Aku yang pernah menangisi kepergianmu, yang dengan sia – sia aku menghabiskan waktu hanya karena aku tak bisa memilikimu. Sekarang aku sesali. Aku yang pernah dengan kuat mempertahankan ini, lalu kau abaikan, kini aku sesali. Aku yang dulunya berjuang mencari kabar bahkan keberadaanmu saat itu yang telah menghilang menjauh tanpa jejak, saat ini aku sadari kesia-siaanku.

Aku yang sempat berharap kamulah satu-satunya pilihan terakhir, kini ku akui itu hanyalah ilusi. Aku yang sempat meminta dengan nada lirih sedikit memohon agar kau kembali. Rasanya terlihat mengemis. Rasanya itu tak perlu ku lakukan. Rasanya itu semua tak harus ku perjuangkan dari dulu. Untuk apa? Hanya untuk membuang waktu terbaikku.

Advertisement

Seharusnya aku bisa tersadarkan sejak dulu. Seharusnya, seharusnya dan seharusnya. Tapi tak apa. Terimakasih, ku ucapkan dengan tegas. Dengan caramu dulu, kini aku bahagia. Meskipun terkadang sakit rasanya dada ini, di saat kau tak pernah menoleh ke arahku. Dengan rasa yang semakin sakit, ternyata hatimu hanya untuk mencintai dia. Dia yang dengan tegas meninggalkanmu demi lelaki lain. Nampaknya drama ini lucu sekali.

Seperti skenario antara aku, kau, dia dan pilihannya. Cinta yang kutahu tak perlu sesakit ini, tak perlu sehumor ini, tak perlu serumit ini, bahkan tak perlu berharap seperti ini. Kau masih saja bergelut dengan cerita antara wanita pujaanmu dengan lelaki pilihannya, tak habis pikir, hatimu sangat keras. Dan sampai saat ini masih saja aku menangisimu, mengulang air mata menetes, seakan tanpa henti.

Seakan tanpa alasan. Bahkan seakan aku tak tahu bagaimana caranya menghentikan aliran ini, aliran air mata, aliran rasa, bahkan aliran darah yang sempat berhenti sejak kau tinggalkan. Ah ini berlebihan. Lupakan. Tapi? Tak semudah itu, aku masih kembali mengulang tangis itu. Masih mengingat itu dan semua itu tak mudah. Aku meminta waktu cepat berlalu, agar bisa dengan mudah melupakanmu.

Advertisement

Tapi sepertinya waktu masih ingin terus melihatku lebih kuat. Satu.. Dua.. Langkah maju.. Aku kembali menunduk. Rasanya ada yang hilang. Ku tatap kembali depan, mencoba melangkah. Tahap demi tahap langkah ku ayunkan kaki dengan harapan penuh namun ada yang luruh rasanya. Berat rasanya, seolah bayangan tertinggal di belakang namun keinginan berusaha menjauh. Maaf aku mencintai berlebihan, hingga saat kau telah pergi pun aku masih mencintaimu.

Masih dan akan masih. Harapan dulu itu memang akan ku kubur dan seharusnya aku buang. Namun jika kau tahu, itu tak semudah kau melangkah pergi, tak semudah kau memutuskan untuk menyakiti. Jika saja dirimu memiliki hati, air mata yang pernah kau lihat, air mata yang pernah terjatuh karenamu membuatmu merasakan hal yang sama. Tak apa, aku memahami perasanmu.

Memang benar betapa egoisnya jika aku masih saja tetap memaksa dirimu mencintaiku, urusanku hanya menjadi yang terbaik. Untuk terakhir kalinya aku memang harus menegaskan pada hatiku sendiri, penegasan yang menyatakan bahwa mencintai satu pihak itu lebih sakit daripada pengkhianatan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya