Hay, Nona. Apa kabarmu di sana? Aku tidak tahu apa kesibukanmu sekarang, yang kutahu hanyalah dulu kau begitu menakjubkan dari pandangan diriku. Hay, Nona. Mungkin kau telah bahagia di sana. Dengan keadaan baru, dengan suasana baru, dan juga orang-orang baru. Nona, aku tahu sekarang kau sudah bersama orang lain. Aku harap dia adalah orang yang benar-benar tepat untukmu.

Dulu, kau sangat indah bagiku. Beberapa kejadian yang sedikit melibatkan kita didalamnya sangat membekas dalam ingatanku. Kau tahu? Kadang saat hari-hariku tidak menarik, aku membayangkan kejadian yang pernah terjadi dulu, denganmu. Yah, walaupun aku yakin kejadian itu tidak berharga bagimu, tapi itulah salah satu momen yang selalu melekat dalam ingatanku, sampai sekarang.

Advertisement

Nona, kadang aku memikirkanmu di saat waktu senggangku. Memikirkamu adalah salah satu caraku untuk menikmati hidup, untuk menghargai hidup, dan untuk mensyukuri bahwa aku pernah hidup. Taukah kau, Nona? Hidupku dulu hanya berpathokan padamu. Karenamu, sepertinya banyak sekali waktu yang kusia-siakan hanya untuk kembali mengingat bagaimana wajahmu, bagaimana senyummu, iya kamu. Lalu apakah itu salahmu? Kurasa tidak, itu semua adalah salahku karena terlalu lama hanya memikirkanmu, merindumu, yang bahkan mungkin tak pernah terlintas sedikitpun pikiranmu tentangku.

Nona, ingatkah waktu kita pernah bergurau dulu? Iya, meskipun hanya sesekali saja kita bergurau dan itu selalu teringat di benakku, dulu. Melihat wajahmu bagaikan air ditengah gurun berdebu, membuatku candu. Melihat senyummu bagaikan siyphony di tengah orchestra, Indah dan mewah. Mendengar tawamu bagaikan mendengar suara keripik yang baru saja di angkat dari dalam minyak penggorengan, renyah

Nona, sekarang kamu ada di mana? Bagaimana harimu? Pernahkah kau sesekali mengingatku? Kurasa tidak, aku memang tidak pernah bisa masuk ke dalam singgasana kehidupanmu yang indah itu. Tetapi, bagiku melihat bagaimana megahnya singgasana itu kokoh berdiri sudah menjadi kebahagiaan sendiri buatku. Aku harap kau bisa nyaman di singgasana itu dengan kehidupan yang tepat, dengan panglima yang tepat, dengan ksatria yang tepat, dengan prajurit yang tepat, dan juga dengan Pangeran yang tepat.

Advertisement

Nona, izinkan aku berterima kasih padamu. Berterima kasih atas segala hal yang bisa aku dapatkan dari adanya dirimu dalam cerita kecilku, meskipun aku tidak yakin aku ada di dalam secuil dari besarnya ceritamu. Sekarang, aku sedang berusaha meninggalkan semua cerita itu. Meninggalkan bukan berarti melupakan lho, nona. Aku tidak akan bisa melupakan semua tentang ceritamu, melupakan senyummu, melupakan dirimu.

Terima kasih sekali lagi aku ucapkan. Doakan aku bisa menemukan orang yang bisa sedikit sepertimu. Tapi, mungkin aku berharap orang baru yang berbeda darimu, orang baru yang kuharap bisa sedikit membiarkan cerita kecilnya agar aku bisa masuk kedalamnya. Seseorang yang berbeda darimu atau mungkin juga bisa sepertimu.

Nona, Terima Kasih.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya