Dua hari lalu seorang teman bercerita: By the way, kemarin gue habis dari Bekasi, lho. Ternyata di sana masih kampung, ya. Banyak debu dan cuacanya panas banget. Padahal di Jakarta lagi hujan.

Lalu ada juga yang bilang: Kamu kalau mau ke Bekasi harus bawa air minum yang banyak, soalnya di sana kering kaya di gurun pasir. Sekalinya ada, airnya bau comberan, kotor dan mengandung zat kimia.

Ngehek! Mendengar cerita di atas saya gusar dan berusaha menjawabnya: Kamu ini aneh-aneh saja bilang Bekasi begini dan begitu. Soal hujan dan panas, ya tak ada kaitannya dengan cuaca di Bekasi. Mungkin ketika kamu berangkat dari Jakarta kondisinya memang hujan, dan setibanya di Bekasi kondisi tersebut sudah reda.

Lantas kenapa kalau di Bekasi airnya kotor? Memangnya di Jakarta tak lebih kotor?! Memangnya di Bekasi tak ada air galon dan PAM? Apa urusannya coba dengan air comberan? Toh di mana-mana air kotor tetap ada.

Sejak bertahun-tahun lalu, olokan tentang Bekasi semakin masif dan sering saya dengar, baik dari orang Jakarta atau ketika saya berkunjung ke luar kota. Lebih parah mereka menuliskannya dalam bentuk status di media sosial maupun gambar meme. Seakan Bekasi adalah wilayah bahan lelucon yang pantas dibenci dan diolok-olok.

Advertisement

Ujaran sejenis membuat saya teringat dengan pengalaman setahun lalu. Waktu saya mengawali kerja di koran Harian Lampu Hijau. Banyak orang menganggap koran ini sebagai koran kafir, yang bisanya cuma membuat judul sensasional nan fenomenal. Lebih dari 15 tahun, saya yakin para wartawan dan seluruh direksinya menderita beban kebencian.

Padahal jika dibaca, judul-judul itu bukan semata-mata sensasional yang hendak ditonjolkan, melainkan pendidikan pada kelas bawah agar waspada dalam setiap tindakan. Dan rasanya hanya itu esensi beritanya.

Namun yang muncul ke permukaan adalah koran ini dianggap banyak mudharat, ketimbang manfaat. Begitupun dengan isi berita, para pembenci menganggap bahasanya tak beretika serta sama sekali tak mendidik. Sungguh suatu pernyataan yang tidak benar dan tidak tepat.

Advertisement

Suatu ketika, bahkan saya pernah ditolak wawancara oleh seorang narasumber. Alasannya selalu tak masuk akal. Katanya masih sibuklah, hari ini ada pertemuan keluargalah, apalah, itulah dan alasan lain yang saya kira entah berantah. Namun di saat bersamaan, seorang juru tulis dari media lain bercerita:

"Kemarin saya habis wawancara si doi lho, orangnya baik dan sangat ramah. Beliau juga menyambut kedatangan saya dengan hangat. Lalu jawaban yang diberikan sangat bagus sehingga memuaskan redaksi kantor"

Berengsek! Mendengar cerita demikian membuat hati ini berasa remuk redam. Tulang belulang copot, dan emosi kian naik pitam. Jari manis bekas menggaruk pantat pun saya gigit sebagai ekpresi kesedihan.

Kondisi serupa juga terjadi ketika manajemen kantor merombak wilayah peliputan para wartawan. Saya yang tadinya di Jakarta berpindah tugas ke wilayah baru. Begitupun dengan yang lain. Selatan ke Timur, Timur ke Utara, Utara ke Barat dan Barat ke Selatan. Seperti biasa, tantangan pun dimulai. Mereka harus menjajaki tempat baru dan mengenali lingkungan sekitar.

Alkisah, salah satu percakapan di tempat baru kurang lebih begini:

P: "Dari mana, mas?"

S: "Saya dari Lampu Hijau!"

P: "Oh, kamu dari Lampu Hijau, ya? Yang isinya sex, cabul sama ulasan titit dan toket doang? Itu 'kan nggak mendidik masyarakat."

Diolok macam itu, saya kembali gigit jari. Saya membayangkan, betapa saat ini semakin banyak hama-hama jurnalisme kebencian, serta ruang stigma buruk yang kian melebar. Namun saya berusaha tenang dan hanya membalasnya dengan senyum.

Berjalanya waktu, saya teringat dengan kisah William Randolph dan Joseph Pulitzer yang menekankan redaksi Herald dan Sun untuk tetap berpatok pada akurasi fakta setiap peliputan. Meski keduanya berideologi Jurnalisme Kuning. Namun surat kabar keduanya dinilai paling jujur dan lebih bisa diandalkan ketimbang yang disangkakan orang.

Begitu pula dengan Bekasi. Beruntung beberapa komunitas pemuda setempat terus berkampanye agar para pengolok lebih mengenali wilayahnya. Bagi mereka, yang terpenting adalah berusaha meyakinkan pendatang supaya dapat menikmati tiap sudut Bekasi.

Seperti halnya orang-orang berkulit hitam lainnya, mereka lebih dulu berjuang menahan penderitaan yang sama atas kebodohan pengolok, namun mereka tetap tenang dan tidak membalas dengan kebencian.

Dan saya. Saya selalu mencintai Bekasi sebagaimana Iwan Fals menciptakan lagu Ujung Aspal Pondok Gede. Bagi saya, tanah Bekasi tetap menjadi kebanggaan sebagai kota besar dengan segala rupa keindahan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya