Doa adalah satu-satunya yang mampu menyelamatkan, ketika kapasitas kita sebagai manusia sudah mencapai level maximum bahkan hanya sekedar untuk menguatkan.

Kita semua tahu, manusia adalah makhluk yang paling ngeyel yang pernah ada di bumi. Terkadang kita memungkinkan segala hal yang notabennya kita tahu itu jelas-jelas tidak mungkin dilakukan sebagai manusia, tapi toh kita tetap 'keukeuh' melakukanya bahkan dengan berbagai cara.

Advertisement

Aku mengenal siapa itu waktu.

Dia memang terlihat teramat santai ketika jarumnya berdetak pelan, berpindah dari satu detik kedetik selanjutnya. Tapi dibalik itu ada ketegasan yang bukan main, tak bisa ditawar dan tergoyahkan. Dia memang memberi kebebasan untuk melakukan apapun, baik, buruk, bahkan kejam sekalipun dia tak mau tau itu semua, yang terpenting dia telah memberi kesempatan. Tapi tak ada kata pengulangan waktu. Jika memang bebas, mengapa sering kali kita terbata-bata saat menjawab pertayaan "pencapaian apa yang telah kau dapat semasa hidup? ".

Satu-satunya yang mampu melawan dia adalah yang menciptakannya, menciptakan kita dan semua makhluk yang ada. Ya, Dia lah zat yang mampu melakukan apapun, termasuk dalang dari semua skenario yang ada di muka bumi ini. Tanpa Dia izinkan daun pun takkan jatuh. Hari ini hujan turun dengan irama melow, tak ada kilatan cahaya yang memekakkan telinga, bahkan angin yang mampu mematahkan ranting pun tak nampak. Santai saja, meneteskan bulir airnya perlahan, sedikit disertai hembusan kecil angin yang mampu menenangkan jiwa.

Advertisement

Entah kenapa kini waktu seakan kehilangan tajinya, dia yang begitu wibawa dan super tegas kini bagai macan ompong.

Aku menduga ada konspirasi terselubung antara sang waktu dan hujan. Bagaimana tidak, yang ku tahu waktu begitu buas melahap apa saja yang tak mampu berjalan beriringan denganya, dia juga terkenal dengan ketegasan yang super tegas apapun yang melawan dia dipastikan jatuh dan tertinggal jauh dengan penyesalan.

Bukankah masa lampau bagian dari teritorial kekuasaannya?

Aku tak habis pikir mengapa dia membiarkan hujan seenaknya membawaku ke dimensi masa lalu. Ahhh sudah bisa di pastikan ini bentuk konspirasi terselubung. Setelah sedikit tersadar dari dimensi yang di bawa hujan. Aku mulai memandang pilu diriku sendiri. Sedikit berbincang mungkin lebih tepatnya mengutuk diri sendiri.

Hmm yah yah.. dari sudut pandang manapun aku tetap bersalah.

Aku ikhlas menerima ini, bukankah semuah pasti menuai balasanya? Terlebih kesalahanku bukan masuk zona kesalahan kecil dan itu pun ku lakukan berulang. Ada guratan garis di dahiku mengerenyik mungkin. Ketika ku tatap layar sentuh seukuran telapak tangan. Disana tercetak gambaran kolega-kolegaku. Wahh rupanya aku sudah banyak tertinggal. Waktu, tenaga, pikiran, sahabat, teman, kekasih, reputasi, dan karir telah banyak yang ku buang sia-sia. Mereka telah jauh melangkah kan kaki meninggalkanku disini merangkak dari lubang penyesalan.

Dengan sedikit terburu-buru kunaikan ujung celana jeans, aku berlari kecil meraih tempat yang lebih nyaman, setidaknya celanaku tak begitu basah mengingat perjalan pulang masih jauh. Tiba-tiba hujan menaikan frekuensinya, di ikuti dengan angin lalu kilatan cahaya. Bahkan mereka pun berbicara seakan tau segalanya!!!

Tuhan aku telah mencoba perbaiki semuanya walaupun sedikit demi sedikit. Kurajut kembali helai demi helai benang-benang silahturahmi. Dulu ku biarkan dirimu yang ku cinta menciptakan jarak dengan bebasnya, setapak demi setapak, kini akhirnya diriku tersesat kesulitan menemukan jejakmu lagi. Kau tau? Walau bagaimanapun kepergian akan selalu menimbulkan kesedihan, apapun alasanya. Tak mudah menemukanmu kembali dalam raga lain. Dan mustahil juga jika aku merengek "please god, i am going back to the start".

Jika kembali adalah hal yang mustahil, setidaknya siapapun itu beri aku jalan…

Serang, 2 Januari 2018

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya