan, terlebih lagi ocehan pedas manis soal Ahok VS Anies yang sedang viral di sosial media (padahal kita bukan warga Jakarta dan diprovinsi kita Gubernur yang butuh dukungan doa kita lupakan). Pernahkah kita berpikir untuk mempertanggungjawabkan subsidi biaya pendidikan yang diberikan negara ini hanya untuk mempersiapkan kita menjadi seorang penerus yang akan membawa kemajuan bagi negara ini? Negara ini merelakan sebagian pendapatannya hanya untuk mempersiapkan aku dan kamu menjadi seorang calon pemimpin dengan harapan kita akan membawa perubahan besar untuknya, menjadi penerus yang akan menjawab soal lemahnya pangan hingga banyak pangan yang tidak terdistribusi merata, menjadi penerus yang membawa keadilan di seluruh Indonesia agar Pancasila bukan hanya kalimat yang diucapkan setiap senin saat upacara bendera namun tersimpan rapi didada dan kita berjuang mengaplikasikannya, negara ini sedang mempersiapkan kita menjadi peneliti untuk mengatasi masalah penyakit yang setiap hari muncul jenis yang baru yang belum bisa dideteksi sebabnya dan obatnya, negara ini sedang mempersiapkan kita menjadi seorang penegak hukum yang tidak berorientasi kepada uang tetapi menghukum dengan adil tanpa memandang status sosial, negara ini ingin kita mengharumkan namanya di negara luar:lalu apa jadinya jika kita sibuk menuntut negara ini dan melalaikan tanggung jawab kita untuk belajar lebih keras lagi. Apa jadinya bangsa yang haus akan pemimpin anti korup ini jika dalam studimu saja kita masih menyontek dan titip absen? Apa jadinya jika negara yang sedang mempersiapkan kita menjadi emas yang kita tau memprosesnya butuh banyak dana tenaga lalu kita memilih kopi paste dan mengerjakan tugas dengan instan. Bukankah kita yang melukai negara kita? Bukankah kita salah satu penghancur negara ini? Bukankah negara yang kita katakan hancur ini akan jauh lebih hancur dengan adanya orang-orang seperti kita? Lalu, rantai kemiskinan tidak akan pernah putus saat generasi yang akan meneruskan posisi pemimpin adalah generasi dengan moral bobrok dan berantakan.

Advertisement

Lalu, mimpi menjadikan negara ini menjadi negara maju dengan sumber daya manusia yang mantap hanya akan menjadi mimpi. Negara ini memang paru-paru dunia, tapi..bukankah sebentar lagi status itu akan hilang jika kita sibuk menebangi hutan demi mengisi perut sejengkal ini? Jika kita membuang sampah dimanapun kaki menjejak apa Indonesia ini akan tetap indah permai? Jika kita hanya menjadikan momen jelajah alam sebagai momen foto-foto bukan momen bermeditasi untuk mensyukuri betapa dahsyatnya Tuhan kita. Kita bilang alam Indonesia mulai jadi tempat sampah, apa kontribusi kita untuk menghindarinya?

Kemudian, kita duduk dibangku ternyaman, didepan layar kaca, media cetak atau banyak media informasi dan komunikasi lalu sibuk mengomentari kegaduhan yang terjadi dinegeri ini, mengutuki pemerintah karena lalai mengerjakan tugasnya atau bahkan cuek pada apa yang terjadi di negara ini. Kita pikir memikirkan jutaan rakyat Indonesia itu mudah? Kita sibuk beropini,mengutuki pemimpin dan jajarannya sementara diperbatasan ada orang-orang (TNI) yang berjuang mempertaruhkan nyawanya siap mati kapanpun jika negara ini diserang hanya untuk mempertahankan keamanan negeri ini, ada marinir marinir yang berdiam dipulau-pulau kecil terpisah jauh dari keluarganya hanya untuk mempertahankan pulau-pulau milik Indonesia yang kita abaikan namun ketika negara asing mengklaim itu miliknya kita akan menyalahkan negara asing itu, pemerintah yang tak tegas atau bahkan.. ya kita selalu merasa benar. Kita mudah mengomentari kerja orang lain tanpa membayangkan bagaimana jika kita ada diposisinya. Apakah kita dapat menjamin jika kita duduk dibangku teratas negeri kita tak akan mencuri sepeserpun uang negara? Lalu kenapa kita sibuk melihat selumbar dimata orang lain,bukannya mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang berkarakter cinta Tuhan dan negara.

Mungkin kita harus mencintai negara ini beserta kehancurannya dan berniat untuk memperbaikinya, tak harus dengan berperang diperbatasan atau bahkan menjadi presiden. Lakukan dengan cara sederhana, kerjakan apa yang sudah dipercayakan padamu. Bersiap menjadi dokter yang berhasil menjawab masalah kesehatan di indonesia, jadi petani yang berhasil menjawab tantangan ketahanan dan kedaulatan pangan, jadi duta yang bisa bekerja sama dengan lembaga asing dan memengaruhi pasar internasional, jadi pemimpin yang melayani atau dibidang manapun kita sudah dipercayakan.

Mungkin hal sederhana yang kita lakukan adalah mendoakan negara ini dan pemimpinnya, mencintai lingkungan ini, belajar keras dan bersiap menjadi pemimpin selanjutnya. Aku percaya Tuhan tak akan mengurung niat baikmu, teman:)

Aku menulisnya dengan perenungan, tentu karena aku juga seorang penghianat yang tidak menghargai pemberian negaraku dengan baik. Aku mencintai negeriku, beserta kepingan patahnya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya