"Anak hukum itu kaku"

"Anak hukum jagonya debat"

"Anak hukum, ya? Calon Pengacara"

Kenalkan, aku salah satu mahasiswi hukum. Awalnya aku tak pernah menyangka bisa terdampar di fakultas hukum, namun kini aku bahagia dengan pilihan yang aku ambil. Dan aku tidak menyesal, sama sekali tidak menyesal menjadi seorang mahasiswi hukum.

Advertisement

Entah sudah berapa kali juga aku mendengar pertanyaan yang nyaris sama, pernyataan yang juga nyaris sama. Seperti ini:

"Sudah kuliah ya, nak? Ambil program studi apa?"

"Ilmu hukum, tante."

"Wah calon Pengacara ya kamu. Jangan sombong sama tante/om ketika sudah jadi pengacara nanti ya, nak"

Begitulah kira-kira rumpunan kalimat yang aku dapatkan, ketika menemani ibu berkumpul dengan teman-temannya. Atau ketika bertemu om, dan tante rekan ayah dan ibu ketika aku sedang berada di jalan. Nyaris sebal rasanya, kesal juga, bahkan sudah lebih dari kata bosan.

Siapa yang tak bosan, jika tiap bertemu selalu diberi kalimat yang nyaris sama bunyinya, bukan? Belum lagi anggapan mereka yang bilang kalau anak hukum pasti punya masa depan cerah (ya, karena calon pengacara). Anggapan yang sebenarnya tak bisa di bilang benar, namun juga tak bisa di bilang salah. Why? Karena tidak semua anak hukum, berakhir menjadi pengacara.

Advertisement

Ketahuilah wahai Om, Tante dan juga kalian semua…

Tidak semua anak hukum menjadi pengacara, karena tidak semua dari kami memiliki keinginan untuk itu. Jadi pengacara memang nampak menggiurkan. Namun ada beberapa hal yang kami selaku mahasiswi hukum pertimbangkan, ketika kami memutuskan untuk jadi seorang pengacara; alasan yang tak dapat kami tuturkan atau juga bagikan tentunya.

Ada banyak bidang yang bisa anak hukum kerjakan ketika lulus nanti. Mulai dari bekerja di perusahaan, perusahaan karena setiap perusahaan pasti membutuhkan orang hukum. Di pengadilan, atau di instansi-instansi lainnya. Karena memang banyak hal yang juga kami pelajari ketika kuliah di program studi ilmu hukum, di antaranya: logika hukum, pengantar hukum Indonesia, pengantar ilmu hukum dan masih banyak lagi yang lainnya.

Aku paling senang ketika dosen menugaskan kami untuk turut serta ikut dalam sidang terbuka di pengadilan karena melalui satu sidang saja banyak hal yang bisa kami pelajari, dan kami amati.

Prospek kerja luas, masa depan menjanjikan? Tentu tidak begitu, prospek kerja memang mungkin menjanjikan. Tapi jika masa depan cerah? Itu tergantung pada individu masing-masing: seberapa keras kita bekerja, dan berusaha.

Anak hukum itu kaku, dan nggak asik di ajak ngobrol. Lah, kata siapa? Kebanyakkan dari kami memang mungkin terlihat dingin, kaku, tertutup atau apalah itu anggapan kalian. Namun tidak begitu sebenarnya, kami sama layaknya kalian, layaknya mahasiswa lain. Cobalah ajak ngobrol kami, kenali kami, kami bahkan punya selera humor yang tak kalah tingginya dengan kalian.

Kami sebenarnya bukan sekumpulan orang-orang kaku, orang tertutup atau apalah itu. Kami sama layaknya kalian, maka jangan kalian segan, atau malah enggan berteman dengan kami. Kami di tuntut berpikir kritis, bukan jadi orang yang girang berdebat.

Bagi kalian yang juga beranggapan kami girang berdebat, atau suka berdebat, kami bukan girang berdebat, jika pun kami berdebat itu karena memang ada alasannya. Kami mahasiswa hukum yang dicerca, ditempa, juga dididik untuk jadi seseorang yang berpikir kritis, juga tidak malu mengutarakan pendapat. Kami pandai bicara, berdasarkan sumber. Jika kami bicara itu sesuai fakta, dan bukti yang ada.

Salam, Mahasiswa. Salam dari kami anak ilmu hukum, yang sering dianggap sombong dan berhati batu 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya