Saya percaya bahwa sebagian besar yang kita jalani dalam hidup ini adalah hasil dari pilihan kita sendiri, terlepas dari gender atau garis keturunan.

Masalah muncul ketika kita tidak bisa mengendalikan pilihan kita, lalu tidak mampu mempertanggunjawabkan pilihan itu. Kita seringkali dikendalikan oleh keadaan, bahkan untuk pilihan kita sendiri. Seringkali, kita sadar bahwa ada yang tidak sejalan dalam diri kita. Kita sering melakukan sesuatu, yang kita sadar betul bahwa itu salah, tapi tetap melakukannya. Seperti, tidak memiliki kendali pada diri sendiri, karena pasrah pada keadaan.

Advertisement

Kita seringkali sulit membedakan antara mampu dan mau, antara tidak sanggup dan enggan.

Salah satu masalah, yang saya amati ketika saya beranjak dewasa adalah betapa mengerikannya sistem pergaulan di kalangan orang-orang yang sudah bukan remaja.

Ketika saya remaja, saya rasa, pembatasan pergaulan tidak se-ekstrim ketika saya kuliah. Setidaknya, setidaksuka apapun seseorang pada kelompok murid tertentu, mereka tetap bisa bekerja sama untuk kepentingan kelas, dan kemudian berdamai setelah sadar bahwa bersatu itu indah.

Advertisement

Masa remaja adalah masa di mana kita melibatkan emosi dan perasaan, sulit dikendalikan memang, tapi, setidaknya, sisa-sisa keluguan dan kesucian masa kecil masih membekas. Setidaknya, remaja masih bisa diajak berpikir menggunakan akal sehat dan hati nurani.

Ketika SMA, teman-teman yang saling tidak suka, akan meluapkan emosinya berlebihan, bertengkar habis-habisan. Tapi setelah diceramahi guru BP, mereka bisa berdamai, bahkan, yang semula diam-diaman, jadi berteman. Segala beban telah tersalurkan, dan tidak ada gengsi berlebihan yang membuat mereka ogah untuk disatukan.

Jauh berbeda dengan pengalaman saya ketika kuliah. Orang-orang berubah jadi makhluk sosial yang sumpah mati tidak saya mengerti sama sekali. Banyak perangai teman-teman saya, yang terus terang silit saya pahami. Mereka keras dengan pendirian mereka, bahkan untuk sesuatu yang jelas salah. Setiap orang menunjukkan keegoisan dan sikap apatisnya masing-masing. Kumpulan mahasiswa yang tiga puluh orang, bisa dipecah menjadi sepuluh kelompok, artinya, ada tiga anggota untuk tiap pecahan. Sadar atau tidak, mereka membentuk kelompok sekecil mungkin, dan membangun pagar setinggi mungkin, yang tak tertembus kelompok lain.

Saya rasa, inilah, miniatur dari dunia yang sebenarnya. Dunia orang-orang dewasa yang sama sekali berbeda dengan dunia remaja, apalagi anak-anak. Di mana setiap orang menunjukkan sikap tidak netral yang ekstrim, sikap pilih-pilih pergaulan yang terang-terangan. Masing-masing punya standar nilai harga mati. Jika mereka tak suka sikap yang begini, mereka tak akan mau berhubungan dengan orang yang sikapnya begitu.

Saya, sebagai seseorang yang baru belajar menjadi orang dewasa, berusaha bersikap senetral mungkin. Tapi masalahnya, orang-orang netral kerap dituduh tidak punya pendirian, penjilat, bahkan pengkhianat. Saya yang baru belajar dewasa tak paham. Memang apa salahnya, berteman dengan semua orang? Toh, saya sendiri yakin bahwa diri saya punya filter, dan semua teman, menurut saya adalah baik. Saya selalu yakin pada orientasi positif saya.

Setiap orang memang berhak memilih, teman-teman saya juga berhak memilih sikap mereka, yang tidak netral, yang punya standar sendiri dalam berteman, yang terkotak-kotak itu. Itu pilihan mereka.

Meski saya mengatakan pada mereka, kita tidak boleh membatasi hubungan sosial, kemudian mereka tahu itu salah (mungkin tanpa diberitahu mereka juga sudah tahu), mereka tak berubah. Karena manusia bisa terjebak dalam pilihan yang dikendalikan arus. Mereka bilang, keadaan yang membuat mereka seperti itu. Keadaan dunia ini, dimana setiap orang harus diwaspadai, dimana masyarakat suka menghakimi kelompok tertentu, dan mereka ikut serta, mengikuti arus.

Jadi, sebagai orang yang sadar, bahwa kita harus punya kuasa terhadap pilihan kita sendiri, saya memilih untuk netral. Ya, tetaplah netral saat yang lain pilih-pilih pergaulan. Tetaplah netral, saat yang lain phobia pada pihak tertentu. Tetaplah netral, saat yang lain mengucilkan kelompok tertentu. Meski orang netral sering dituduh tak berpendirian, biarkan. Karena jika kita terus terpengaruh pendapat orang (yang tidak bermanfaat), maka kita akan terbawa arus, dan pilihan kita akan dikendalikan keadaan.

Jadilah orang yang punya pilihan, punya kendali pada hidup sendiri.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya